BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Insomnia adalah salah
satu keluhan kesehatan yang paling umum. Population prevalen ceestimates varybetween
9% and 57% pada orang tua. Di masa lalu, insomnia
kronis hampir selalu dipandang sebagai gejala medis dan gangguan mental. Dalam konseptualisasi ini, masuk akal untuk fokus pada
evaluasi dan pengobatan yang mendasari penyebab kesulitan tidur. Konseptualisasi
baru insomnia, seperti susah tidur sebagai suatu kondisi penjamin perhatian
klinis. Implikasi dari ini baru pandangan yang bahwa dokter tidak harus
menunggu sampai mereka memiliki membahas komorbiditas medis dan psikiatris
sebelum mereka campur tangan dalam gangguan tidur.
Bukti terbaru dari efek
insomnia pada medis dan gangguan mental telah membantu mendirikan timbal balik
atau hubungan dua arah antara insomnia dan medis dan gangguan mental.
Selanjutnya, pengembangan perawatan nonpharmacological efektif, seperti
kognitif pengobatan perilaku untuk insomnia (CBTI), yang menunjukkan efektivitas
insomnia dengan dan tanpa berbagai dari komorbiditas telah memberikan dokter
dan spesialis tidur satu set yang lebih besar dari pilihan terapi dibandingkan
dengan apa yang tersedia di masa lalu. Secara
keseluruhan, memahami insomnia yang bukan hanya gejala lainnya gangguan,
perawatan non pharmacological adalah sebagai efektif sebagai obat, dan insomnia adalah umum memprediksi bahwa dokter
dapat diharapkan untuk lebih mengandalkan spesialis yang mahir mengobati
gangguan tidur. Namun, ada ketidaksesuaian antara jumlah pasien dengan
insomnia dan mereka yang menerima pengobatan CBTI
BAB
II
KASUS
Ny T. Mengalami kesulitan memulai tidur dan hanya tidur
kurang lebih tiga jam dalam satu malam, tetapi setiap satu jam sekali selalu
terbangun. Kondisi ini mengakibatkan Ny T. Selalu merasa tubuhnya tidak fresh
dan berat badannya mengalami penurunan dari 52 kg menjadi 45 kg. Penyebab Ny T.
Mengalami insomnia adalah suami Ny T. Menuduh Ny T. Berselingkuh karena hasutan
tetangga yang tidak suka pada Ny T. Suami Ny T. Selalu marah-marah pada Ny T.
Dan melarang Ny T. Untuk berbincang-bincang dengan tetangga diluar rumah.
BAB
III
JURNAL
A.
Latar Belakang
Penelitian ini menguji praktek mengacu
untuk terapi perilaku kognitif untuk insomnia (CBTI) oleh dokter di University
of Michigan Rumah Sakit dan Weill Cornell Medical College of Cornell
University. Sebuah kuesioner lima item yang dikirim melalui email yang
inquired about thephysician 'spatientload, number of patients complaining of
insomnia, percentreferred for CBTI, and impressions. apa adalah metode yang
paling efektif untuk meningkatkan kualitas tidur pada pasien dengan
insomnia. Kuesioner selesai oleh 239 dokter. Dokter lebih percaya
pengobatan selain CBTI dan / atau obat yang paling efektif (N =
83). "Tidur kebersihan" direkomendasikan oleh sepertiga dari
sampel. Jumlah terkecil dokter merasa bahwa CBTI sendiri adalah yang
paling efektif pengobatan (N = 22). Pendidikan dokter
tambahan yang diperlukan.
B.
Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
menyelidiki pengobatan pendekatan yang digunakan untuk insomnia oleh
profesional medis di dua large academic medical centersin the United States.
C.
Metode
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kwantitatif dengan
menggunakan kuesioner
D.
Analisis Data
Data kuantitatif dianalisis menggunakan
SPSS versi 22 (IBM Software, Armonk, NY). Sebuah uji satu-sampel
chi-square adalah dilakukan untuk menilai perbedaan dalam proporsi. Fre-
sama quencies diharapkan antara tanggapan terhadap pertanyaan. Kualitatif analisis
itative digunakan untuk mengevaluasi respon teks bebas. Ini dilakukan dengan
alat Analisis Teks yang disediakan oleh Survey Monkey. Alltermsyielding respon serat
esgrea terthan 10% dijelaskan di Hasil. Istilah yang digunakan dalam
kurang dari 10% dari tanggapan tercantum hanya jika mereka bisa dipandang
sebagai milik "obat" atau "CBTI" jawaban untuk pertanyaan 5
dari survei.
E.
Hasil
Penelitian atau suevei ini menunjukan
bahwa sebagian besar dokter (N=83) lebih percaya dan merekomendasikan
pengobatan lain yang lebih efektif selain CBTI, sedangkan hanya sebagian kecil
dokter yang merekomendasikan penggunaan obat CBTI (N=22).
BAB
IV
IMPLIKASI
KEPERAWATAN
Dari hasil pengamatan atau survei diatas,
dapat dilakukan implikasi keperawatan yang lain seperti menjaga atau pengatur pola
tidur dengan baik, beraktifitas sesuai dengan kemampuan agar tidak terlalu
letih, serta dapat dikolaborasikan dengan dengan terapi lainnya yang dianjurkan
oleh dokter.
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kesimpulan dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebagian
besar dokter (N=83) lebih percaya dan merekomendasikan pengobatan lain yang
lebih efektif selain CBTI, sedangkan hanya sebagian kecil dokter yang
merekomendasikan penggunaan obat CBTI
(N=22).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar