ST ELEVASI
MIOKARD INFARK (STEMI)
A.
DEFINISI
ST Elevasi
Miokard Infark (STEMI) adalah rusaknya bagian otot jantung secara permanen
akibat insufisiensi aliran darah koroner oleh proses degeneratif maupun di
pengaruhi oleh banyak faktor dengan ditandai keluhan nyeri dada, peningkatan enzim jantung dan ST elevasi pada pemeriksaan EKG.
Infark miokardium menunjukan suatu
daerah nekrosis miokardium akibat iskemia total. AMI akut yang
terkenal sebagai “Serangan jantung”, merupakan penyebab tunggal tersering
kematian diindstri dan merupakan salah satu diagnosis rawat inap tersering di
Negara maju (Kumar, 2007)
Infark miokard
Akut adalah iskemia atau nekrosis pada oto jantung yang diakibatkan karena
penurunan aliran darah melalui satu atau lebih arteri koroner (Doengos, 2003).
B.
ETIOLOGI
1.
Faktor penyebab :
a.
Suplai oksigen ke miocard berkurang yang disebabkan oleh
3 faktor :
·
Faktor pembuluh darah :
-
Aterosklerosis.
-
Spasme
-
Arteritis
·
Faktor sirkulasi :
-
Hipotensi
-
Stenosos aurta
-
Insufisiensi
·
Faktor darah :
-
Anemia
-
Hipoksemia
-
Polisitemia
b.
Curah jantung yang meningkat :
·
Aktifitas berlebihan
·
Emosi
·
Makan terlalu banyak
·
Hypertiroidisme
c.
Kebutuhan oksigen miocard meningkat pada :
·
Kerusakan miocard
·
Hypertropimiocard
·
Hypertensi diastolic
2.
Faktor predisposisi :
a.
faktor resiko biologis yang tidak dapat diubah :
·
usia lebih dari 40 tahun
·
jenis kelamin : insiden pada pria tinggi, sedangkan pada
wanita meningkat setelah menopause
·
hereditas
·
Ras : lebih tinggi insiden pada kulit hitam.
b.
Faktor resiko yang dapat diubah :
·
Mayor :
-
Hyperlipidemia
-
Hipertensi
-
Merokok
-
Diabetes
-
Obesitas
-
Diet tinggi lemak jenuh, kalori
·
Minor:
-
Inaktifitas fisik
-
Pola kepribadian tipe A (emosional, agresif, ambisius,
kompetitif).
-
Stress psikologis berlebihan. (Kasuari, 2002)
C.
MANIFESTASI KLINIS
Nyeri dada
penderita infark miokard serupa dengan nyeri angina tetapi lebih intensif dan
berlangsung lama serta tidak sepenuhnya hilang dengan istirahat ataupun
pemberian nitrogliserin (Irmalita, 1996).
Rasa nyeri
hebat sekali sehingga penderita gelisah, takut, berkeringat dingin dan lemas.
Pasien terus menerus mengubah posisinya di tempat tidur. Hal ini dilakukan
untuk menemukan posisi yang dapat
mengurangi rasa sakit, namun tidak berhasil. Kulit terlihat pucat dan
berkeringat, serta ektremitas biasanya terasa dingin (Antman, 2005).
Dari ausklutasi
prekordium jantung, ditemukan suara jantung yang melemah. Pulsasinya juga sulit
dipalpasi. Pada infark daerah anterior, terdengar pulsasi sistolik abnormal
yang disebabkan oleh diskinesis otot-otot jantung. Penemuan suara jantung
tambahan (S3 dan S4), penurunan intensitas suara jantung dan paradoxal
splitting suara jantung S2 merupakan pertanda disfungsi ventrikel jantung.
Jika didengar dengan seksama, dapat terdengar suara friction rub perikard,
umumnya pada pasien infark miokard transmural tipe STEMI (Antman, 2005).
D.
PATOFISIOLOGI
STEMI umumnya terjadi jika aliran darah koroner menurun secara mendadak setelah oklusi trombus pada plak arterosklerosik
yang sudah ada sebelumnya.
Stenosis arteri koroner berat yang berkembang secara lambat biasanya tidak memicu STEMI karena berkembangnya banyak
kolateral sepanjang waktu.
STEMI terjadi jika trombus arteri
koroner terjadi secara cepat pada lokasi injury vaskular, dimana injury ini
di cetuskan oleh faktor-faktor seperti merokok,hipertensi dan akumulasi lipid.
Pada sebagian besar kasus, infark terjadi jika
plak arterosklerosis mengalami fisur, ruptur atau ulserasi
dan jika kondisi lokal
atau sistemik memicu trombogenesis, sehingga terjadi trombus mural
pada lokasi ruptur yang
mengakibatkan oklusi arteri
koroner. Penelitian histologis menunjukkan plak koroner cenderung mengalami
ruptur jika mempunyai fibrous cap yang tipis dan
inti kaya lipid (lipid
rich core). Pada STEMI gambaran patologis klasik terdiri dari fibrin rich red
trombus, yang dipercaya menjadi dasar
sehingga STEMI memberikan respon terhadap terapi trombolitik. Selanjutnya pada lokasi ruptur plak, berbagai agonis (kolagen, ADP,
efinefrin, serotonin) memicu aktivasi trombosit, yang selanjutnya akan
memproduks i dan melepaskan tromboxan A2 (vasokontriktor lokal yang poten).
Selain aktivasi trombosit memicu perubahan konformasi reseptor glikoprotein IIb/IIIa. Setelah mengalami konversi fungsinya, reseptor mempunyai afinitas tinggi terhadap sekuen asam amino
pada protein adhesi yang
larut
(integrin) seperti faktor von Willebrand (vWF) dan fibrinogen, dimana keduanya adalah molekul
multivalen yang dapat mengikat 2 platelet yang berbeda secara
simultan, menghasilkan ikatan silang platelets
dan
agregasi.Kaskade koagulasi di aktivasi
oleh pajanan tissue factor pada sel
endotel yang rusak. Faktor VII dan X di
aktivasi, mengakibatkan konversi protrombin
menjadi trombin, yang kemudian mengkonversi fibrinogen menjadi fibrin. Arteri koroner yang terlibat kemudian
akan mengalami oklusi oleh trombus yang terdiri agregat trombosit dan fibrin. Pada kondisi yang jarang, STEMI dapat juga disebabkan oleh emboli koroner, abnormalitas kongenital, spasme koroner dan
berbagai penyakit inflamasi sistemik. (Alwi, 2006)
E.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.
Pemeriksaan Laboratotium Pemeriksaan Enzim jantung :
a.
CK (Creatini Kinase) : Isoenzim yang ditemukan pada otot
jantung meningkat pada 3-6 jam memuncak dalam 12-24 jam, kembali normal dalam
36-48 jam (3-5 hari).
b.
CK-MB: meningkat antara 2-4 jam, memuncak pada 12-20 jam
dan kembali normal pada 48-72 jam
c.
LDH(laktat dehidrogenase), LDH1, dan LDH2: Meningkat
dalam 24 jam dan memakan waktu lama untuk kembali normal
d.
AST (/SGOT : Meningkat
2.
Elektrokardiogram (EKG)
Pemeriksaan EKG digunakan untuk mencatat aktivitas elektrik jantung.
Melalui aktivitas elektrik jantung dapat diketahui irama jantung,
besarnya jantung, dan kondisi otot jantung, kondisi otot jantung inilah
yang memiliki kaitanya dengan PJK.
3.
Tes Treadmill Atau Exercise Stress Testing (uji
latih jantung dengan bebean)
Exercise testing merupakan salah satu tes yang paling sering dilakukan
untuk mendiagnosis apakah seseorang terkena menderita penyakit jantung
dan juga untuk menstratifikasi berat ringannya penyakit jantung. Selain
itu tes treadmill juga dapat dipakai untuk mengukur kapasitas jantung, gangguan
irama, dan lain-lain.
4.
Echocardiography (Ekokardiografi)
Ekokardiografi adalah prosedur yang menggunakan gelombang suara ultra untuk
mengamati struktur jantung dan pembuluh darah, juga dapat menilai fungsi
jantung.
5.
Angiografi korener
Merupakan cara dengan menggunakan sinar X dan kontras yang disuntikan
kedalam arteri koroner melalui kateter untuk melihat adanya penyempitan
diarteri koroner.
6.
Multislice Computed Tomograpy Scanning (MSCT)
CT menghasilkan tampilan secara tomografi (irisan) digital dari sinar X
yang menembus organ. Sinar X yang menembus diterima oleh detektor yang
mengubahnya menjadi data elektrik dan diteruskan ke sistem komputer untuk
diolah menjadi tampilan irisan organ-organ tubuh.
7.
Cardiac Magnetic Resonance Imaging (Cardiac MRI)
Merupakan salah satu teknik pemeriksaan diagnostik dalam ilmu kedokteran,
yang menggunakan interaksi proton-proton tubuh dengan gelombang radio-frekuensi
dalam medan magnet (sekitar 0,64-3 Tesla) untuk menghasilkan tampilan penampang
(irisan) tubuh.
8.
Radionuclear Medicine
Dengan menggunakan radio aktif dimasukan kedalamtubuh
pasien, kemudian dideteksi dengan menggunakan kamera gamma atau kamera
positron, sehingga pola tampilan yang terjadi berdasrkan pola organ yang
memancarkan sinar gamma. (Kabo, 2008).
F.
PENATALAKSANAAN
1.
Medis
Tujuan penatalaksanaan medis yang dilakukan adalah memperkecil kerusakan
jantuang sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi. Kerusakan
jantung diperkecil dengan cara segera mengembalikan keseimbangan antara
kebutuhan dan suplai oksigen jantung. Terapi obat-obatan ,pemberian O2, tirah
baring dilakukan secara bersamaan untuk tetap mempertahankan jantung.
Obat-obatan dan O2 digunakan untuk meningkatkan suplay O2, sementara tirah
baring digunakan untuk mengurangi kebutuhan O2. Hilangnya nyeri merupakan
indicator utama bahwa kebutuhan dan suplai O2 telah mencapai keseimbangan. Dan
dengan penghentian aktifitas fisik untuk mengurangi beben kerja jantung
membatasi luas kerusakan.
2.
Farmakologi
Ada 3 kelas obat-obatan yang digunakan untuk meningkatkan
suplai oksigen; Vasodilator untuk mengurangi nyeri jantung,missal;NTG
(nitrogliserin). Anti koagulan Missal;heparin (untuk mempertahankan integritas
jantung) Trombolitik Streptokinase (mekanisme pembekuan dalam tubuh). (Smeltzer
& Bare,2006).
G.
ASUHAN KEPERAWATAN
1.
PENGKAJIAN
Pada anamnesis perlu ditanyakan
dengan lengkap bagaimana kriteria nyeri
dada
yang di
alami pasien, sifat nyeri dada pada pasien STEMI merupakan nyeri
dada tipikal (angina). Faktor resiko
seperti hipertensi,diabetes melitus, dislipidemia, merokok, serta riwayat penyakit jantung koroner di keluarga (Alwi, 2006).
Pada hampir setengah
kasus, terdapat faktor pencetus sebelum
terjadi
STEMI, seperti aktivitas fisik berat, stress, emosi, atau penyakit medis lain yang menyertai. Walaupun STEMI bisa terjadi sepanjang hari atau
malam, tetapi variasi sirkadian
di
laporkan
dapat terjadi pada pagi
hari dalam beberapa jam setelah bangun tidur.
Pada pemeriksaan fisik di dapati pasien gelisah dan tidak bisa istirahat. Seringkali ektremitas pucat di sertai
keringat dingin. Kombinasi nyeri dada substernal
> 30 menit dan banyak keringat di
curigai
kuat adanya STEMI. Tanda fisis lain pada disfungsi ventrikular adalah
S4
dan S3 gallop, penurunan intensitas jantung pertama dan
split paradoksikal bunyi jantung kedua. Dapat ditemukan murmur midsistolik atau late sistolik apikal yang bersifat sementara (Alwi, 2006).
Selain itu diagnosis STEMI ditegakan melalui gambaran EKG
adanya
elevasi
ST
kurang lebih 2mm, minimal
pada dua sadapan prekordial yang berdampingan atau kurang lebih 1mm pada 2 sadapan ektremitas. Pemeriksaan enzim jantung terutama troponin T yang
mengikat, memperlua, memperkuat
diagnosis. (Alwi, 2006).
2.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
a.
Nyeri berhubungan dengan iskemia dan infark jaringan
miokard
b.
Penurunan curah jantung berhubungan dengan irama jantung
strokevolume, pre load dan afterload, kontraktiltas jantung.
c.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen ditandai dengan kelemahan
dalam aktivitas .
d.
Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan
ketidakseimbangan perfusi ventilasi. (Herdman, 2012).
3.
INTERVENSI :
1.
Nyeri akut
|
Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi
|
Rencana keperawatan
|
|
|
Tujuan dan Kriteria Hasil
|
Intervensi
|
|
|
Nyeri akut berhubungan
dengan:
Agen injuri (biologi, kimia, fisik, psikologis),
kerusakan jaringan miokard
DS:
- Laporan
secara verbal
DO:
- Posisi untuk
menahan nyeri
- Tingkah laku
berhati-hati
- Gangguan
tidur (mata sayu, tampak capek, sulit atau gerakan kacau, menyeringai)
- Terfokus pada
diri sendiri
- Fokus
menyempit (penurunan persepsi waktu, kerusakan proses berpikir, penurunan
interaksi dengan orang dan lingkungan)
- Tingkah laku
distraksi, contoh : jalan-jalan, menemui orang lain dan/atau aktivitas,
aktivitas berulang-ulang)
- Respon
autonom (seperti diaphoresis, perubahan tekanan darah, perubahan nafas, nadi
dan dilatasi pupil)
- Perubahan
autonomic dalam tonus otot (mungkin dalam rentang dari lemah ke kaku)
- Tingkah laku
ekspresif (contoh : gelisah, merintih, menangis, waspada, iritabel, nafas
panjang/berkeluh kesah)
- Perubahan
dalam nafsu makan dan minum
|
NOC :
v Pain Level,
v pain control,
v comfort level
Setelah dilakukan tinfakan keperawatan selama …. Pasien
tidak mengalami nyeri, dengan kriteria hasil:
-
Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu
menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
-
Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan
manajemen nyeri
-
Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan
tanda nyeri)
-
Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
-
Tanda vital dalam rentang normal
-
Tidak mengalami gangguan tidur
|
NIC :
-
Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk
lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
-
Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
-
Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan
dukungan
-
Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
-
Kurangi faktor presipitasi nyeri
-
Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
-
Ajarkan tentang teknik non farmakologi: napas dala,
relaksasi, distraksi, kompres hangat/ dingin
-
Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri: ……...
-
Tingkatkan istirahat
-
Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri,
berapa lama nyeri akan berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur
-
Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian
analgesik pertama kali
|
2.
Penurunan curah jantung
|
Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi
|
Rencana keperawatan
|
|
|
Tujuan dan Kriteria Hasil
|
Intervensi
|
|
|
Penurunan curah jantung b/d gangguan
irama jantung, stroke volume, pre load dan afterload, kontraktilitas jantung.
DO/DS:
-
Aritmia, takikardia, bradikardia
-
Palpitasi, oedem
-
Kelelahan
-
Peningkatan/penurunan JVP
-
Distensi vena jugularis
-
Kulit dingin dan lembab
-
Penurunan denyut nadi perifer
-
Oliguria, kaplari refill lambat
-
Nafas pendek/ sesak nafas
-
Perubahan warna kulit
-
Batuk, bunyi jantung S3/S4
-
Kecemasan
|
NOC :
·
Cardiac Pump
effectiveness
·
Circulation
Status
·
Vital Sign
Status
·
Tissue
perfusion: perifer
Setelah dilakukan asuhan selama………penurunan kardiak
output klien teratasi dengan kriteria hasil:
-
Tanda Vital dalam rentang normal (Tekanan darah, Nadi,
respirasi)
-
Dapat mentoleransi aktivitas, tidak ada kelelahan
-
Tidak ada edema paru, perifer, dan tidak ada asites
-
Tidak ada penurunan kesadaran
-
AGD dalam batas normal
-
Tidak ada distensi vena leher
-
Warna kulit normal
|
NIC :
-
Evaluasi adanya nyeri dada
-
Catat adanya disritmia jantung
-
Catat adanya tanda dan gejala penurunan cardiac putput
-
Monitor status pernafasan yang menandakan gagal jantung
-
Monitor balance cairan
-
Monitor respon pasien terhadap efek pengobatan
antiaritmia
-
Atur periode latihan dan istirahat untuk menghindari
kelelahan
-
Monitor toleransi aktivitas pasien
-
Monitor adanya dyspneu, fatigue, tekipneu dan ortopneu
-
Anjurkan untuk menurunkan stress
-
Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
-
Monitor VS saat pasien berbaring, duduk, atau berdiri
-
Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan
-
Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah
aktivitas
-
Monitor jumlah, bunyi dan irama jantung
-
Monitor frekuensi dan irama pernapasan
-
Monitor pola pernapasan abnormal
-
Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit
-
Monitor sianosis perifer
-
Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang
melebar, bradikardi, peningkatan sistolik)
-
Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign
-
Jelaskan pada pasien tujuan dari pemberian oksigen
-
Sediakan informasi untuk mengurangi stress
-
Kelola pemberian obat anti aritmia, inotropik,
nitrogliserin dan vasodilator untuk mempertahankan kontraktilitas jantung
-
Kelola pemberian antikoagulan untuk mencegah trombus
perifer
-
Minimalkan stress lingkungan
|
3.
Intoleransi aktifitas
|
Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi
|
Rencana keperawatan
|
|
|
Tujuan dan Kriteria Hasil
|
Intervensi
|
|
|
Intoleransi aktivitas
Berhubungan dengan : ketidakseimbangan antara suplai
dan kebutuhan oksigen.
DS:
-
Melaporkan secara verbal adanya
kelelahan atau kelemahan.
-
Adanya dyspneu atau ketidaknyamanan saat beraktivitas.
DO :
-
Respon abnormal dari tekanan darah atau nadi terhadap
aktifitas
-
Perubahan ECG : aritmia, iskemia
|
NOC :
v Self Care :
ADLs
v Toleransi aktivitas
v Konservasi
eneergi
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …. Pasien
bertoleransi terhadap aktivitas dengan Kriteria Hasil :
-
Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai
peningkatan tekanan darah, nadi dan RR
-
Mampu melakukan aktivitas sehari hari (ADLs) secara
mandiri
-
Keseimbangan aktivitas dan istirahat
|
NIC :
-
Observasi adanya pembatasan klien dalam melakukan
aktivitas
-
Kaji adanya faktor yang menyebabkan kelelahan
-
Monitor nutrisi dan sumber energi yang adekuat
-
Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi
secara berlebihan
-
Monitor respon kardivaskuler terhadap aktivitas
(takikardi, disritmia, sesak nafas, diaporesis, pucat, perubahan hemodinamik)
-
Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat pasien
-
Kolaborasikan dengan Tenaga Rehabilitasi Medik dalam
merencanakan progran terapi yang tepat.
-
Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu
dilakukan
-
Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yang sesuai
dengan kemampuan fisik, psikologi dan sosial
-
Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber
yang diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan
-
Bantu untuk mendpatkan alat bantuan aktivitas seperti
kursi roda, krek
-
Bantu untuk mengidentifikasi aktivitas yang
disukai
-
Bantu klien untuk membuat jadwal latihan diwaktu luang
-
Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan
dalam beraktivitas
-
Sediakan penguatan positif bagi yang aktif beraktivitas
-
Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan
penguatan
-
Monitor respon fisik, emosi, sosial dan spiritual
|
4.
Gangguan pertukaran Gas
|
Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi
|
Rencana keperawatan
|
|
|
Tujuan dan Kriteria Hasil
|
Intervensi
|
|
|
Gangguan Pertukaran gas
Berhubungan dengan :
-
ketidakseimbangan perfusi ventilasi
-
perubahan membran kapiler-alveolar
DS:
-
sakit kepala ketika bangun
-
Dyspnoe
-
Gangguan penglihatan
DO:
-
Penurunan CO2
-
Takikardi
-
Hiperkapnia
-
Keletihan
-
Iritabilitas
-
Hypoxia
-
kebingungan
-
sianosis
-
warna kulit abnormal (pucat, kehitaman)
-
Hipoksemia
-
hiperkarbia
-
AGD abnormal
-
pH arteri abnormal
-
frekuensi dan kedalaman nafas abnormal
|
NOC:
v Respiratory
Status : Gas exchange
v Keseimbangan
asam Basa, Elektrolit
v Respiratory
Status : ventilation
v Vital Sign
Status
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ….
Gangguan pertukaran pasien teratasi dengan kriteria hasi:
-
Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigenasi
yang adekuat
-
Memelihara kebersihan paru paru dan bebas dari tanda
tanda distress pernafasan
-
Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang
bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu
bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)
-
Tanda tanda vital dalam rentang normal
-
AGD dalam batas normal
-
Status neurologis dalam batas normal
|
NIC :
-
Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
-
Pasang mayo bila perlu
-
Lakukan fisioterapi dada jika perlu
-
Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
-
Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
-
Berikan bronkodilator ;
-
Barikan pelembab udara
-
Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
-
Monitor respirasi dan status O2
-
Catat pergerakan dada,amati kesimetrisan, penggunaan
otot tambahan, retraksi otot supraclavicular dan intercostal
-
Monitor suara nafas, seperti dengkur
-
Monitor pola nafas : bradipena, takipenia, kussmaul,
hiperventilasi, cheyne stokes, biot
-
Auskultasi suara nafas, catat area penurunan / tidak
adanya ventilasi dan suara tambahan
-
Monitor TTV, AGD, elektrolit dan ststus mental
-
Observasi sianosis khususnya membran mukosa
-
Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang persiapan
tindakan dan tujuan penggunaan alat tambahan (O2, Suction, Inhalasi)
-
Auskultasi bunyi jantung, jumlah, irama dan denyut
jantung
|
REFERENSI
Doengoes, M.E. (2006). Rencana Asuhan Keperawatan:Pedoman untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta :EGC.
Kasuari, Asuhan Keperawatan Sistem Pencernaan dan Kardiovaskuler Dengan
Pendekatan Patofisiology, Magelang, Poltekes Semarang PSIK Magelang,
2002
Antman, E.M., Braunwald, E., 2005. ST-Segment Elevation Myocardial
Infarction. In: Kasper, D.L., Fauci, A.S., Longo, D.L., Braunwald, E.,
Hauser, S.L., Jameson, J. L., eds. Harrison’s Principles of Internal
Medicine. 16 th ed. USA: McGraw-Hill 1449-1450
Alwi Idrus, 2006. Infark Miokard Akut Dengan Elevasi ST. Dalam: Sudoyo
AW, Setiohadi Bambang, Alwi Idrus, Simadibrata MK, Setiati Siti, 2006. Ilmu
penyakit dalam: Edisi ke 4. Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta, 1615-1625.
Kabo, P. 2008. Penyakit jantung koroner. Jakarta :Gramedia
Smeltzer. C.S & Bare.B (2006). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth. Jakarta : EGC.
Herdman, T. H. (2012). NANDA internasional. Diagnosis Keperawatan :
Definisi dan Klasifikasi 2012-2014. alih bahasa Made Sumarwati, Dwi Widiarti, Estu
Tiar, editor bahasa Indonesia Monica Ester. Jakarta : EGC.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar