Selasa, 18 Desember 2018

LAPORAN PENDAHULUAN HIPERTENSI


HIPERTENSI

A.    PENGERTIAN
Hipertensi  adalah suatu keadaan dimana tekanan darah meningkat melebihi batas normal. Penyebab tekanan darah meningkat adalah peningkatan kecepatan denyut jantung, peningkatan resistensi (tahanan) dari pembuluh darah tepi dan peningkatan volume aliran darah darah (Hani, 2010).
 Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah penyakit kelainan jantung atau pembuluh darah yang ditandai dengan peningkatan tekanan pembuluh darah. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), memberikan batasan tekanan darah normal adalah 140/90 mmHg dan tekanan darah sama atau diatas 160/95 dinyatakan sebagai hipertensi. Setiap usia dan jenis kelamin memilki batasan masing-masing:
1.      Pada pria usia < 45 tahun, dinyatakan menderita hipertensi bila tekanan darah waktu berbaring > 130/90 mmHg.
2.      Pada pria usia > 45 tahun, dinyatakan hipertensi bila tekanan darahnya > 145/90 mmHg.
3.      Pada wanita tekanan darah > 160/90 mmHg, dinyatakan hipertensi. (Sumber : Dewi dan Familia, 2010).

B.     ETIOLOGI
Pada umunya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik. Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan perifer. Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi:
1.    Genetik : respon neurologi terhadap stress atau kelainan ekskresi atau transport Na
2.    Obesitas : terkait dengan level insulin yang tinggi, mengakibatkan tekanan darah meningkat
3.    Stress lingkungan
4.    Hilangnya elastisitas jaringan dan arterisklerosis pada orang tua serta pelebaran pembuluh darah
            Berdasarkan etiologinya Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu:
1.    Hipertensi Esensial (Primer)
      Penyebab tidak diketahui namun banyak faktor yang mempengaruhi seperti genetika, lingkungan, hiperaktivitas, susunan saraf simpatik, system renin angiotensin, efek dari ekskresi Na, obesitas, merokok dan stress.
2.    Hipertensi Sekunder
      Dapat diakibatkan karena penyakit parenkim renal/vakuler renal, penggunaan kontrasepsi oral yaitu pil, gangguan endokrin, dll.

C.    PATOFISIOLOGI
Menurunnya tonus vaskuler merangsang saraf simpatis yang diteruskan ke sel jugularis. Dari sel jugularis ini bisa meningkatkan tekanan darah. Dan apabila diteruskan pada ginjal, maka akan mempengaruhi ekskresi pada renin yang berkaitan dengan Angiotensinogen. Dengan adanya perubahan pada angiotensinogen II berakibat pada terjadinya vasokontriksi pada pembuluh darah, sehingga terjadi kenaikan tekanan darah. Selain itu juga dapat meningkatkan hormon aldosteron yang menyebabkan retensi natrium. Hal tersebut akan berakibat pada peningkatan tekanan darah. Dengan Peningkatan tekanan darah maka akan menimbulkan kerusakan pada organ-organ seperti jantung.




D.    PATH WAY












E.     MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis pada klien dengan hipertensi adalah meningkatkan tekanan darah > 140/90 mmHg, sakit kepala, epistaksis, pusing/migrain, rasa berat ditengkuk, sukar tidur, mata berkunang-kunang, lemah dan lelah, muka pucat serta suhu tubuh rendah.

F.     KOMPLIKASI
Hipertensi merupakan faktor resiko utama terjadinya penyakit jantung, gagal jantung kongestif, stroke, gangguan penglihatan dan penyakit ginjal. Tekanan darah yang tinggi umumnya meningkatkan resiko terjadinya komplikasi tersebut. Hipertensi yang tidak diobati akan mempengaruhi semua sistem organ dan akhirnya memperpendek harapan hidup sebesar 10-20 tahun.
Mortalitas pada pasien hipertensi lebih cepat apabila penyakitnya tidak terkontrol dan telah menimbulkan komplikasi ke beberapa organ vital. Sebab kematian yang sering terjadi adalah penyakit jantung dengan atau tanpa disertai stroke dan gagal ginjal.
Dengan pendekatan sistem organ dapat diketahui komplikasi yang mungkin terjadi akibat hipertensi. Komplikasi yang terjadi pada hipertensi ringan dan sedang mengenai mata, ginjal, jantung dan otak. Pada mata berupa perdarahan retina, gangguan penglihatan sampai dengan kebutaan.    Gagal jantung merupakan kelainan yang sering ditemukan pada hipertensi berat selain kelainan koroner dan miokard. Pada otak sering terjadi perdarahan yang disebabkan oleh pecahnya mikroaneurisma yang dapat mengakibakan kematian. Kelainan lain yang dapat terjadi adalah proses tromboemboli dan serangan iskemia otak sementara (Transient Ischemic Attack/TIA). Gagal ginjal sering dijumpai sebagai komplikasi hipertensi yang lama dan pada proses akut seperti pada hipertensi maligna.
Risiko penyakit kardiovaskuler pada pasien hipertensi ditentukan tidak hanya tingginya tekanan darah tetapi juga telah atau belum adanya kerusakan organ target serta faktor risiko lain seperti merokok, dislipidemia dan diabetes melitus. Tekanan darah sistolik melebihi 140 mmHg pada individu berusia lebih dari 50 tahun, merupakan faktor resiko kardiovaskular yang penting. Selain itu dimulai dari tekanan darah 115/75 mmHg, kenaikan setiap 20/10 mmHg meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler sebanyak dua kali (Anggraini, Waren, et. al, 2009).

G.    PENATALAKSANAAN
Penanggulangan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi dua jenis:
1.    Penatalaksanaan Non Farmakologis
a.      Diet
  Pembatasan atau pengurangan konsumsi garam. Penurunan BB dapat menurunkan tekanan darah bersama dengan penurunan aktivitas renin dalam plasma dan kadar aldosteron dalam plasma.
b.      Aktivitas
Klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan yang disesuaikan dengan batasan medis dan sesuai dengan kemampuan seperti berjalan, jogging, bersepeda atau berenang.
2.    Penatalaksanaan Farmakologis
      Secara garis besar terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian atau pemilihan obat anti hipertensi, yaitu:
a.       Mempunyai efektivitas yang tinggi.
b.      Mempunyai toksisitas dan efek samping yang ringan atau minimal.
c.       Memungkinkan penggunaan obat secara oral.
d.      Tidak menimbulkan intoleransi.
e.       Harga obat relatif murah sehingga terjangkau oleh klien.
f.       Memungkinkan penggunaan jangka panjang.
      Golongan obat-obatan yang diberikan pada klien dengan hipertensi seperti golongan diuretic, golongan betablocker, golongan antagonis kalsium, serta golongan penghambat konversi rennin angiotensin.


3.      Test diagnostic
a.       Hb/Ht: untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan factor resiko seperti : hipokoagulabilitas, anemia
b.      BUN / kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi / fungsi ginjal
c.       Glucosa : Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin
d.      Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisyaratkan disfungsi ginjal dan ada DM
e.       CT Scan : Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati
f.       EKG : Dapat menunjukan pola regangan, dimana luas, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi
g.      IUP : mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti : Batu ginjal, perbaikan ginjal
h.      Poto dada : Menunjukan destruksi klasifikasi pada area katup, pembesaran jantung.

H.    DIAGNOSA YANG MUNGKIN MUNCUL
1.    Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung b/d peningkatan afterload
2.    Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidak seimbangan antara suplai dan kebutuhan O2
3.    Gangguan rasa nyaman nyeri : sakit kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler cerebral
4.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi inadekuat, keyakinan budaya, pola hidup monoton
5.    Inefektif koping individu berhubungan dengan mekanisme koping tidak efektif, harapan yang tidak terpenuhi, persepsi tidak realistis
6.    Kurang pengetahuan mengenai kondisi penyakitnya


RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

NO
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TUJUAN /KRITERIA HASIL
INTERVENSI
RASIONAL
1
Resiko penurunan curah jantung b/d peningkatan afterload


Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...x24 jam, klien akan menunjukan:
·         Cardiac Pump effectiveness
·         Vital Sign Status
Kriteria Hasil:
v  Tanda Vital dalam rentang normal (Tekanan darah, Nadi, respirasi)
v  Dapat mentoleransi aktivitas, tidak ada kelelahan
v  Tidak ada edema paru, perifer, dan tidak ada asites
v  Tidak ada penurunan kesadaran
Cardiac Care
v  Evaluasi adanya nyeri dada ( intensitas,lokasi, durasi)
v  Monitor status pernafasan yang menandakan gagal jantung
v  Monitor abdomen sebagai indicator penurunan perfusi
v  Monitor adanya perubahan tekanan darah
v  Monitor adanya dyspneu, fatigue, tekipneu dan ortopneu
v  Anjurkan untuk menurunkan stress
Vital Sign Monitoring
§  Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
§  Monitor kualitas dari nadi
§  Monitor bunyi jantung
§  Monitor frekuensi dan irama pernapasan
§  Monitor pola pernapasan abnormal
§  Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit

Pembatasan komplikasi yang diakibatkan dari ketidakseimbangan antara suplai oksigen miokardial dan kebutuhan pasien yang mengalami gejala kerusakan fungsi jantung

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

NO
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TUJUAN
INTERVENSI
RASIONAL
2
Nyeri akut b/d agen Biologi fisik


Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...x24 jam, klien akan menunjukan:
v  Pain Level
v  Comfort level
dengan criteria hasil:
v  Mampu mengontrol nyeri
v  Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
v  Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
v  Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
v  Tanda vital dalam rentang normal


Pain Management

§  Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
§  Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
§  Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
§  Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau
§  Kurangi faktor presipitasi nyeri
§  Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter personal)
§  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
§  Ajarkan tentang teknik non farmakologi
§  Berikan analgetik untuk mengurangi nyei
§  Tingkatkan istirahat
§  Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri


meringankan atau mengurangi nyeri sampai pada tengkat kenyamanan yang dapat diterima klien

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

NO
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TUJUAN
INTERVENSI
RASIONAL
3
Defisit perawatan diri : makan, mandi, toileting b/d kelemahan


Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ..x24 jam, klien akan menunjukan:
v  Self Care : ADLs
Dengan kriteria Hasil :
v  Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan RR
v  Mampu melakukan aktivitas sehari hari (ADLs) secara mandiri

Self care assistance
v  Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan dasarnya
v  Bantu klien untuk memenuhi kebutuhanya hingga klien bisa mandiri
v  Dekatkan makanan dalam jangkauan klien
v  Bantu klien makan jika diperlukan
v  Ajarkan keluarga untuk membantu klien mandi dan menjaga kebersihan diri
v  Ajarkan keluarga untuk membantu kebutuhan toileting klien
v  Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan dalam beraktivitas
v  Sediakan penguatan positif bagi yang aktif beraktivitas


Membantu klien untuk memenuhi aktivitas sehari-hari hingga klien bisa melakukanya secara mandiri


DAFTAR PUSTAKA

Anggaraini, Ade Dian, et.al (2009). Faktor – Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Hipertensi Pada Pasien Yang Berobat di Poliklinik Dewasa Puskesmas Bangkinang Periode Januari sampai Juni 2008.
Baike (2010). Hubungan genetik terhadap penyakit kardiovaskuler.
Dewi, Sofia dan Digi Familia (2010). Hidup Bahagia dengan Hipertensi. A+Plus Books, Yogyakarta
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah (2010). The 4th Scientific Meeting on Hypertension.
Elsanti, Salma (2009). Panduan Hidup Sehat : Bebas Kolesterol, Stroke, Hipertensi, & Serangan Jantung. Araska, Yogyakarta
Ganong, William F (2009). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC, Jakarta
Hani, Sharon EF, Colgan R.Hypertensive Urgencies and Emergencies. Prim Care Clin Office Pract 2010.
Vaidya CK, Ouellette CK. Hypertensive Urgency and Emergency. Hospital Physician 2009
Wilkimson, J.M., (2007), Buku Saku Diagnosisi Keperawatan Dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC, EGC, Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar