PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS)
a. Pengertian perilaku
Menurut
Maulana (2009) perilaku dilihat dari dua segi yang
terdiri dari segi biologis dan segi psikologis. Dari segi biologis perilaku
merupakan suatu kegiatan atau aktifitas organisme (makhluk hidup) yang
bersangkutan. Perilaku (manusia) adalah semua tindakan atau aktifitas manusia
yang baik dapat diamati langsung maupun yang tidak diamati oleh pihak luar.
Sedangkan dari segi spikologis perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang
terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Pengertian itu dikenal dengan teori
S.O.R (stimulus organisme respon). Perilaku sehat adalah pengetahuan, sikap,
dan tindakan proaktif, melindungi diri dari ancaman penyakit, serta berperan
aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat (Depkes RI 2008).
Dilihat
dari bentuk respon terhadap stimulus perilaku dapat dibedakan menjadi dua,
antara lain: Notoadmodjo 2007)
1) Perilaku
tertutup (cover behavior)
Respon seseorang
terhadap stimulus dalam bentuk terselubung dan tertutup (cover). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas
pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat dialami secara
jelas oleh orang lain misalnya: seorang anak tahu pentingya cuci tangan sebelum
makan, seorang pemuda tahu bahwa Narkobah dapat berdampak negatif terhadap
kesehatanya.
2) Perilaku terbuka (covert behavior)
Respon seseorang
terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap
stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktik (praticte), yang dengan mudah dapat
diamati atau dilihat oleh orang lain, misalnya: anak sekolah memeriksakan
kesehatan giginya, penderita TB paru minum obat secara teratur.
b. Faktor yang mempengaruhi perilaku
Menurut Lawrance
Green (1980) dalam Notoadmodjo (2007). Ada tiga factor yang menyebabkan mengapa
seseorang melakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yaitu:
1) Faktor
pemudah (predisposing faktor)
Faktor ini
mencakup pengetahuan dan sikap dan sikap anak-anak terhadap perilaku hidup
bersi dan sehat (PHBS). Dimana faktor ini menjadi pemicu (antarsenden) terhadap perilaku yang menjadi dasar atau motifasi
bagi tindakanya akibat tradisi, kebiasaan kepercayaan, tingkat pendidikan dan
tingkat sosial.
2) Faktor
pemungkin (enambling faktor)
Faktor ini
mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi
masyarakat, lingkungan fisik misalnya: air bersih, tempat pembuangan sampah,
tempat pembuangan tinja, ketersediaan makanan yang bergisi, dan sebagainya,
termasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti: puskesmas, rumah sakit, poliklinik. Posyandu, polindes, pos
obat desa, dokter atau bidan praktik swasta, dan sebagainya. Untuk perilaku sehat,
masyarakat memerlukan sarana dan prasarana pendukung untuk berperilaku sehat masyarakat
memerlukan sarana dan prasarana pendukung. Fasilitas ini pada hakikatnya
mendukung atau memungkinkan terwujudnya perilaku hidup bersi dan sehat (PHBS)
3) Faktor
penguat (reinforcing faktor)
Faktor yang menentukan apakah tindakan
kesehatan memperoleh dukungan atau tidak. Faktor ini terwujud dalam sikap dan perilaku
pengasuh anak-anak atau orang tua yang merupakan toko
yang dipercaya atau dipanuti anak-anak. Contoh pengasuh anak-anak memberikan
keteladanan dengan melakukan cuci tangan sebelum makan atau selalu minum air
yang suda dimasak. Maka hal ini akan menjadi
penguat untuk perilaku hidup bersih dan sehat bagi anak-anak
c. Perilaku kesehatan
Perilaku
kesehatan adalah suatu aktifitas dilakukan oleh indifidu yang meyakini dirinya
sehat untuk tujuan mencegah penyakit atau mendeteksinya dalam tahap ansimtomatik perilaku kesehatan
merupakan suatu person seseorang terhadap stimulus (rangsangan) atau obyek yang
berhubungan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan
dan minuman serta lingkungan (Maulana 2009)
Berdasarkan
batasan perilaku dari teori Skinrer,
maka perilaku teori skiner, maka perilaku kesehatan, merupakan suatu respon
seseorang terhadap stimulus atau obyek yang berkaitan dengan sakit dan
penyakit, system pelayanan kesehatan makanan dan minuman serta lingkungan dari
batasan ini, perilaku kesehatan dapat diklarifikasikan menjadi tiga kelompok:
(Notoadmodjo 2007)
1) Perilaku
pemeliharaan kesehatan
Perilaku atau
usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit
dan usaha untuk menyembukan bila sakit. Oleh karena itu, perilaku pemeliharahan
kesehatan terdiri dari tiga
aspek yaitu:
a) Perilaku
pencegaan penyakit dan penyembuhan penyakit dan penyembuhan penyakit, serta
pemulihan kesehatan dari penyakit.
b) Perilaku
peningkatan kesehatan, apabila individu
berada dalam keadaan sehat sangat penting untuk menjelaskan tentang kesehatan
dan dinamis dan relatif, maka perlu diupayakan untuk mencapai tingkat kesehatan
yang optimal.
c) Perilaku
gizi (makanan) dan minuman, makanan dan minuman dapat memelihara serta meningkatkan kesehatan seseorang,
tetapi sebaliknya makanan dan minuman dapat penyebabmenularnya kesehatan
seseorang, bahkan dapat mendapatkan penyakit. Hal ini tergantung pada perilaku
orang terhadap makan dan minuman tersebut
2) Perilaku
pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan kesehatan
3) Perilaku
ini menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit,
kecelakan tindakan atau perilaku ini dimulai dari mengobati sendiri sampai
mencari pengobatan sampai luar negri
4) Perilaku
kesehatan lingkungan
Seseorang
merespon lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan budaya sehingga
lingkungan tersebut tidak mempengaruhi kesehatanya sehingga tidak mengganggu
kesehatanya sendiri. Keluarga terutama remaja, misalnya cara mengelolah
pembuangan tinja, air minum, tempat pembuangan sampah, pembuangan sampah dan
sebagainya
d. Perilaku hidup sehat
Sehat menurut
kamus bahasa Indonesia adalah suatu keadaan atau kondisi atau seluru badan
serta bagian-bagianya terbesar dari sakit. Mengacuh pada Undang-Undang
Kesehatan No 23 tahun1992. Sehat adalah keadaan sejatra dari badan, jiwa dan
sosial yang memungkinkan seseorang dapat hidup secara sosial yang memungkinkan
seseorang dapat hidup secara sosial
dan ekonomi. Konsep “sehat” world Health
Organization (WHO) merumuskan dalam cakupan yang sangat luas, yaitu keadaan
yang sempurna baik fisik mental maupun sosial, tidak hanya terbesar dari
penyakit atau kelemahan (cacat), dalam defenisi ini sehat bukan hanya sekedar
terbesar dari penyakit atau cacat. Orang yang tidak berpenyakit belum tentu
dikatakan sehat, sehat diartikan keadaan yang sempurna, baik fisik, mental,
maupun sosial
(Nadya, 2013)
Pengertian yang
ditemukan oleh World Health Organisation (WHO) mengandung 3 (tiga) keterkaitan antara
lain:
1) Merefleksikan
perhatian indifidu sebagai manusia
2) Memandang
sehat dalam komleks lingkungan internal dan eksternal
3) Sehat
diartikan sebagai hidup yang kreatif dan produktif, sehat bukan merupakan suatu
kondisi tetapi merupakan penyesuaian dan bukan merupakan suatu keadaan tetapi
merupakan proses dan yang dimaksut dengan proses disini adalah adaptasi
indifidu yang tidak hanya terhadap fisik mereka tetapi terhadap lingkungan
sosialnya.
Sedangkan
batasan sehat menurut Undang-Undang Kesehatan meliputi fisik (badan), mental
(jiwa), sosial
dan ekonomi. Sehat yang dimaksut disini adalah tidak merasa sakit dan memang
secara klinis tidak sakit, semua organ tubuh normal dan berfungsi normal dan
tidak ada gangguan fungsi tubuh. Sehat mental (jiwa), mencakup (Nadya 2013):
1) Sehat
pikiran tercermin dari cara berpikir seseorang yakni mampu berpikir secara
logis (masuk akal)
2) Sehat
spiritual tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur,
pujian, atau penyembahan terhadap pencinta alam dan seisinya yang dapat dilihat
dari praktik keagamaan dan kepercayaan serta perbuatan baik yang sesuai dengan
norma norma masyarakat
3) Sehat
emosional tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosinya
atau mengendalikan diri yang abik.
Perilaku hidup
sehat adalah perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan seseorang untuk
mempertahankan dan meningkatkan kesehatanya. Perilaku sehat mencakup antara
lain: (Notoadmodjo 2010)
1) Respon
seseorang terhadap makanan.
Perilaku ini
meliputi perlakuan, persepsi, sikap dan praktik kita tehadap makanan serta
unsur-unsur yang terkandung didalamnya (zat gizi), pengelolahan makanan dan
makanan dengan menu sehimbang (appropriate
diet). Menu seimbang disini dalam arti kualitas (mengandung zat-zat gizi yang
diperlukan tubuh) dan kualitas dalam dalam maksut dalam jumbla cukup untuk
memenuhi kebutuan tubuh. Secara kualitas mungkin di Indonesi dikenal dengan
ungkapan menu seimbang
2) Olah
raga teratur
Juga menjangkau
kualitas (gerakan) dan kualitas dalam arti frekwensi dalam waktu yang digunakan
dalam olahraga. Dengan sendirinya kedua aspek ini akan tergantung dari usia,
dan status kesehatan yang bersangkutan.
3) Tidak
merokok
Yang merupakan
kebiasaan jelek yang mengakibatkan berbagai macam penyakit, ironisnya kebiasaan
meroko ini, khususnya di Indonesia seolah-olah suda membudaya. Hampir 50%
penduduk Indonesia usia dewasa merokok. Bahkan dari studi penelitian sekitar
dari 15% remaja kita merokok. Inilah tantangan pendidikan kesehatan kita.
4) Tidak
minum-minuman keras dan narkoba.
Kebiasaan minum
minuman keras dan mengomsumsi narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya
lainya juga cenderung meningkat, sekitar 1% penduduk Indonesi dewasa
diperkirakan suda pempunyai kebiasaan minum miras ini.
5) Istirahat
yang cukup
Dengan
meningkatkanya kebutuhan hidup akibat tuntutan untuk menyesuaikan dengan
lingkungan moderen, mengaruskan orang untuk bekerja keras dan berlebihan,
sehingga waktu beristirahat berkurang. Hal ini juga membahayakan kesehatan
6) Mengendalikan
stress.
Stress akan
terjadi pada siapa saja dan akibatnya bermacam macam bagi kesehatan terlebih
sebagai akibat dari tuntutan hidup yang keras, stress tidak dapat kita hindari,
yang penting dijaga agar stress tidak menyebabkan gangguan kesehatan kita harus
dapat mengendalikan atau mengolah stress dengan kegiatan-kegiatan yang positif.
7) Perilaku
atau gaya hidup lain yang positif bagi kesehatan misalnya tidak berganti-ganti
pasangan saat berhubungan sekx penyesuaian diri kita dengan lingungan dan sebagainya.
e. Pengertian perilaku hidup bersih
dan sehat
Perilaku sehat
adalah pengetahuan sikap dan tindakan proaktif untuk memelihara dan mencegah
resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit, serta
berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat. Menurut Depkes (2008) perilaku hidup bersih
dan sehat (PHBS) adalah semua perilaku yang dilakukan atas kesadaran sehingga
peserta didik, guru dan masyarakatdapat menolong dirinya sendiri di bidang
kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan dimasyarakat.
Oleh karena itu penanaman nilai-nilai perilaku hidup bersi dan sehat (PHBS) merupakan kebutuan
mutlak dan dapat dilakukan oleh setiap indifidu dengan upaya untuk
memberdayakan siswa dan lingkungan agar tahu mau dan mampu mempraktikan Perilaku
hidup bersih dan sehat (PHBS) serta berperan aktif dalam mewujudtkan kesehatan
yang optimal.
Sedangkan
menurut Ekasari, (2008) Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan wujud
operasional promosi kesehatan dalam upaya mengajak, mendorong kemandirian untuk
berperilaku hidup bersih dan sehat yang dapat dipraktikan oleh remaja,
keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekolah, atas dasar kesadaran sebagai
hasil pembelajaran, sehingga secara mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan
kesehatannya, serta berperan aktif dalam mewujudkan hidup sehat. Perilaku hidup
bersih dan sehat (PHBS) salah satu upaya untuk memberikan pengalaman belajar
atau menciptakan suatu kondisi bagi individu terutama remaja, keluarga,
masyarakat dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan
edukasi, untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku, melalui pendekatan
pimpinan (Avocacy), bina suasana (social support) dan pemberdayaan
masyarakat (empowermet). Sebagai
suatu upaya untuk membantu masyarakat mengenal dan mengatasi masalahnya
sendiri, dalam tatanan rumah tangga agar dapat menerapkan cara-cara hidup sehat
dalam rangka menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatannya (Dinkes, 2002)
Menanamkan perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS) kepada setiap individu bukanlah hal yang mudah, akan tetapi memerlukan
proses yang panjang. Setiap orang hidup dalam tatanannya dan saling
mempengaruhi serta berinteraksi antar pribadi dalam tatanan tersebut. Memantau
nilai-nilai dan mengatur tingkat kemajuan tatanan adalah lebih mudah
dibandingkan perorangan. Menurut Depkes (2009) perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS) merupakan sekumpulam perilaku yang dilakukan atas dasar kesdaran sebagai
hasil pembelajara yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri
sendiri dibandingkan kesehatan dan peran aktif dalam mewujudkan kesehatan
masyarakatnya. Menurut (Dinkes, 2006) perilaku hidup bersih dan sehat adalah
wujud keberdayaan masyarakat yang sadar, mau dan mampu untuk mempraktekkan perilaku
hidup bersih dan sehat. Semua perilaku yang dilakukan atas kesadaran sehingga
untuk anggota keluarga dapat menolong dirinya sendiri dibandingka kesehatan dan
berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat (Depkes 2008).
Berdasarkan
beberapa defenisi tentang perilaku hidup bersih dan sehat adalah semua perilaku
kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga terutama
remaja dapat menolong dirinya sendiri dibidang kesehatan dan berperan aktif
dalam kegiatan-kegiatan kesehatan dimasyarakat serta pendidikan di sekolah.
f. Manfaat perilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS)
Menurut pusat
promosi kesehatan, Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dapat mencegah
terjadinya penyakit melindungi diri dari ancaman penyakit. Dampak perilaku
hidup bersih dan sehat (PHBS) yang baik dapat menimbulkan suatu penyakit
diantaranya adalah meneret, muntaber, desentri, typus, Demam Berdarah
(Syafrizal 2002).
Menurut (Depkes
2006) manfaat Perilaku hidup bersih dan sehat dibagi menjadi dua bagian yaitu :
1) Manfaat
bagi keluarga terutama remaja
a) Teciptanya
lingkungan yang bersih dan sehat sehingga individu, keluarga, dan masyarakat
terlindungi dari berbagai gangguan dan ancaman penyakit.
b) Setiap
anggota keluarga menjadi sehat dan tidak mudah sakit
c) Meningkatkan
semangat proses belajar mengajar yang berdampak pada prestasi belajar remaja
d) Citra
institusi pendidikan semakin meningkatkan sehingga mampu menarik minat orang
tua (masyarakat)
e) Pengeluaran
biaya rumah tangga dapat ditunjukan untuk memenuhi gizi keluarg, pendidikan dan
modal usaha untuk menambah pendapatan keluarga.
f) Meningkatnya
citra pemerintah daerah dibidang pendidikan
g) Peserta
didik tumbuh sehat dan cerdas
h) Anggota
keluarga giat dalalm pendidikan sekolah dan bekerja
i)
Meningkatnya semangat belajar siswa
berdampak positif terhadap pencapaian taget dan tujuan
j)
Menurunnya biaya kesehatan yang harus
dikeluarkan oleh orang tua
2) Manfaat
bagi masyarakat
a) Masyarakat
mampu mengupayakan lingkungan sehat
b) Masyarakat
mampu mencegah dan menanggulangi masalah-masalah kesehatan
c) Masyarakat
memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada
d) Masyarakat
mampu mengembangkan upaya
kesehatan
bersumber
masyarakat
(UKBM) seperti posyandu, tabungan ibu bersalin, arisan jamban, ambulans desa
dan lain-lain
3) Manfaat
bagi panti
asuhan
a) Adanya
bimbingan teknis pelaksanaan pembinaan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
Panti Asuhan
b) Aanya
dukungan buku pedoman dan media promosi perilaku hidup bersih dam sehat (PHBS)
Panti Asuhan
4) Manfaat
bagi pemerintah
provinsi atau kabupaten (kota)
a) Lingkungan
yang sehat menunjukan kinerja dan citra pemerintah Provinsi atau Kabupaten serta
kota yang baik
b) Dapat
dijadikan pusat pembelajaran bagi daerah lain dalam pembinaan Perilaku hidup
bersih dan sehat (PHBS) Di Panti Asuhan
g. Tujuan perilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS)
Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan
bentuk perwujudan paradigma sehat dalam budaya remaja, keluarga, dan masyarakat
yang berorientasi sehat, bertujuan untuk meningkatkan, memelihara, dan
melindungi kesehatannya baik fisik, mental, spiritual, maupun social. Selain
itu program perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) bertujuan memberikan
pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi yang baik untuk mencapai
taraf hidup sehat yang optimal (Depkes 2002)
Dengan membuka jalur komunikasi, informasi, dan
edukasi untuk meningkatkan pengetahuan, sifat dan mampu mempraktikkan perilaku
hidup bersih dan sehat (PHBS), serta
dapat meningkatkan pengetahuan, kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat
hidup bersih dan sehat serta meningkatkan peran serta aktif masyarakat
termaksud dunia usaha dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal,
melalui pendekatan pimpinan (Advocacy),
bina suasana (social support), dan
memberdayakan masyarakat (empowerment).
Dengan demikian masyarakat dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri
terutama pada tatanannya masing-masing (Depkes RI 2002).
Adapun yang menjadi tatanan perilaku hidup bersih
dan sehat (PHBS) antara lain adalah:
1) Tatanan
rumah tangga
2) Tatanan
pendidikan
3) Tempat
umum
4) Organisasi
(lembaga kemasyarakatan)
5) Tempat
kerja
6) Institusi
kesehatan
Menurut Ekasari(2008) tujuan Perilaku hidup bersih
dan sehat sebagai berikut:
1) Memanfaatkan
pelayanan yang dad untuk penyembuhan penyakit dan meningkatkan kesehatannya
2) Mengembangkan
upaya kesehatan bersumber masayarak untuk pencapaian Perilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS) di rumah tangga seperti penyelenggaraan posyandu, jaminan
pemeliharaan kesehatan, tabungan ibu bersalin, ambulace desa, kelompok pemakaian air, dan arisan jamban.
3) Mengupayakan
lingkungan sehat
4) Mencegah
dan mengatasi masalah-masalah kesehatanyang dihadapinya
h. Strategi perilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS)
Strategi merupakan cara atau pendekartan yang
dilakukan untuk mencapai tujuan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan dan perilaku PHBS mempengaruhi oleh serta
berinteraksi antarapribadi dalam tatanan tersebut. Memantau nilai-nilai
dan mengukur tingkat kemajuan tatanan
adalah lebih muda dibandingkan dengan program. Menurut Depkes RI (2009) perilaku
hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan sekumpulan perilaku yang dilakukan atas
dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau
keluarga dapat menolong diri sendiri dibandingkan dan berperan aktif dalam mewujudkan
kesehatan masyarakatnya. Menurut Dinkes (2006) perilaku hidup bersih dan sehat
atau PHBS adalah wujud keberdayaan masyarakat yang sadar mau dan mampu
mempraktikan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Semua perilaku yang
dilkukan atas kesadaran sehingga anggota keluara atau keluarga dapat menolong
dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan
kesehatan dimasyarakat. Depkes RI (2008)
Berdasarkan beberapa defenisi tentang perilaku hidup
bersih dan sehat (PHBS) dengan kata lain perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota
keluarga terutama remaja dapat menolong dirinnya sendiri di bidang kesehatan
dan berperan aaktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat serta
pendidikan sekolah.
i.
Indikator
dalam perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
Adapun yang menjadi indikator perilaku hidup bersih
dan sehat (PHBS) terhadap remaja, menurut dinas kesehatan RI. (2001) ada
delapan tahap perilaku
hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai berikut: kebiasaan mencuci tangan dengan
air bersih yang mengalir dan memakai sabun, menggunakan jamban yang bersih dan
sehat. Kebiasaan sehat, mengikuti kegiatan olahraga dan aktifitas fisik,
pemberantasan jentik nyamuk, kebiasaan merokok, menimbang berat badan dan
tinggi badan serta membuang sampah pada tempatnya.
1) Kebiasaan
mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan memakai sabun
Air yang tidak
bersi mengandung kuman dan bakteri dan penyakit, bila digunakan maka kuman dan
bakteri berpinda ke tangan. Pada saat makan kuman dengan cepat masuk ke dalam
tubuh yang biasa menimbulkan penyakit antara lain diare, thypus, cacingan dan
flu burung. Sedangkan memakai sabun maka kotoran dapat dibersikan dan juga sabun
membunu kuman. Oleh karena itu mencuci tangan dengan menggunakan air bersih
yang mengalir dan memakai sabun sangat diperlukan untuk meningkatkan taraf
hidup sehat.
2) Menggunakan
jamban yang bersih dan sehat
untuk menjaga
agar lingkungan selalu bersih, sehat dan tidak berbahu serta tidak mencemari
sumber air di lingkungan sekitar, dan tidak mengundang datangnya lalat yang
menjadi faktor penyakit seperti diare, kolera, disentri, thypus, cacingan dan penyakit lainya. Adapun yang menjadi ciri-ciri
jamban yang sehat adalah:
a) Tidak
mencemari sumber air minum (berjarak 10 meter dari sumber air)
b) Tidak
mencemari tanah sekitar
c) Tidak
berbahu
d) Dilengkapi
dinding dan atap pelindung
e) Mudah
dibersikan dan aman digunakan
f) Penerangan
dan fentilasi yang cukup
g) Lantai
kedap air dan luas ruangan memadai
h) Tersedia
air sabun dan alat pembersih
3) Kebiasaan
jajan di kantin sekolah
Makanan yang
dijual cukup mengandung gizi, terjamin kebersihannya, terbesar dari zat-zat
berbahaya dan berlindung dari kuman penyakit. Dengan mengomsumsi makanan yang
bergizi maka akan meningkatkan kesehatan dan kecerdasan siswa, sehingga peserta
didik lebih menjadi berprestasi di sekolah. Sekolah mampu menyediakan kantin
sekolah sehat dengan makanan yang mengandung gizi seimbang dan berfariasi,
sehingga membuat tubuh sehat dan kuat, angka absensi sekolah menurun, dan
proses belajar dengan baik.
4) Mengikuti
kegiatan olahraga dan aktifitas fisik
Untuk mencapai
kesehatan yang optimal maka olahraga sangat dibutak dengan tujuan agar tubuh
selalu bugar, lebih bersemangat dalam belajar, sehingga fisik dan mental tetap
sehat dan bugar untuk mencapai tingkat pertumbuhan dan perkembangan fisik yang
optimal dan tidak mudah terserang penyakit. Manfaat olahraga yang teratur
antara lain berat badan terkendali, otot lebih lentur, tulang lebih kuat,
bentuk tubuh lebih ideal daya tahan tubuh terhadap penyakit lebih baik dan terindar
dari penyakit. Seperti: jantung koroner,
osteoporosis, diabetes, strok dan hipertensi.
5) Pemberantasan
jentik nyamuk
Untuk memutuskan
mata rantai siklus hidup nyamuk, sehingga nyamuk tidak berkembang baik di
lingkungan rumah. Khususnya jentik nyamuk Aedes
aeghypty yang dapat menyebabkan penyakit demam berdarah (DBD). Sehingga
dilakukan kegiatan (3M) yaitu:
1) Menguras
tempat-tempat penampungan air seminggu sekali seperti vas bunga, bak mandi, dan
kaleng bekas.
2) Menutup
tempat-tempat air dengan rapat
3) Mengubur
barang bekas yang dapat menampung air hujan. Bila tidak dapat memungkinkan
dapat juga dilakukan larvasida (menaburkan
bubuk abate) pada tempat-tempat yang sulit dikuras dan air, atau memelihara
ikan predator jentik di kolam.
6) Kebiasaan
merokok
Banyak efek negative yang ditimbulkan oleh rokok,
antara lain terjangkit penyakit kanker, paru-paru, kanker mulut, penyakit
jantung, batuk kronis, kelahinan kehamilan, katarak, kerusakan gigi dan efek
ketagihan serta ketergantungan pada rokok. Di dalam sebatang rokok terkandung
4.000 bahan kimia dan 43 senyawa yang terbukti menyebabkan kanker. Bahan utama
rook terdiri dari nikotin, tar, dan CO
nikotin bias menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan mengumpulkan darah.
Aliran darah dari jantung menjadi terganggu. Nikotin juga mengandung kecanduan pada perokok, tar merupakan bahan
kimia yang beracun yang dapat menyebabkan kerusakan sel paru-paru dan
menyebabkan kanker, CO merupakan gas beracun yang berakibat kurangnya kemampuan
darah membawa oksigen sehingga mengakibatkan otak, jantung dan organ tubuh yang penting menjadi kekurangan oksigen.
7) Menimbang
berat badan (BB) dan tinggi badan (TB)
Dengan tujuan
untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan badan serta status gizi agar
pertumbuhan anak dapat berkembang secara optimal. Hal-hal yang dapat
menyebabkan tanda-tanda gizi remaja antara lain:
a. Tanta-tanda
dengan gizi kurang antara lain: anak tampak kurus dan tidak segar, tidak
cheria, malas melakukan aktifitas dan cenderung sering sakit.
b. Tanda-tanda
dengan gizi berlebih: anak terliat gemuk, bentuk tubuh tidak seimbang, tidak
bias bergerak bebas, nafas mudah tersengal-sengal jika beraktifitas, muda lelah
dan malas bergerak.
c. Tanda-tanda
dengan anak gizi normal: tumbuh normal, segar, giat ceria, mata bersih bersinar
dan nafsu makan yang baik
8) Membuang
sampah pada tempatnya
Sampah akan
menjadi tempat berkembang biak serangga dan tikus, yang menjadi sumber polusi
dan pencemaran terhadap tanah, air, dan udara. Sampah menjadi media
perkembangan kuman-kuman penyakit yang dapat membahayakan kesehatan, sampah
juga bisa menimbulkan kecelakaan dan kebakaran. Sampah dibedakan menjadi tiga
kategori antara lain:
a) Sampah
organik (basah) yakni sampah yang bisa membusuk secara alami, misalnya:
dedaunan, sisa sayuran, buah dan makanan.
b) Sampah
anorganik (kering) yakni sampah yang tidak dapat mengalami pembusukan secara
alami, contohnya: logam, kertas plastik, karet, pecahan kaca
c) Sampah
berbahaya yakni sampak yang bila dibuang ke lingkungan tidak mudah terurai dan
bisa jadi menjadi sumber pencemaran berbahaya seperti batrai, botol obat
nyamuk, jarum suntik bekas, plastik pembungkus bahan kimia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar