Selasa, 09 Agustus 2016

PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS)



PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS)

a.      Pengertian perilaku
Menurut Maulana  (2009) perilaku dilihat dari dua segi yang terdiri dari segi biologis dan segi psikologis. Dari segi biologis perilaku merupakan suatu kegiatan atau aktifitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Perilaku (manusia) adalah semua tindakan atau aktifitas manusia yang baik dapat diamati langsung maupun yang tidak diamati oleh pihak luar. Sedangkan dari segi spikologis perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Pengertian itu dikenal dengan teori S.O.R (stimulus organisme respon). Perilaku sehat adalah pengetahuan, sikap, dan tindakan proaktif, melindungi diri dari ancaman penyakit, serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat (Depkes RI 2008).
Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus perilaku dapat dibedakan menjadi dua, antara lain: Notoadmodjo 2007)
1)    Perilaku tertutup (cover behavior)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung dan tertutup (cover). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat dialami secara jelas oleh orang lain misalnya: seorang anak tahu pentingya cuci tangan sebelum makan, seorang pemuda tahu bahwa Narkobah dapat berdampak negatif terhadap kesehatanya.
2)     Perilaku terbuka (covert behavior)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktik (praticte), yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain, misalnya: anak sekolah memeriksakan kesehatan giginya, penderita TB paru minum obat secara teratur.
b.      Faktor yang mempengaruhi perilaku
Menurut Lawrance Green (1980) dalam Notoadmodjo (2007). Ada tiga factor yang menyebabkan mengapa seseorang melakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yaitu:
1)   Faktor pemudah (predisposing faktor)
Faktor ini mencakup pengetahuan dan sikap dan sikap anak-anak terhadap perilaku hidup bersi dan sehat (PHBS). Dimana faktor ini menjadi pemicu (antarsenden) terhadap perilaku yang menjadi dasar atau motifasi bagi tindakanya akibat tradisi, kebiasaan kepercayaan, tingkat pendidikan dan tingkat sosial.
 2)   Faktor pemungkin (enambling faktor)
Faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat, lingkungan fisik misalnya: air bersih, tempat pembuangan sampah, tempat pembuangan tinja, ketersediaan makanan yang bergisi, dan sebagainya, termasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti: puskesmas, rumah sakit, poliklinik. Posyandu, polindes, pos obat desa, dokter atau bidan praktik swasta, dan sebagainya. Untuk perilaku sehat, masyarakat memerlukan sarana dan prasarana pendukung untuk berperilaku sehat masyarakat memerlukan sarana dan prasarana pendukung. Fasilitas ini pada hakikatnya mendukung atau memungkinkan terwujudnya perilaku hidup bersi dan sehat (PHBS)
3)   Faktor penguat (reinforcing faktor)
Faktor yang menentukan apakah tindakan kesehatan memperoleh dukungan atau tidak. Faktor ini terwujud dalam sikap dan perilaku pengasuh anak-anak atau orang tua yang merupakan toko yang dipercaya atau dipanuti anak-anak. Contoh pengasuh anak-anak memberikan keteladanan dengan melakukan cuci tangan sebelum makan atau selalu minum air yang suda dimasak.  Maka hal ini akan menjadi penguat untuk perilaku hidup bersih dan sehat bagi anak-anak
 c.       Perilaku kesehatan
Perilaku kesehatan adalah suatu aktifitas dilakukan oleh indifidu yang meyakini dirinya sehat untuk tujuan mencegah penyakit atau mendeteksinya dalam tahap ansimtomatik perilaku kesehatan merupakan suatu person seseorang terhadap stimulus (rangsangan) atau obyek yang berhubungan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan dan minuman serta lingkungan (Maulana 2009)
Berdasarkan batasan perilaku dari teori Skinrer, maka perilaku teori skiner, maka perilaku kesehatan, merupakan suatu respon seseorang terhadap stimulus atau obyek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, system pelayanan kesehatan makanan dan minuman serta lingkungan dari batasan ini, perilaku kesehatan dapat diklarifikasikan menjadi tiga kelompok: (Notoadmodjo  2007)
1)      Perilaku pemeliharaan kesehatan
Perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk menyembukan bila sakit. Oleh karena itu, perilaku pemeliharahan kesehatan terdiri dari tiga aspek yaitu:
a)      Perilaku pencegaan penyakit dan penyembuhan penyakit dan penyembuhan penyakit, serta pemulihan kesehatan dari penyakit.
b)      Perilaku peningkatan kesehatan, apabila individu berada dalam keadaan sehat sangat penting untuk menjelaskan tentang kesehatan dan dinamis dan relatif, maka perlu diupayakan untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal.
c)      Perilaku gizi (makanan) dan minuman, makanan dan minuman dapat memelihara serta meningkatkan kesehatan seseorang, tetapi sebaliknya makanan dan minuman dapat penyebabmenularnya kesehatan seseorang, bahkan dapat mendapatkan penyakit. Hal ini tergantung pada perilaku orang terhadap makan dan minuman tersebut
2)      Perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan kesehatan
3)      Perilaku ini menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit, kecelakan tindakan atau perilaku ini dimulai dari mengobati sendiri sampai mencari pengobatan sampai luar negri
4)      Perilaku kesehatan lingkungan
Seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan budaya sehingga lingkungan tersebut tidak mempengaruhi kesehatanya sehingga tidak mengganggu kesehatanya sendiri. Keluarga terutama remaja, misalnya cara mengelolah pembuangan tinja, air minum, tempat pembuangan sampah, pembuangan sampah dan sebagainya
 d.      Perilaku hidup sehat
Sehat menurut kamus bahasa Indonesia adalah suatu keadaan atau kondisi atau seluru badan serta bagian-bagianya terbesar dari sakit. Mengacuh pada Undang-Undang Kesehatan No 23 tahun1992. Sehat adalah keadaan sejatra dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan seseorang dapat hidup secara sosial yang memungkinkan seseorang dapat hidup secara sosial dan ekonomi. Konsep “sehat” world Health Organization (WHO) merumuskan dalam cakupan yang sangat luas, yaitu keadaan yang sempurna baik fisik mental maupun sosial, tidak hanya terbesar dari penyakit atau kelemahan (cacat), dalam defenisi ini sehat bukan hanya sekedar terbesar dari penyakit atau cacat. Orang yang tidak berpenyakit belum tentu dikatakan sehat, sehat diartikan keadaan yang sempurna, baik fisik, mental, maupun sosial (Nadya, 2013)
Pengertian yang ditemukan oleh World Health Organisation  (WHO) mengandung 3 (tiga) keterkaitan antara lain:
1)   Merefleksikan perhatian indifidu sebagai manusia
2)   Memandang sehat dalam komleks lingkungan internal dan eksternal
3)   Sehat diartikan sebagai hidup yang kreatif dan produktif, sehat bukan merupakan suatu kondisi tetapi merupakan penyesuaian dan bukan merupakan suatu keadaan tetapi merupakan proses dan yang dimaksut dengan proses disini adalah adaptasi indifidu yang tidak hanya terhadap fisik mereka tetapi terhadap lingkungan sosialnya.
Sedangkan batasan sehat menurut Undang-Undang Kesehatan meliputi fisik (badan), mental (jiwa), sosial dan ekonomi. Sehat yang dimaksut disini adalah tidak merasa sakit dan memang secara klinis tidak sakit, semua organ tubuh normal dan berfungsi normal dan tidak ada gangguan fungsi tubuh. Sehat mental (jiwa), mencakup (Nadya 2013):   
1)   Sehat pikiran tercermin dari cara berpikir seseorang yakni mampu berpikir secara logis (masuk akal)
2)   Sehat spiritual tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, atau penyembahan terhadap pencinta alam dan seisinya yang dapat dilihat dari praktik keagamaan dan kepercayaan serta perbuatan baik yang sesuai dengan norma norma masyarakat
3)   Sehat emosional tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosinya atau mengendalikan diri yang abik.
Perilaku hidup sehat adalah perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatanya. Perilaku sehat mencakup antara lain: (Notoadmodjo 2010)
1)   Respon seseorang terhadap makanan.
Perilaku ini meliputi perlakuan, persepsi, sikap dan praktik kita tehadap makanan serta unsur-unsur yang terkandung didalamnya (zat gizi), pengelolahan makanan dan makanan dengan menu sehimbang (appropriate diet). Menu seimbang disini dalam arti kualitas (mengandung zat-zat gizi yang diperlukan tubuh) dan kualitas dalam dalam maksut dalam jumbla cukup untuk memenuhi kebutuan tubuh. Secara kualitas mungkin di Indonesi dikenal dengan ungkapan menu seimbang
2)   Olah raga teratur
Juga menjangkau kualitas (gerakan) dan kualitas dalam arti frekwensi dalam waktu yang digunakan dalam olahraga. Dengan sendirinya kedua aspek ini akan tergantung dari usia, dan status kesehatan yang bersangkutan.
3)   Tidak merokok
Yang merupakan kebiasaan jelek yang mengakibatkan berbagai macam penyakit, ironisnya kebiasaan meroko ini, khususnya di Indonesia seolah-olah suda membudaya. Hampir 50% penduduk Indonesia usia dewasa merokok. Bahkan dari studi penelitian sekitar dari 15% remaja kita merokok. Inilah tantangan pendidikan kesehatan kita.
4)   Tidak minum-minuman keras dan narkoba.
Kebiasaan minum minuman keras dan mengomsumsi narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya lainya juga cenderung meningkat, sekitar 1% penduduk Indonesi dewasa diperkirakan suda pempunyai kebiasaan minum miras ini.
 5)   Istirahat yang cukup
Dengan meningkatkanya kebutuhan hidup akibat tuntutan untuk menyesuaikan dengan lingkungan moderen, mengaruskan orang untuk bekerja keras dan berlebihan, sehingga waktu beristirahat berkurang. Hal ini juga membahayakan kesehatan    
6)   Mengendalikan stress.
Stress akan terjadi pada siapa saja dan akibatnya bermacam macam bagi kesehatan terlebih sebagai akibat dari tuntutan hidup yang keras, stress tidak dapat kita hindari, yang penting dijaga agar stress tidak menyebabkan gangguan kesehatan kita harus dapat mengendalikan atau mengolah stress dengan kegiatan-kegiatan yang positif.
7)   Perilaku atau gaya hidup lain yang positif bagi kesehatan misalnya tidak berganti-ganti pasangan saat berhubungan sekx penyesuaian diri kita dengan lingungan dan sebagainya.
e.       Pengertian perilaku hidup bersih dan sehat
Perilaku sehat adalah pengetahuan sikap dan tindakan proaktif untuk memelihara dan mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit, serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat. Menurut Depkes (2008) perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah semua perilaku yang dilakukan atas kesadaran sehingga peserta didik, guru dan masyarakatdapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan dimasyarakat. Oleh karena itu penanaman nilai-nilai perilaku hidup bersi dan sehat (PHBS) merupakan kebutuan mutlak dan dapat dilakukan oleh setiap indifidu dengan upaya untuk memberdayakan siswa dan lingkungan agar tahu mau dan mampu mempraktikan Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta berperan aktif dalam mewujudtkan kesehatan yang optimal.
Sedangkan menurut Ekasari, (2008) Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan wujud operasional promosi kesehatan dalam upaya mengajak, mendorong kemandirian untuk berperilaku hidup bersih dan sehat yang dapat dipraktikan oleh remaja, keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekolah, atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, sehingga secara mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan aktif dalam mewujudkan hidup sehat. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) salah satu upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi individu terutama remaja, keluarga, masyarakat dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi, untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku, melalui pendekatan pimpinan (Avocacy), bina suasana (social support) dan pemberdayaan masyarakat (empowermet). Sebagai suatu upaya untuk membantu masyarakat mengenal dan mengatasi masalahnya sendiri, dalam tatanan rumah tangga agar dapat menerapkan cara-cara hidup sehat dalam rangka menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatannya (Dinkes, 2002)
Menanamkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) kepada setiap individu bukanlah hal yang mudah, akan tetapi memerlukan proses yang panjang. Setiap orang hidup dalam tatanannya dan saling mempengaruhi serta berinteraksi antar pribadi dalam tatanan tersebut. Memantau nilai-nilai dan mengatur tingkat kemajuan tatanan adalah lebih mudah dibandingkan perorangan. Menurut Depkes (2009) perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan sekumpulam perilaku yang dilakukan atas dasar kesdaran sebagai hasil pembelajara yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri dibandingkan kesehatan dan peran aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya. Menurut (Dinkes, 2006) perilaku hidup bersih dan sehat adalah wujud keberdayaan masyarakat yang sadar, mau dan mampu untuk mempraktekkan perilaku hidup bersih dan sehat. Semua perilaku yang dilakukan atas kesadaran sehingga untuk anggota keluarga dapat menolong dirinya sendiri dibandingka kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat (Depkes 2008).
Berdasarkan beberapa defenisi tentang perilaku hidup bersih dan sehat adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga terutama remaja dapat menolong dirinya sendiri dibidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan dimasyarakat serta pendidikan di sekolah.
f.       Manfaat perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
Menurut pusat promosi kesehatan, Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dapat mencegah terjadinya penyakit melindungi diri dari ancaman penyakit. Dampak perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang baik dapat menimbulkan suatu penyakit diantaranya adalah meneret, muntaber, desentri, typus, Demam Berdarah (Syafrizal 2002).
Menurut (Depkes 2006) manfaat Perilaku hidup bersih dan sehat dibagi menjadi dua bagian yaitu :
1)      Manfaat bagi keluarga terutama remaja
a)      Teciptanya lingkungan yang bersih dan sehat sehingga individu, keluarga, dan masyarakat terlindungi dari berbagai gangguan dan ancaman penyakit.
b)      Setiap anggota keluarga menjadi sehat dan tidak mudah sakit
c)      Meningkatkan semangat proses belajar mengajar yang berdampak pada prestasi belajar remaja
d)     Citra institusi pendidikan semakin meningkatkan sehingga mampu menarik minat orang tua (masyarakat)
e)      Pengeluaran biaya rumah tangga dapat ditunjukan untuk memenuhi gizi keluarg, pendidikan dan modal usaha untuk menambah pendapatan keluarga.
f)       Meningkatnya citra pemerintah daerah dibidang pendidikan
g)      Peserta didik tumbuh sehat dan cerdas
h)      Anggota keluarga giat dalalm pendidikan sekolah dan bekerja
i)        Meningkatnya semangat belajar siswa berdampak positif terhadap pencapaian taget dan tujuan
j)        Menurunnya biaya kesehatan yang harus dikeluarkan oleh orang tua
2)      Manfaat bagi masyarakat
a)      Masyarakat mampu mengupayakan lingkungan sehat
b)      Masyarakat mampu mencegah dan menanggulangi masalah-masalah kesehatan
c)      Masyarakat memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada
d)     Masyarakat mampu mengembangkan upaya kesehatan bersumber masyarakat (UKBM) seperti posyandu, tabungan ibu bersalin, arisan jamban, ambulans desa dan lain-lain
3)      Manfaat bagi panti asuhan
a)      Adanya bimbingan teknis pelaksanaan pembinaan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) Panti Asuhan
b)      Aanya dukungan buku pedoman dan media promosi perilaku hidup bersih dam sehat (PHBS) Panti Asuhan
 4)      Manfaat bagi pemerintah provinsi atau kabupaten (kota)
a)      Lingkungan yang sehat menunjukan kinerja dan citra pemerintah Provinsi atau Kabupaten serta kota yang baik
b)      Dapat dijadikan pusat pembelajaran bagi daerah lain dalam pembinaan Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) Di Panti Asuhan
g.      Tujuan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan bentuk perwujudan paradigma sehat dalam budaya remaja, keluarga, dan masyarakat yang berorientasi sehat, bertujuan untuk meningkatkan, memelihara, dan melindungi kesehatannya baik fisik, mental, spiritual, maupun social. Selain itu program perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) bertujuan memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi yang baik untuk mencapai taraf hidup sehat yang optimal (Depkes 2002)
Dengan membuka jalur komunikasi, informasi, dan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan, sifat dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat  (PHBS), serta dapat meningkatkan pengetahuan, kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat hidup bersih dan sehat serta meningkatkan peran serta aktif masyarakat termaksud dunia usaha dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, melalui pendekatan pimpinan (Advocacy), bina suasana (social support), dan memberdayakan masyarakat (empowerment). Dengan demikian masyarakat dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri terutama pada tatanannya masing-masing (Depkes RI 2002).
Adapun yang menjadi tatanan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) antara lain adalah:
1)      Tatanan rumah tangga
2)      Tatanan pendidikan
3)      Tempat umum
4)      Organisasi (lembaga kemasyarakatan)
5)      Tempat kerja
6)      Institusi kesehatan
Menurut Ekasari(2008) tujuan Perilaku hidup bersih dan sehat sebagai berikut:
1)      Memanfaatkan pelayanan yang dad untuk penyembuhan penyakit dan meningkatkan kesehatannya
2)      Mengembangkan upaya kesehatan bersumber masayarak untuk pencapaian Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di rumah tangga seperti penyelenggaraan posyandu, jaminan pemeliharaan kesehatan, tabungan ibu bersalin, ambulace desa, kelompok pemakaian air, dan arisan jamban.
 3)      Mengupayakan lingkungan sehat
4)      Mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatanyang dihadapinya
h.      Strategi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
Strategi merupakan cara atau pendekartan yang dilakukan untuk mencapai tujuan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan dan perilaku PHBS mempengaruhi oleh  serta  berinteraksi antarapribadi dalam tatanan tersebut. Memantau nilai-nilai dan mengukur  tingkat kemajuan tatanan adalah lebih muda dibandingkan dengan program. Menurut Depkes RI (2009) perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan sekumpulan perilaku yang dilakukan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri dibandingkan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya. Menurut Dinkes (2006) perilaku hidup bersih dan sehat atau PHBS adalah wujud keberdayaan masyarakat yang sadar mau dan mampu mempraktikan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Semua perilaku yang dilkukan atas kesadaran sehingga anggota keluara atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan dimasyarakat. Depkes RI (2008)
Berdasarkan beberapa defenisi tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kata lain perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga terutama remaja dapat menolong dirinnya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aaktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat serta pendidikan sekolah.
i.        Indikator dalam perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
Adapun yang menjadi indikator perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) terhadap remaja, menurut dinas kesehatan RI. (2001) ada delapan tahap perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai berikut: kebiasaan mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan memakai sabun, menggunakan jamban yang bersih dan sehat. Kebiasaan sehat, mengikuti kegiatan olahraga dan aktifitas fisik, pemberantasan jentik nyamuk, kebiasaan merokok, menimbang berat badan dan tinggi badan serta membuang sampah pada tempatnya.
1)      Kebiasaan mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan memakai sabun
Air yang tidak bersi mengandung kuman dan bakteri dan penyakit, bila digunakan maka kuman dan bakteri berpinda ke tangan. Pada saat makan kuman dengan cepat masuk ke dalam tubuh yang biasa menimbulkan penyakit antara lain diare, thypus, cacingan dan flu burung. Sedangkan memakai sabun maka kotoran dapat dibersikan dan juga sabun membunu kuman. Oleh karena itu mencuci tangan dengan menggunakan air bersih yang mengalir dan memakai sabun sangat diperlukan untuk meningkatkan taraf hidup sehat.
2)      Menggunakan jamban yang bersih dan sehat
untuk menjaga agar lingkungan selalu bersih, sehat dan tidak berbahu serta tidak mencemari sumber air di lingkungan sekitar, dan tidak mengundang datangnya lalat yang menjadi faktor penyakit seperti diare, kolera, disentri, thypus, cacingan dan penyakit lainya. Adapun yang menjadi ciri-ciri jamban yang sehat adalah:
a)      Tidak mencemari sumber air minum (berjarak 10 meter dari sumber air)
b)      Tidak mencemari tanah sekitar
c)      Tidak berbahu
d)     Dilengkapi dinding dan atap pelindung
e)      Mudah dibersikan dan aman digunakan
f)       Penerangan dan fentilasi yang cukup
g)      Lantai kedap air dan luas ruangan memadai
h)      Tersedia air sabun dan alat pembersih
3)      Kebiasaan jajan di kantin sekolah
Makanan yang dijual cukup mengandung gizi, terjamin kebersihannya, terbesar dari zat-zat berbahaya dan berlindung dari kuman penyakit. Dengan mengomsumsi makanan yang bergizi maka akan meningkatkan kesehatan dan kecerdasan siswa, sehingga peserta didik lebih menjadi berprestasi di sekolah. Sekolah mampu menyediakan kantin sekolah sehat dengan makanan yang mengandung gizi seimbang dan berfariasi, sehingga membuat tubuh sehat dan kuat, angka absensi sekolah menurun, dan proses belajar dengan baik.
4)      Mengikuti kegiatan olahraga dan aktifitas fisik
Untuk mencapai kesehatan yang optimal maka olahraga sangat dibutak dengan tujuan agar tubuh selalu bugar, lebih bersemangat dalam belajar, sehingga fisik dan mental tetap sehat dan bugar untuk mencapai tingkat pertumbuhan dan perkembangan fisik yang optimal dan tidak mudah terserang penyakit. Manfaat olahraga yang teratur antara lain berat badan terkendali, otot lebih lentur, tulang lebih kuat, bentuk tubuh lebih ideal daya tahan tubuh terhadap penyakit lebih baik dan terindar dari penyakit. Seperti: jantung koroner, osteoporosis, diabetes, strok dan hipertensi.
5)      Pemberantasan jentik nyamuk
Untuk memutuskan mata rantai siklus hidup nyamuk, sehingga nyamuk tidak berkembang baik di lingkungan rumah. Khususnya jentik nyamuk Aedes aeghypty yang dapat menyebabkan penyakit demam berdarah (DBD). Sehingga dilakukan kegiatan (3M) yaitu:
1)      Menguras tempat-tempat penampungan air seminggu sekali seperti vas bunga, bak mandi, dan kaleng bekas.
2)      Menutup tempat-tempat air dengan rapat
3)      Mengubur barang bekas yang dapat menampung air hujan. Bila tidak dapat memungkinkan dapat juga dilakukan larvasida (menaburkan bubuk abate) pada tempat-tempat yang sulit dikuras dan air, atau memelihara ikan predator jentik di kolam.
6)      Kebiasaan merokok
Banyak efek negative yang ditimbulkan oleh rokok, antara lain terjangkit penyakit kanker, paru-paru, kanker mulut, penyakit jantung, batuk kronis, kelahinan kehamilan, katarak, kerusakan gigi dan efek ketagihan serta ketergantungan pada rokok. Di dalam sebatang rokok terkandung 4.000 bahan kimia dan 43 senyawa yang terbukti menyebabkan kanker. Bahan utama rook terdiri dari nikotin, tar, dan CO nikotin bias menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan mengumpulkan darah. Aliran darah dari jantung menjadi terganggu. Nikotin juga mengandung kecanduan pada perokok, tar merupakan bahan kimia yang beracun yang dapat menyebabkan kerusakan sel paru-paru dan menyebabkan kanker, CO merupakan gas beracun yang berakibat kurangnya kemampuan darah membawa oksigen sehingga mengakibatkan otak, jantung dan organ tubuh  yang penting menjadi kekurangan oksigen.
7)      Menimbang berat badan (BB) dan tinggi badan (TB)
Dengan tujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan badan serta status gizi agar pertumbuhan anak dapat berkembang secara optimal. Hal-hal yang dapat menyebabkan tanda-tanda gizi remaja antara lain:
a.       Tanta-tanda dengan gizi kurang antara lain: anak tampak kurus dan tidak segar, tidak cheria, malas melakukan aktifitas dan cenderung sering sakit.
b.      Tanda-tanda dengan gizi berlebih: anak terliat gemuk, bentuk tubuh tidak seimbang, tidak bias bergerak bebas, nafas mudah tersengal-sengal jika beraktifitas, muda lelah dan malas bergerak.
c.       Tanda-tanda dengan anak gizi normal: tumbuh normal, segar, giat ceria, mata bersih bersinar dan nafsu makan yang baik
8)      Membuang sampah pada tempatnya
Sampah akan menjadi tempat berkembang biak serangga dan tikus, yang menjadi sumber polusi dan pencemaran terhadap tanah, air, dan udara. Sampah menjadi media perkembangan kuman-kuman penyakit yang dapat membahayakan kesehatan, sampah juga bisa menimbulkan kecelakaan dan kebakaran. Sampah dibedakan menjadi tiga kategori antara lain:
a)      Sampah organik (basah) yakni sampah yang bisa membusuk secara alami, misalnya: dedaunan, sisa sayuran, buah dan makanan.
b)      Sampah anorganik (kering) yakni sampah yang tidak dapat mengalami pembusukan secara alami, contohnya: logam, kertas plastik, karet, pecahan kaca
c)      Sampah berbahaya yakni sampak yang bila dibuang ke lingkungan tidak mudah terurai dan bisa jadi menjadi sumber pencemaran berbahaya seperti batrai, botol obat nyamuk, jarum suntik bekas, plastik pembungkus bahan kimia.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar