Minggu, 14 Agustus 2016

Laporan Pendahuluan (LP) Laparatomi


Laporan Pendahuluan "LAPARATOMI"
A.     Pengertian
Laparotomi adalah pembedahan yang dilakukan pada usus akibat terjadinya perlekatan usus dan biasanya terjadi pada usus halus. (Arif Mansjoer, 2010).
Laparatomi adalah pembedahan perut, membuka selaput perut dengan operasi. (Lakaman 2011).

B.     Etiologi
Etiologi sehingga dilakukan laparatomi adalah karena disebabkan oleh beberapa hal (Smeltzer, 2012) yaitu:
1.      Trauma abdomen (tumpul atau tajam).
2.      Peritonitis.
3.      Perdarahan saluran cernas
4.      Sumbatan pada usus halus dan usus besar.
5.      Massa pada abdomen
C.     Manifestasi Klinis
1.      Nyeri tekan.
2.      Perubahan tekanan darah, nadi, dan pernafasan.
3.      Kelemahan.
4.      Gangguan integumen dan jaringan subkutan.
5.      Konstipasi.
6.      Mual dan muntah, anoreksia.
D.    Komplikasi
1.      Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis. Tromboplebitis post operasi biasanya timbul 7-14 hari setelah operasi. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru, hati, dan otak. Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki, ambulasi dini post operasi.
2.      Infeksi, infeksi luka sering muncul pada 36-46 jam pasca operasi. Organisme yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilococus aurens, organisme gram positif. Stapilococus mengakibatkan peranahan. Untuk menghindari infeksi luka yang paling penting adalah perawatan luka dengan memperhatikan aseptik dan antiseptik.
3.      Kerusakan integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau eviserasi.
4.      Ventilasi paru tidak adekuat.
5.      Gangguan kardiovaskuler: hipertensi, aritmia jantung.
6.      Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
7.      Gangguan rasa nyaman dan kecelakaan.(Arif Mansjoer, 2012).
E.     Patofisiologi
Trauma adalah cedera atau kerugian psikologis atau emosional (Dorland, 2011).
Trauma adalah luka atau cedera fisik lainnya atau cedera fisiologis akibat gangguan emosional yang hebat (Brooker, 2010).
Trauma adalah penyebab kematian utama pada anak dan orang dewasa kurang dari 44 tahun. Penyalahgunaan alkohol dan obat telah menjadi faktor implikasi pada trauma tumpul dan tembus serta trauma yang disengaja atau tidak disengaja (Smeltzer, 2011).
 Trauma abdomen adalah cedera pada abdomen, dapat berupa trauma tumpul dan tembus serta trauma yang disengaja atau tidak disengaja (Smeltzer, 2011).
Trauma abdomen merupakan luka pada isi rongga perut dapat terjadi dengan atau tanpa tembusnya dinding perut dimana pada penanganan/penatalaksanaan lebih bersifat kedaruratan dapat pula dilakukan tindakan laparatomi. Tusukan/tembakan , pukulan, benturan, ledakan, deselerasi, kompresi atau sabuk pengaman (set-belt) dapat mengakibatkan terjadinya trauma abdomen sehingga harus di lakukan laparatomy.(Arif Muttaqin, 2013).
Trauma tumpul abdomen dapat mengakibatkan individu dapat kehilangan darah, memar/jejas pada dinding perut, kerusakan organ-organ, nyeri, iritasi cairan usus. Sedangkan trauma tembus abdomen dapat mengakibatkan hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ, respon stres simpatis, perdarahan dan pembekuan darah, kontaminasi bakteri, kematian sel. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ dan respon stress dari saraf simpatis akan menyebabkan terjadinya kerusakan integritas kulit, syok dan perdarahan, kerusakan pertukaran gas, resiko tinggi terhadap infeksi, nyeri akut.(Arif Muttaqin, 2013).













F.      Pathway
























G.    Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan rektum : adanya darah menunjukkan kelainan pada usus besar ; kuldosentesi, kemungkinan adanya darah dalam lambung ; dan kateterisasi, adanya darah menunjukkan adanya lesi pada saluran kencing.
Laboratorium : hemoglobin, hematokrit, leukosit dan analisis urine.
Radiologik : bila diindikasikan untuk melakukan laparatomi.
IVP/sistogram : hanya dilakukan bila ada kecurigaan terhadap trauma saluran kencing.
Parasentesis perut : tindakan ini dilakukan pada trauma tumpul perut yang diragukan adanya kelainan dalam rongga perut atau trauma tumpul perut yang disertai dengan trauma kepala yang berat, dilakukan dengan menggunakan jarum pungsi no 18 atau 20 yang ditusukkan melalui dinding perut didaerah kuadran bawah atau digaris tengah dibawah pusat dengan menggosokkan buli-buli terlebih dahulu.
Lavase peritoneal : pungsi dan aspirasi/bilasan rongga perut dengan memasukkan cairan garam fisiologis melalui kanula yang dimasukkan kedalam rongga peritonium.

H.    Diagnosa Keperawatan
1.      Nyeri akut berhubungan dengan dilakukannya tindakan insisi bedah.
2.      Resiko infeksi berhubungan dengan adanya sayatan / luka operasi laparatomi.
3.      Gangguan imobilisasi berhubungan dengan pergerakan terbatas dari anggota tubuh.




I.       Intervensi Keperawatan
No.
Diagnosa Keperawatan
Tujuan dan kriteria hasil
intervensi
1.
Nyeri akut berhubungan dengan dilakukannya tindakan insisi bedah.
NOC
Ansiety
Fear leavel
Sleep deprivation
Comfort, readines for enchanced
Kriteria Hasil:
Mampu mengontrol kecemasan
Mengontrol nyeri
Kualitas tidur dan istirahat adekuat
Status kenyamanan meningkat
NIC
Anxiety Reduction (penurunan kecemasan)
1.      Identifikasi tingkat kecemsan
2.      Bantu klien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan
3.      Kaji karakteristik nyeri
4.      Instruksikan pasien menggunakan tehnik rekasasi
5.      Berikan posisi nyaman sesuai kebutuhan
6.      Kolaborasi pemberian obat analgetik
2.
Resiko infeksi berhubungan dengan adanya sayatan / luka operasi  laparatomi.
NOC
Immune status
Knowledge : infection control
Risk control
Kriteria hasil
Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
Jumlah leukosit dalam batas normal
NIC
Infection Control (kontrol infeksi)
1.      Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
2.      Bersihkan luka
3.      Ajarkan cara menghindari infeksi
4.      Instruksikan pasien  untuk minum obat antibiotik sesuai resep
5.      Berikan terapi antibiotik IV bila perlu
 3.
Gangguan imobilisasi berhubungan dengan pergerakan terbatas dari anggota tubuh.
NOC
Joint movement : active
Mobility level
Self care : ADLs
Transfer performance
Kriteria hasil
Klien meningkjat dalam aktivits fisik
Mengerti dari tujuan dari peningkatan mobilitas
Memeragakan penggunaan alat
Bantu untuk mobilisasi (walker)
NIC
Exercise therapy : ambulation
1.      Monitor vital sign sebelum/sesudah latihan dan lihat respon pasien saat latihan
2.      Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs secara mandiri sesuai kebutuhan
3.      Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi
4.      Konsultasi dengan terapi fisik tentang  rencana ambulasi sesuai kebutuhan
5.      Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi dan berikan bantuan jika diperlukan
















DAFTAR PUSTAKA
 Prasetyo, S. N. 2010. Konsep dan Proses Keperawatan Nyeri. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Soeparman, dkk. 2010. Ilmu Penyakit Dalam : Balai Penerbit FKUI, Jakarta
Smeltzer, Suzanne C. 2010. Keperawatan Medikal-Bedah Brunner and Suddarth Ed.8 Vol.3. EGC : Jakarta.
Judith M. Wilkinson. 2009. Diagnosa Keperawatan NANDA NIC NOC. EGC: jakarta


1 komentar:

  1. terima kasih, artikel ini sangat membantu saya untuk menambah refensi saya dalam membuat Laporan Pendahuluan Askep saya, Senang bisa berkunjung ke halaman website anda

    BalasHapus