BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah kesehatan merupakan masalah
yang perlu ditangani sungguh-sungguh oleh semua pihak. Dalam kehidupan
sehari-hari manusia dan lingkungan selalu berinteraksi. Sehingga tidak menutup
kemungkinan untuk terkena penyakit akibat pengaruh lingkungan tersebut.
Dengue Hemorragic Fever (DHF) atau
biasa disebut demam berdarah dengue, sejak ditemukan pertama kali pada tahun
1968 sampai saat ini. Seringkali menjadi penyebab kematian terutama pada anak,
remaja dan dewasa. DHF telah menyebar ke hampir seluruh wilayah Indonesia dan
penderitanya cenderung meningkat dari tahun ke tahun. (Christantie Effendy
1995, Perawatan Pasien DHF,
Penerbit Buku EGC).
Angka kejadian di Indonesia
belakangan ini menurut data Dinas Kesehatan DKI, dalam 2 minggu ini tercatat
2007 orang terkena demam berdarah. Pada tahun 2004 demam berdarah mewabah di
Indonesia tercatat 20-640 orang terkena penyakit ini dan 90 orang diantaranya
meninggal, rata-rata kasus di Jakarta mencapai 26,17% dan rata-rata angka kematian
mencapai 0,43% (http://kompas% 2D
cetak/0501/14/metro/499585.htm.
DHF ditularkan melalui gigitan
nyamuk aedes aegypti. Nyamuk ini bersarang di bejana-bejana yang berisi air
jernih dan tawar seperti bak mandi, drum penampung air jernih, kaleng bekas dan
lainnya. Adanya vektor tersebut berhubungan dengan kebiasaan masyarakat
menampung air bersih untuk keperluan sehari-hari dan sanitasi lingkungan yang
kurang baik.
Dengan melihat angka kejadian di atas
penulis merasa tertarik untuk dapat lebih mendalami tentang penyakit Dengue
Hemorragic Fever (DHF) karena perawat sebagai bagian dari tim kesehatan
memiliki tanggung jawab untuk ikut serta dalam upaya penanganan DHF. Upaya yang
dapat dilakukan oleh perawat pada penderita DHF adalah memberikan asuhan
keperawatan yang optimal dan profesional kepada pasien yang menderita DHF dan
juga memberikan informasi pada keluarga dan masyarakat untuk mencegah
terjadinya DHF.
B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini
adalah:
1.
Untuk memperdalam pengetahuan
tentang DHF dan penerapannya pada kasus nyata di bangsal.
2.
Memperoleh pengalaman nyata
dalam merawat klien dengan konsep sesuai dengan konsep dasar yang diperoleh
selama belajar di kelas maupun literatur.
C. Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam
penyusunan makalah ini adalah:
- Studi kepustakaan
Mengambil beberapa literatur
sebagai sumber dan acuan teori dalam penulisan makalah mengenai DHF.
- Studi kasus
Penulis melakukan pengamatan langsung pada pasien DHF di
unit Yohanes melalui pengkajian, observasi serta intervensi keperawatan.
D. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah ini
dimulai dengan Bab I Pendahuluan yaitu berisi latar belakang, tujuan penulisan,
metode penulisan dan sistematika penulisan. Bab II terdiri dari tinjauan
teoritis yang meliputi konsep dasar medik yaitu definisi, anatomi fisiologi,
etiologi, patofisiologi, tanda dan gejala, test diagnostik, penatalaksanaan dan
komplikasi. Kemudian dilanjutkan konsep dasar keperawatan yang terdiri dari
pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan keperawatan, perencanaan pulang
dan diakhiri patoflodiagram. Bab II Pengamatan kasus yang terdiri dari
pengkajian, analisa data, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi. Bab IV pembahasan kasus lalu Bab V kesimpulan dan diakhiri dengan
daftar pustaka.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. KONSEP MEDIK
- Definisi
-
DHF (Dengue Haemorragic Fever)
Penyakit
menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui nyamuk aedes
aegypti (Demam Berdarah Dengue, Naskah Lengkap FKUI).
-
DHF adalah penyakit yang
disebabkan oleh virus dengue sejenis arbovirus dan masuk ke dalam tubuh
penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypti (Perawatan Pasien DHF, 1995).
- Anatomi dan Fisiologi
Darah adalah cairan di dalam pembuluh
darah yang mempunyai fungsi sangat penting dalam tubuh yaitu fungsi
transportasi (membawa nutrisi ke seluruh tubuh dan oksigen ke paru-paru
kemudian diedarkan ke seluruh tubuh).
Darah mempunyai 2 komponen yaitu pada
dan cair. Bagian padat terdiri dari eritrosit, leukosit dan trombosit. Komponen
padat merupakan 45% dari seluruh volume darah dan 55 % adalah plasma yang
termasuk komponen cair.
-
Eritrosit
Eritrosit dibuat di sumsum tulang
yang masih berinti, dalam pembentukannya dibutuhkan zat besi, Vit B12, asam folat, dan
rantai globulin yang merupakan senyawa protein. Pematangan eritrosit diperlukan
hormon eritropoetin yang diproduksi oleh ginjal. Umur peredarannya 105-120
hari. Eritrosit dihancurkan di limfa. Jumlah normalnya pada laki-laki 5,5 juta
sel/mm3 pada perempuan 4,8 juta sel/mm3.
-
Leukosit
Leukosit fungsi utamanya adalah
sebagai pertahanan tubuh dengan cara menghancurkan antigen (kuman, virus,
toksin) yang masuk. Ada 5 jenis leukosit
yaitu: neutrofil, eosinofil, basofil, limfosit, dan monosit. Jumlah normal
leukosit 5000-9000 /mm3.
-
Trombosit
Trombosit merupakan keping-keping
darah yang dibuat di sumsum tulang, paru-paru, limfa. Umur peredarannya hanya
10 hari. Trombosit mempunyai kemampuan untuk melakukan:
Ø Daya aglutinasi (membeku dan menggumpal)
Ø Daya adesi (saling melekat)
Ø Daya agregasi berkelompok)
Trombosit berfungsi sebagai pembekuan
darah dan penghentian perdarahan, begitu pula kerusakan dinding pembuluh darah
trombosit akan berkumpul di situ, dan menutup lubang kebocoran dengan saling
melekat, berkelompok menggumpal dan kemudian dilanjutkan dengan proses
pembekuan darah, jumlah trombosit 150.000-450.000 keping/mm3.
-
Plasma darah
Plasma merupakan bagian yang encer
tanpa sel-sel darah, berwarna kekuningan hampir 40% terdiri dari air. Struktur
dinding kapiler tersusun atas 1 lapisan uniseluler sel-sel endotelial dan di
sebelah luarnya dikelilingi membran dasar ada 2 jalan penghubung yaitu celah
intraseluler yang merupakan celah tipis diantara sel-sel endotelial. Tiap celah
ini diselingi sekelompok protein yang mengikat sel endotelial agar
bersama-sama. Celah tersebut berada di tepi endotelial, pada sel endotelial
terdapat juga banyak gelombang plasmalemal untuk menghambat paket plasma
kecil/cairan ekstraselular.
Proses pemindahan dan cairan melalui
difusi, zat-zat yang larut dalam lemak dapat berdifusi secara langsung melewati
dinding endotelial kapiler, zat yang larut dalam lemak terutama O2
dan CO2. Zat yang larut dalam air hanya dapat berdifusi melalui
pori-pori interseluler pada membran kapiler. Zat tersebut misalnya natrium,
klorida dan ari itu sendiri.
Tekanan dalam kapiler cenderung
mendorong cairan dan zat terlarutnya melewati pori-pori kapiler ke dalam ruang
interstisial, sebaliknya tekanan osmotik yang ditimbulkan oleh protein plasma
cenderung menimbulkan gerakan cairan osmosis dari ruang interstisial ke dalam
darah. Tekanan osmotik ini mencegah hilangnya volume cairan yang cukup bermakna
dari darah ke dalam ruang interstisial.
- Etiologi
Virus dengue yang ditularkan kepada
manusia melalui gigitan nyamuk aedes aegypti, aedes albopictus dan aedes
polinesiensis merupakan vektor yang kurang berperan.
- Patofisiologi
Virus dengue masuk ke dalam tubuh
manusia melalui gigitan nyamuk aedes aegypti, berkembangnya virus dalam darah
dapat menyebabkan viremia yang ditandai dengan demam, sakit kepala, mual, nyeri
otot, pegal seluruh tubuh ruam pada kulit (petechie), hiperemia tenggorokan dan
mungkin terjadi pembesaran kelenjar getah bening hepatomegali dan pembesaran
limfe. Adanya ikatan virus, antibodi dalam sirkulasi, darah akan mengakibatkan
trombosit menurun dan akan terjadi gangguan fungsi trombosit, kerusakan
trombosit akan dimusnahkan oleh RES seperti pembesaran kelenjar getah bening,
hati dan limfa mengakibatkan penurunan trombosit sehingga terjadi perdarahan.
Terdapatnya kompleks antibody dalam
sirkulasi darah mengakibatkan terjadinya aktivasi faktor hagemen. Faktor VIII
akan terjadi pelepasan zat anafilatoksin. Histamin dan serotonin yang merupakan
mediator sebagai faktor meningkatkan permeabilitas pembuluh darah sehingga
terjadi pemindahan plasma dari intravaskuler ke ekstravaskuler. Hal ini
menyebabkan kurangnya volume plasma terjadi hipotensi, hemokonsentrasi,
hipoproteinemia, serta efusi dan renjatan (syok). Hemokonsentrasi (peningkatan
hematokrit > 20%) menunjukkan atau menggambarkan adanya kebocoran plasma.
Berkurangnya volume plasma mengakibatkan hipovolemik yang dapat berakibat,
anoksia jaringan asidosis metabolik, dan syok yang menimbulkan kematian.
Gangguan hemeostatis pada DHF
menyangkut 3 faktor yaitu perubahan vaskuler, trombositopenia dan gangguan
koagulasi. Terjadinya trombositopenia karena trombosit mengalami kerusakan
metamorfosis sehingga dimusnahkan oleh RES yang mengakibatkan trombositopenia
hebat dan perdarahan, kelainan sistem koagulasi antara lain disebabkan oleh
kerusakan hati.
- Tanda dan gejala
-
Masa tunas 8-15 hari, pada
umumnya 5-8 hari, gejala prodormal meliputi:
·
Nyeri kepala
·
Nyeri berbagai bagian tubuh
·
Anoreksia
·
Menggigil
·
Malaise
-
Pada umumnya ditemukan sindrom
trias
·
Demam tinggi
·
Nyeri anggota badan
·
Timbul ruam
-
Ruam terdapat di dada, tubuh,
abdomen dan menyebar ke anggota gerak
-
Uji tourniquet (+), ptekie,
purpura, ekimosis, perdarahan konjungtiva, epistaksis, perdarahan gusi,
hematemesis, melena, hematuri, hepatomegali
-
Trombositopeni, Ht meningkat
-
Shock kulit dingin, lembab,
gelisah, nadi kecil, cepat lemah, TD rendah.
Kriteria WHO
Derajat I :
demam, test rumpled (+)
Derajat II :
derajat I ditambah perdarahan spontan
Derajat III : nadi cepat, lemah, hipotensi, akral
dingin, gelisah
Derajat IV : shock, nadi tidak teraba, TD rendah
- Pemeriksaan Diagnostik
-
Uji tourniquet
-
Test laboratorium
·
Trombositopeni
·
Hemoglobin meningkat > 20%
·
Hematokrit meningkat
·
Hasil pemeriksaan kimia darah
menunjukkan: hipoproteinemia, hiponatremia, hipokalemia
-
IgM hari ke-5 meningkat à hari kelima sampai 3 minggu,
menghilang 60-90 hari.
-
IgG mulai hari ke-14 pada
infeksi sekunder hari ke-2.
-
Radiologi: pada thorax foto
didapatkan efusi pleura, terutama pada hemithorax kanan tetapi apabila terjadi
pembesaran plasma hebat efusi pleura dijumpai pada kedua hemithorax.
- Penanganan Medik
-
Tirah baring atau istirahat
-
Diet makan lunak TKTP
-
Pemberian obat antibiotik dan
antipiretik
-
Minum banyak (2-2,5 liter/24
jam) dapat berupa susu, teh manis, pemberian cairan merupakan hal yang penting
bagi penderita DHF).
-
Pemberian cairan intravena
(ringer laktat, NaCl)
-
Monitor tanda-tanda vital tiap
3 jam (suhu, nadi, tensi, pernafasan) jika kondisi pasien memburuk observasi
ketat tiap jam.
- Komplikasi
-
Efusi pleura
-
Cardiomegali
-
Edema paru
-
Gagal ginjal bila shock tidak
teratasi
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
- Pengkajian
a.
Pola persepsi kesehatan dan
pemeliharaan kesehatan
-
Kebersihan lingkungan tempat
tinggal
-
Kebersihan tempat penampungan
air
-
Apakah ada yang terkena demam
berdarah di keluarga dan tempat tinggal
b.
Pola nutrisi metabolik
-
Mual, muntah, anoreksia
-
Kebiasaan makan sebelumnya
-
Demam, bibir dan mukosa kering
-
Kemampuan menghabiskan makan
sebelumnya
c.
Pola eliminasi
-
Kebiasaan BAK dan BAB
sebelumnya
-
Abdomen tegang
-
Melena
d.
Pola aktivitas dan latihan
-
Badan lemas
-
Penurunan kemampuan
beraktivitas
-
Lemah, lesu
e.
Pola tidur dan istirahat
-
Gangguan tidur karena demam
-
Gelisah
f.
Pola persepsi sensori dan
kognitif
-
Nyeri otot, sendi, ulu hati
-
Pusing, sakit kepala
g.
Pola persepsi dan konsep diri
-
Gangguan body image
-
Kecemasan
h.
Pola mekanisme koping dan
toleransi terhadap stres.
-
Kecemasan
i.
Pola peran dan hubungan sesama
-
Peran dalam keluarga dan
lingkungan
- Diagnosa Keperawatan
a.
Risiko kekurangan volume cairan
dan elektrolit berhubungan dengan metabolisme tubuh.
b.
Hipertermi berhubungan dengan
infeksi virus.
c.
Perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia.
d.
Risiko terjadinya perdarahan
b.d penurunan trombosit.
e.
Risiko shock hipovolemik
berhubungan dengan perdarahan hebat.
f.
Intoleransi beraktivitas
berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah.
- Perencanaan Keperawatan
a.
Kekurangan volume cairan dan
elektrolit berhubungan dengan perpindahan cairan intravaskuler ke
ekstravaskuler.
HYD: Cairan
dan elektrolit dapat terpenuhi selama perawatan.
Rencana
tindakan:
1)
Observasi keadaan umum (turgor
kulit, palpebrae)
R/ Identifikasi adanya
kekurangan cairan.
2)
Kaji TTV (suhu, nadi, TD) tiap
4 jam.
R/ Identifikasi adanya
perubahan tanda-tanda vital.
3)
Hitung balance cairan tiap 4-6
jam.
R/ Identifikasi kekurangan
volume cairan.
4)
Berikan minum 2-2,5 liter/24
jam.
R/ Memenuhi cairan yang hilang
karena metabolisme tubuh.
5)
Kolaborasi dengan dokter untuk
pemberian therapi cairan dan cek serum elektrolit.
R/ Membantu pemenuhan
kebutuhan cairan dan elektrolit.
b.
Hipertermi berhubungan dengan
infeksi virus.
HYD: Suhu
tubuh dapat kembali normal selama 2-3 hari berturut-turut.
Rencana
tindakan:
1)
Observasi suhu tiap 3 jam.
R/ Mengidentifikasi adanya
perubahan suhu.
2)
Beri kompres hangat dan dingin
bila suhu > 38oC.
R/Kompres dingin membantu mengkonduksi suhu ke dalam tubuh, kompres
hangat memberi rasa nyaman dan mendilatasi sehingga suhu panas tubuh
terevaporasi keluar.
3)
Berikan minum 2-2,5 liter/24
jam bila tanpa kontraindikasi.
R/ Menggantikan cairan yang
hilang karena metabolisme tubuh.
4)
Anjurkan menggunakan pakaian
tipis.
R/ Membantu proses evaporasi.
5)
Anjurkan klien untuk membatasi
aktivitas.
R/ Aktivitas berlebih
meningkatkan metabolisme tubuh.
6)
Kolaborasi medik untuk
pemberian antipiretik.
R/ Pemberian antipiretik
merangsang hipotalamus pada termostat untuk menurunkan panas.
c.
Perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia.
HYD: Kebutuhan
nutrisi terpenuhi ditandai dengan BB tidak turun, mual, muntah, tidak ada
selama 3-5 hari perawatan.
Rencana
tindakan:
1)
Observasi keadaan umum (mual,
muntah, anoreksia).
R/ Identifikasi adanya
gangguan nutrisi.
2)
Berikan makan porsi kecil tiap
3 jam.
R/ Mengurangi mual dan
meningkatkan minat untuk makan.
3)
Hidangkan makanan hangat dan
menarik.
R/ Meningkatkan minat pasien
untuk makan.
4)
Libatkan keluarga untuk
mensupport klien.
R/ Kehadiran dan dukungan
keluarga meningkatkan motivasi klien.
5)
Ajarkan teknik relaksasi.
R/ Teknik relaksasi
menstimulasi hormon untuk menghambat
mual.
6)
Kolaborasi medik untuk pemberian
anti muntah.
R/ Pemberian anti muntah
merangsang hipotalamus untuk menghambat reaksi muntah.
d.
Risiko terjadinya perdarahan
berhubungan dengan penurunan trombosit.
HYD: Tidak
terjadi perdarahan dan jumlah trombosit meningkat selama 5 hari perawatan.
Rencana
tindakan:
1)
Observasi TTV dan keadaan umum.
R/ Untuk mengetahui secara
dini perubahan tanda-tanda vital.
2)
Observasi TT perdarahan
(epistaksis, hematemesis, melena).
R/ Indikasi terjadinya
perdarahan.
3)
Anjurkan membatasi aktivitas.
R/ Aktivitas berlebih meningkatkan
resiko perdarahan.
4)
Jauhkan dari risiko trauma
(berikan sikat gigi yang lembut, gunting kuku).
R/ Meminimalkan risiko
perdarahan.
5)
Perhatikan asupan nutrisi.
R/ Nutrisi mengandung zat-zat
yang dibutuhkan bagi perbaikan permeabilitas kapiler.
6)
Kolaborasi dokter untuk
pemberian cairan infus anti perdarahan dan cek lab.
R/ Infus mengganti cairan
melalui parenteral, cek lab mengetahui sejauh mana risiko perdarahan.
e.
Risiko tinggi terjadi syok
hipovolemik berhubungan dengan perdarahan hebat.
HYD: Tidak
terjadi syok hipovolemik yang ditandai dengan TTV dalam batas normal, keadaan
umum baik, selama 5 hari perawatan.
Rencana
tindakan:
1)
Kaji keadaan umum.
R/ Indikator perubahan status
kesehatan klien.
2)
Kaji tanda-tanda vital tiap 2
jam.
R/ Mengetahui secara dini tiap
perubahan klien.
3)
Kaji tanda-tanda perdarahan.
R/ Identifikasi sejauh mana
akan terjadi syok.
4)
Istirahatkan klien.
R/ Meminimalkan risiko terluka
yang mengakibatkan perdarahan.
5)
Catat intake dan output.
R/ Mempertahankan keseimbangan
cairan.
6)
Berikan transfusi sesuai dengan
program dokter.
R/ Untuk mengganti volume darah serta komponen
darah yang hilang.
f.
Intoleransi beraktivitas
berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah.
HYD: Pasien
dapat beraktivitas secara bertahap dalam waktu 3 hari perawatan.
Rencana
tindakan:
1)
Kaji keluhan pasien.
R/ Untuk mengidentifikasi
masalah-masalah pasien.
2)
Bantu pasien dalam memenuhi
kebutuhan.
R/ Pemberian bantuan sangat
diperlukan oleh pasien terutama kondisinya lemah.
3)
Mengkaji hal-hal yang mampu dan
tidak mampu dilakukan oleh pasien.
R/ Untuk mengetahui tingkat
ketergantungan pasien dalam memenuhi kebutuhannya.
4)
Meletakkan barang-barang yang
mudah terjangkau oleh pasien.
R/ Akan membantu pasien dalam
memenuhi kebutuhannya.
5)
Dekatkan bel pada pasien.
R/ Agar pasien dapat segera
meminta bantuan pada perawat bila pasien membutuhkannya.
- Perencanaan Pulang
a.
Gerakan 3 M
-
Menguras bak mandi, tempayan
dan tempat penampungan air setiap minggu.
-
Menutup rapat-rapat penampungan
air.
-
Mengubur/menyingkirkan barang
bekas dan botol-botol pecah yang memungkinkan nyamuk bersarang.
b.
Menggunakan insektisida dengan
pengasapan atau pengabutan.
c.
Dengan cara penggunaan temephos
(abate) ialah dengan pasir abate ke dalam sarang-sarang nyamuk aedes yaitu
bejana tempat penampungan air bersih.
d.
Mencegah gigitan nyamuk dengan
cara memakai obat gosok maupun pemakaian kelambu.
e.
Kewaspadaan tanda DHF à lapor RT/RW.
C. Patoflowdiagram
Virus Dengue à Masuk dalam tubuh manusia
|
|||
|
|||
|
|||||
![]() |
Syok
|
|||
|
![]() |
Kematian
BAB III
PENGAMATAN KASUS
Pengamatan kasus dilakukan pada Ny. N umur 38 tahun
beragama Islam masuk ke PK Sint Carolus pada tanggal 31 Juli 2005. Dirawat di
unit Yohanes kamar 202-3 dengan diagnosa medis observasi Fibris. Keluhan utama
saat masuk yaitu 2 hari yang lalu pasien merasa badan panas disertai mual,
muntah, badan lemas sudah berobat ke klinik namun tidak membantu, lalu pasien
dibawa ke UGD oleh keluarga.
Pengkajian dilakukan pada hari ke-3 tanggal 2 Agustus
2005. Adapun data yang ditemukan sebagai berikut: keadaan umum tampak sakit
sedang, kesadaran kompos mentis, mobilisasi di tempat tidur terpasang infus
2000 cc/24 jam/kolf di lengan kiri. Observasi TTV 130/90 mmHg, N; 72 x/menit,
S: 36oC, pernafasan 18 x/menit. Pasien mengatakan perut terasa mual
dan ingin muntah, badan terasa lemas, mukosa mulut tampak kering BB: 50 kg, TB
154 cm, IMT: 21,09 kg/m2.
Dari hasil pemeriksaan laboratorium yaitu pemeriksaan
darah rutin pada tanggal 1 Agustus 200, Hb: 13,6 g/dl, Ht: 41%,leukosit
6400/ul, trombosit 16.000/ul.
Adapun terapi yang didapat oleh pasien yaitu Inpepsa
3x15 cc, Baquino 2x500 mg, Paracetamol 3x1 tablet, Pumpitor 3x1 tablet, Lesivit
3x1 tablet. Diit lunak masalah yang ditemukan pada pasien adalah resiko
kekurangan volume cairan, resiko tinggi terjadi syok hipovolemik dan risiko
perubahan nutrisi kurang diri kebutuhan tubuh.
Perencanaan tindakan disesuaikan dengan teori dan
masalah yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien antara lain mengobservasi TTV,
mengkaji keadaan umum dan keluhan pasien, memberikan cairan parenteral sesuai
dengan program dokter, mengambil darah vena untuk pemeriksaan laboratorium: Hb,
Ht, leukosit dan trombosit memonitor intake dan output memberi makan TKTP,
memberi penyuluhan mengenai manfaat cairan dan nutrisi dan memberi terapi
sesuai program dokter.
BAB IV
PEMBAHASAN
Berdasarkan pengamatan kasus yang dilakukan selama 1
hari, tanggal 2 Agustus 2005, pada Ny. N 38 tahun, dengan diagnosa DHF.
Didapatkan adanya perbandingan antara teori literatur dan pengamatan langsung
terhadap kasus di lapangan praktek, hal ini akan dijabarkan sebagai berikut:
A. Pengkajian
Dari hasil pengkajian pada Ny. N
didapat tanda dan gejala seperti badan terasa lemas, nafsu makan berkurang,
mual dan ingin muntah, tanda dan gejala ini sesuai dengan teori, dan didapatkan
informasi dari klien karena jarang membersihkan atau jarang menguras kebersihan
di kamar mandi seperti bak mandi. Dari hasil laboratorium didapat trombosit
yang menurun, sedangkan panas atau demam tidak ditemukan pada pasien.
B. Diagnosa Keperawatan
Pada teori terdapat 6 diagnosa
keperawatan dan yang ditemukan pada Ny. N saat pengkajian ada 5 yaitu:
kekurangan volume cairan b.d perpindahan cairan intravaskuler ke
ekstravaskuler, risiko terjadinya syok hipovolemik b.d perdarahan hebat,
masalah ini diangkat karena jumlah trombosit 16.000 /ul, risiko terjadinya
perdarahan b.d trombositopenia masalah ini diangkat karena jumlah trombosit/ul.
Intoleransi beraktivitas b.d penurunan trombosit, masalah ini diangkat karena
adanya pembatasan aktivitas dari perawat dan kebutuhan pasien sebagian masih
dibantu, risiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual, muntah,
anoreksia, masalah ini diangkat karena saat pengkajian pasien masih ada mual
dan saat mengobservasi makan pagi habis ½ porsi dan makan siang habis ¾ porsi.
Hipertermi b.d metabolisme tubuh tidak diangkat karena saat pengkajian selama
satu hari tidak terjadi peningkatan suhu tubuh.
C. Perencanaan Keperawatan
Rencana keperawatan yang diberikan
pada pasien mengacu pada referensi yang
berkaitan dengan penyakit DHF dan juga kebutuhan pasien itu sendiri.
D. Pelaksanaan Keperawatan
Dalam melaksanakan asuhan keperawatan
disesuaikan dengan rencana yang dibuat pada diagnosa. Pada DP1: memberi cairan,
kolaborasi dengan dokter, memberi cairan melalui oral dan mengobservasi TTV dan
balance cairan. DP2: mengobservasi TTV, keadaan umum: akral, perfusi cyanosis,
DP3: mengobservasi TTV, tanda-tanda perdarahan, memperhatikan tusukan dan
tetesan infus. DP 4: membantu kebutuhan pasien yang tidak dapat dilakukan,
menganjurkan banyak istirahat atau tirah baring, DP5: Membantu pasien dalam
pemenuhan nutrisi, menjelaskan manfaat nutrisi bagian tubuh, mensupport klien
agar dapat meningkatkan nafsu makan.
E. Evaluasi
Setelah dilakukan pengamatan dan
pelaksanaan pada pasien selama sehari dapat dievaluasi masalah kekurangan
volume cairan dan elektrolit rencana pemberian cairan parenteral dan peroral
masih diteruskan karena balance cairan –100 cc. Masalah risiko tinggi terjadi
syok hipovolemik rencana masih diteruskan dan diobservasi ketat, masalah risiko
perdarahan, rencana masih terus dilakukan seperti memantau nilai trombosit,
intoleransi beraktivitas rencana masih diteruskan membantu kebutuhan klien yang
tidak bisa dilakukan. Risiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
belum teratasi dan rencana pemberian nutrisi masih terus diteruskan.
BAB V
KESIMPULAN
Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit menular yang
disebabkan oleh virus dengue, masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan
nyamuk aedes aegypti. Nyamuk ini biasanya bersarang di bejana-bejana yang
berisi air jernih, seperti bak mandi, drum penampung, kaleng bekas dan lainnya
dan sanitasi lingkungan yang kurang baik.
Sama halnya yang dialami Ny. N menyebabkan terserang
penyakit mungkin dikarenakan jarang membersihkan lingkungan khususnya di tempat
penampungan air karena nyamuk biasanya tinggal di tempat gelap dan tempat
penampungan air dan barang-barang bekas, maka bila penyakit demam berdarah ini
tidak ditangani secara lanjut bisa menyebabkan komplikasi lebih lanjut yaitu
efusi pleura cardiomegali edema paru gagal ginjal, syok bahkan sampai kematian.
Tindakan keperawatan yang perlu diperhatikan pada pasien
ini adalah menganjurkan pasien agar banyak istirahat, memenuhi kebutuhan cairan
dan nutrisi mengobservasi TTV dan meningkatkan kebersihan diri dan lingkungan.
Dan memberikan penyuluhan tentang kebersihan lingkungan meninggalkan kebiasaan
menggantung baju, memberantas sarang nyamuk seperti menguras bak mandi, menutup
rapat penyimpanan air, mengubur barang atau kaleng yang tidak dipakai.
Diharapkan dengan penyuluhan ini masyarakat dapat mempertahankan kebersihan
lingkungan dan kebersihan sendiri demi meningkatkan kesehatan kita sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Augustinus A.S (1998). Struktur
dan Fungsi Tubuh Manusia. STIK Sint. Carolus. Jakarta.
Christantie Effendy (1995). Perawatan
Pasien DHF. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Guyon & Hall (1996). Text Book
of Medical Physiologi. Ahli Bahasa Irawati Setiawan (1997). Buku Ajar
Fisiologi Kedokteran. Jakarta. EGC.
Mansjoer Arif M (2001). Kapita
Selekta Kedokteran. Media Aesculapius FKUI. Jakarta.
Noer Sjaifoellah (1999). Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 1 Edisi 3 FKUI Jakarta.
Sri Rezeki. H. Hadinegoro (1999). Demam
Berdarah Dengue. FKUI. Jakarta.
World Health Organization (1999). Dengue
Haemorrhagic Fever. Diagnosis, treatment, Prevention and Control. Ahli
Bahasa Monica Ester. Demam Berdarah Dengue: Diagnosis, Pengobatan,
Pencegahan dan Pengendalian. Jakarta EGC.
E. C. Patoflowdiagram
|
Panas 2-7 hari
|
Perdarahan spontan (+)
|
|
|
|
||||||
![]() |
||||||
|
||||||
|
||||||



Tidak ada komentar:
Posting Komentar