LAPORAN PENDAHULUAN
DEPRESI
A.
DEFINISI
Depresi
adalah suatu kelainan alam perasaan berupa hilangnya minat atau kesenangan
dalam aktivitas-aktivitas yang biasa dan pada waktu yang lampau (Townsend,2007).
Rentang respon emosi individu dapat berfluktuasi dalam rentang respon emosi
dari adaptif sampai maladaptif. Respon depresi merupakan emosi yang mal adaptif
(Keliat,2009).
B.
JENIS-JENIS DEPRESI
Penggolongan depresi dapat dibedakan (Wilkinson,2008):
1. Menurut
gejalanya
a. Depresi neurotic
Depresi
neurotik biasanya terjadi setelah mengalami peristiwa yang menyedihkan tetapi
yang jauh lebih berat daripada biasanya.Penderitanya seringkali dipenuhi trauma
emosional yang mendahului penyakit misalnya kehilangan orang yang dicintai,
pekerjaan, milik berharga, atau seorang kekasih. Orang yang menderita depresi neurotik bisa merasa
gelisah, cemas dan sekaligus merasa depresi.Mereka menderita hipokondria atau
ketakutan yang abnormal seperti agrofobia tetapi mereka tidak menderita delusi
atau halusinasi.
b. Depresi
psikotik
Secara
tegas istilah 'psikotik' harus dipakai untuk penyakit depresi yang berkaitan
dengan delusi dan halusinasi atau keduanya.
c. Psikosis
depresi manik
Depresi
manik biasanya merupakan penyakit yang kambuh kembali disertai gangguan suasana
hati yang berat.Orang yang mengalami gangguan ini menunjukkan gabungan depresi
dan rasa cemas tetapi kadang-kadang hal ini dapat diganti dengan perasaan
gembira, gairah, dan aktivitas secara berlebihan gambaran ini disebut 'mania'.
d. Pemisahan
diantara keduanya
Para dokter
membedakan antara depresi neurotik dan psikotik tidak hanya berdasarkan gejala
lain yang ada dan seberapa terganggunya perilaku orang tersebut.
2. Menurut
Penyebabnya
a. Depresi
reaktif
Pada
depresi reaktif, gejalanya diperkirakan akibat stres luar seperti kehilangan
seseorang atau kehilangan pekerjaan.
b. Depresi
endogenus
Pada
depresi endogenous, gejalanya terjadi tanpa dipengaruhi oleh faktor lain.
c. Depresi
primer dan sekunder
Tujuan
penggolongan ini adalah untuk memisahkan depresi yang disebabkan penyakit fisik
atau psiatrik atau kecanduan obat atau alkohol (depresi 'sekunder') dengan
depresi yang tidak mempunyai penyebab-penyebab ini (depresi
'primer').Penggolongan ini lebih banyak digunakan untuk penelitian tujuan
perawatan.
3. Menurut arah
penyakit
a. Depresi
tersembunyi
Diagnosa
depresi tersembunyi (atau atipikal) kadang-kadang dibuat
bilamana depresi dianggap mendasari gangguan fisik dan mental yang
tidak dapat diterangkan, misalnya rasa sakit yang lama tanpa sebab yang nyata
atau hipokondria atau sebaliknya perilaku yang tidak dapat diterangkan seperti
wanita lanjut usia yang suka mengutil.
b. Berduka
Proses
kesedihan itu wajar dan merupakan reaksi yang diperlukan terhadap suatu
kehilangan. Proses ini membuat orang yang kehilangan itu mampu menerima
kenyataan tersebut, mengalami rasa sakit akibat kesedihan yang menimpa,
menderita putusnya hubungan dengan orang yang dicintai dan penyesuaian kembali.
c. Depresi
pasca lahir
Banyak
wanita kadang-kadang mengalami periode gangguan emosional dalam 10 hari pertama
setelah melahirkan bayi ketika emosi mereka masih labil dan mereka merasa sedih
dan suka menangis.Seringkali hal itu berlangsung selama satu atau dua hari
kemudian berlalu.
d. Depresi dan
manula
Usia tua
merupakan saat meningkatnya kerentanan terhadap depresi. Namun, kadang-kadang
depresi pada manula ditutupi oleh penyakit fisik dan cacat tubuh seperti
penglihatan atau pendengaran yang terganggu.Oleh karena itu, sangatlah penting
untuk mengingat kemungkinan terjadinya penyakit depresi pada orang tua.
C.
FAKTOR PREDISPOSISI
Terdapat 2 teori untuk menjelaskan faktor pendukung
terjadinya depresii (Townsend,2007):
1. Teori
Biologis
a. Genetik. Dari
sejumlah penyelidikan yang telah dilakukan ditemukan bahwa terdapat dukungan
keterlibatan herediter dalam penyakit depresi. Luasnya akibat pada pokoknya
tampak menjadi lebih tinggi diantara individu-individu yang memiliki hubungan
keluarga dengan kelainan tersebut daripada diantara populasi umum (DSM-III-R, 1987).
b. Biokimia.
Ketidakseimbangan elektrolit tampak memainkan peranan dalam penyakit depresif.
Suatu kesalahan hasil metabolisme dalam perubahan natrium dan kalium di dalam
neuron (Gibbons, 1960).
Teori biokimia yang lainnya menyangkut biogenik amin
norepinefrin, dopamin, dan serotinin.Tingkatan zat-zat kimia ini mengalami defisiensi
dalam individu dengan penyakit depresif (Janowsky et al, 1988).
2. Teori
Psikososial
a. Psikoanalisa. Teori ini
(Klein, 1934) melibatkan suatu ketidakpuasan dalam hubungan awal ibu-bayi
sebagai suatu predisposisi untuk penyakit depresif. Kebutuhan bayi tidak
terpenuhi, suatu kondisi yang digambarkan sebagai suatu kehilangan. Respons
berduka belum terpecahkan, dan kemarahan dan permusuhan ditunjukkan kepada diri
sendiri. Ego tetap lemah, sementara superego meluas dan menjadi menghukum.
b. Kognitif. Ahli teori-teori
ini (Beck et al, 1979) yakin bahwa penyakit depresif terjadi sebagai suatu
hasil dari kelainan kognitif. Kelainan proses pikir membantu perkembangan
evaluasi diri individu. Persepsi merupakan ketidakadekuatan dan
ketidakberhargaan. Pandangan untuk masa depan merupakan suatu kepesimisan
keputusasaan.
c. Teori
Pembelajaran. Teori ini (seligman, 1973) mengemukakan bahwa
penyakit depresif dipengaruhi oleh keyakinan individu bahwa ada kurang kontrol
atau situasi-situasi kehidupannya.Ini dianggap bahwa keyakinan ini muncul dari
pengalaman-pengalaman yang mengakibatkan kegagalan (baik yang dirasakan atau
yang nyata).Setelah sejumlah kegagalan, individu merasa tidak berdaya untuk
berhasil dalam usaha-usaha yang keras, dan oleh karena itu berhenti mencoba. Pembelajaran
ketidakberdayaan ini digambarkan sebagai suatu predisposisi untuk penyakit
depresif.
d. Teori
Kehilangan Objek. Teori ini (Bowly, 1973) menyatakan
bahwa penyakit depresif terjadi jika pribadi tersebut terpisah dari atau
ditolak orang terdekat selama 6 bulan pertama kehidupan. Proses ikatan
diputuskan, dan anak menarik diri dari orang lain dan lingkungan.
D.
FAKTOR PENCETUS
Ada empat sumber utama stresor yang dapat mencetuskan
gangguan alam perasaan (Sundeen,Stuart,1998:260):
1.
Kehilangan keterikatan, yang
nyata atau yang dibayangkan, termasuk kehilangan cinta, seseorang, fungsi
fisik, kedudukan, atau harga diri. Karena elemen aktual dan simbolik melibatkan
konsep kehilangan, maka persepsi pasien merupakan hal yang sangat penting.
2.
Peristiwa besar dalam kehidupan sering
dilaporkan sebagai pendahulu episode depresi dan mempunyai dampak terhadap
masalah-masalah yang dihadapi sekarang dan kemampuan menyelesaikan masalah.
3.
Peran dan ketegangan peran telah
dilaporkan mempengaruhi perkembangan depresi, terutama pada wanita.
4.
Perubahan fisiologik diakibatkan
oleh obat-obatan atau berbagai penyakit fisik, seperti infeksi, neoplasma, dan
gangguan keseimbangan metabolik, dapat mencetuskan gangguan alam perasaan.
E.
PENGELOLAAN DEPRESI PADA USIA
LANJUT (FKUI,2000:60 - 76)
1. Hal-hal yang
perlu diperhatikan pada usia lanjut :
a. Obat-obatan
Beberapa jenis obat seperti digoksin, L-dopa, steroid,
penyekat beta dan anti hipertensi lainnya, pemberian benzodiazepin jangka
panjang, fenobarbiton, dan pemakaian neuroleptik jangka lama dapat
mengakibatkan depresi.
b. Neurobiologik
Perubahan neuroendokrinologik seperti hormon,
neurotransmiter (serotonin, dopamin, dll) menyebabkan usia lanjut rentan
terhadap depresi. Depresi pada usia lanjut dapat diakibatkan oleh proses
neurodegeneratif, misalnya depresi sebagai gejala dari demensia.
c. Psikososial
·
Kepribadian pasien sebelum sakit
turut berperan dalam manifestasi gejala depresi, misalnya orang yang pencemas
semasa mudanya ketika mengalami depresi di usia lanjut memperlihatkan gambaran
depresi neurotik yang menyolok.
·
Dukungan sosial yang buruk,
kapasitas membina keakraban yang lemah juga berperan dalam
terjadinya depresi.
·
Berbagai peristiwa kehidupan seperti
kematian pasangan, problem keuangan yang berat, pindah rumah, peringatan
peristiwa sedih, anak yang cacat menanjak dewasa, dan sebagainya lebih sering
terjadi pada pasien-pasien usia lanjut dengan depresi dibandingkan dengan usia
lanjut yang sehat.
·
Gambaran Klinis Depresi Pada Usia
Lanjut
Seorang usia lanjut yang mengalami depresi kebanyakan
menyangkal adanya mood depresi. Yang terlihat adalah gejala
hilangnya tenaga (loyo), hilangnya rasa senang, tidak bisa tidur atau keluhan
rasa sakit dan nyeri.Menurut Brodaty (1991) gejala yang sering tampil adalah
ansietas (kecemasan), preokupasi gejala fisik, perlambatan motorik, kelelahan,
mencela diri sendiri, pikiran bunuh diri dan insomnia.
·
Gambaran klinik depresi pada pasien
berusia lanjut (dibandingkan dengan pasien yang lebih muda), adalah mereka
lebih banyak menonjolkan gejala somatiknya disamping mengeluh tentang gangguan
memori, dan umumnya cenderung meminimalkan atau menyangkal mood depresinya.
Hal lain yang tidak menguntungkan adalah pasien usia lanjut umumnya kurang mau
mencari bantuan psikiater karena tak dapat menerima penjelasan yang bersifat
psikologis untuk gangguan depresi yang mereka alami.
2. Diagnosis
Depresi
Gangguan depresi dibedakan dalam depresi ringan,
sedang dan berat sesuai dengan banyak dan beratnya gejala serta dampaknya
terhadap fungsi kehidupan seseorang. Menurut ICD 10, pada gangguan depresi ada
3 gejala utama yaitu :
a) Mood
terdepresi (suasana perasaan hati murung / sedih),
b) Hilang minat
atau gairah,
c) Hilang
tenaga dan mudah lelah, yang disertai dengan gejala lain seperti :
d) Konsentrasi
menurun,Harga diri menurun,
e) Perasaan
bersalah,
f) Pesimis
memandang masa depan,
g) Ide bunuh
diri atau menyakiti diri sendiri,
h) Pola tidur
berubah,
i)
Nafsu makan menurun.
Tabel
2.1Pedoman Berat Ringannya Depresi
|
Depresi
|
Gejala
Utama
|
Gejala
lain
|
Fungsi
|
Keterangan
|
|
Ringan
|
2
|
2
|
Baik
|
Distress +
|
|
Sedang
|
2
|
3 atau 4
|
Terganggu
|
Berlangsung
minimal 2 minggu
|
|
Berat
|
3
|
4
|
Terganggu
berat
|
Intensitas
gejala sangat berat
|
Sumber:Bagian
Ilmu Penyakit Dalam
FKUI,2000
F.
PEMERIKSAAN PASIEN DEPRESI
Salah satu langkah awal yang penting
dalam penatalaksanaan depresi adalah mendeteksi atau mengidentifikasi. Sampai
saat ini belum ada suatu konsensus atau prosedur khusus untuk penapisan /
skrining depresi pada populasi usia lanjut. Salah satu instrumen yang dapat
membantu adalah Geriatric Depression Scale (GDS) yang terdiri
atas 30 pertanyaan yang harus dijawab oleh pasien sendiri.GDS ini dapat
dimampatkan menjadi hanya 15 pertanyaan saja.
Bilamana
ditemukan tanda-tanda yang mengarah pada depresi, harus dilakukan lagi
pemeriksaan yang lebih rinci sebagai berikut :
1) Riwayat
klinik / anamnesis
a) riwayat
keluarga
b) gangguan
psikiatri yang lampau
c) kepribadian
d) riwayat social
e) ide /
percobaan bunuh diri
f) gangguan-gangguan
somatic
g) perkembangan
gejala-gejala depresi
2) Pemeriksaan
Fisik
Pemeriksaan fisik pada pasien depresi sangat penting
karena gejala-gejala depresi sering disertai dengan penyakit fisik.
3) Pemeriksaan
kognitif
Penilaian
Mini Mental State Examination (MMSE) pada usia lanjut yang menunjukkan gejala
depresi bermanfaat dalam tindak lanjut penatalaksanaan pasien. Perbaikan pada
MMSE setelah dilakukan terapi terhadap depresi, menunjukkan bahwa pasien dengan
depresi mengalami masalah konsentrasi dan memori yang mempengaruhi fungsi
kognitifnya.
4) Pemeriksaan
status mental
v Penampilan
dan perilaku
v Mood /
suasana perasaan hati
v Pembicaraan
v Isi pikiran
v Gejala
ansietas
v Gejala
hipokondriakal
5) Pemeriksaan
lainnya
Mengingat pasien usia lanjut rentan terhadap gangguan
metabolik sekunder akibat penyakit depresi yang berat, seperti tidak adekuatnya
asupan cairan, maka perlu dipertimbangkan pemeriksaan sebagai berikut :
v ureum dan
elektrolit
v darah
lengkap dan hitung jenis
v Vitamin B12
dan Folat
v Tes fungsi
Tiroid
v Foto
dada
v Lain-lain :
serum sifilis,Electro Cardio Graphy ( ECG),Electro Encephalo Graphy ( EEG), CT-scan dst.
3. Prognosis
Prognosis
depresi pada usia lanjut tidaklah berbeda dengan prognosis pada usia yang lebih
muda. Umumnya pasien akan sembuh dan tetap dapat berfungsi dengan baik jika
depresi diobati dan ditatalaksana dengan baik. Hasil terapi yang kurang baik
tampaknya berhubungan dengan episode awal yang parah dan adanya komorbiditas
dengan penyakit kronik.
4. Penatalaksanaan
Depresi Pada usia Lanjut
a)
Terapi fisik
a. Obat
Secara umum,
semua obat antidepresan sama efektivitasnya. Pemilihan jenis antidepresan
ditentukan oleh pengalaman klinikus dan pengenalan terhadap berbagai jenis
antidepresan.Biasanya pengobatan dimulai dengan dosis separuh dosis dewasa,
lalu dinaikkan perlahan-lahan sampai ada perbaikan gejala.
b. Terapi
Elektrokonvulsif (ECT)
Untuk pasien
depresi yang tidak bisa makan dan minum, berniat bunuh diri atau retardasi
hebat maka ECT merupakan pilihan terapi yang efektif dan aman. ECT diberikan 1-
2 kali seminggu pada pasien rawat nginap, unilateral untuk mengurangi confusion/memory
problem.Terapi ECT diberikan sampai ada perbaikan mood (sekitar
5 - 10 kali), dilanjutkan dengan anti depresan untuk mencegah kekambuhan.
5. Terapi
Psikologik
a) Psikoterapi
Psikoterapi
individual maupun kelompok paling efektif jika dilakukan bersama-sama dengan
pemberian antidepresan.Baik pendekatan psikodinamik maupun kognitif behavioursama
keberhasilannya. Meskipun mekanisme psikoterapi tidak sepenuhnya dimengerti,
namun kecocokan antara pasien dan terapis dalam proses terapeutik akan
meredakan gejala dan membuat pasien lebih nyaman, lebih mampu mengatasi persoalannya
serta lebih percaya diri.
b) Terapi
kognitif
Terapi
kognitif - perilaku bertujuan mengubah pola pikir pasien yang selalu negatif
(persepsi diri, masa depan, dunia, diri tak berguna, tak mampu dan sebagainya)
ke arah pola pikir yang netral atau positif. Ternyata pasien usia lanjut dengan
depresi dapat menerima metode ini meskipun penjelasan harus diberikan secara
singkat dan terfokus. Melalui latihan-latihan, tugas-tugas dan aktivitas
tertentu terapi kognitif bertujuan mengubah perilaku dan pola pikir.
c) Terapi
keluarga
Problem
keluarga dapat berperan dalam perkembangan penyakit depresi, sehingga dukungan
terhadap keluarga pasien sangat penting. Proses penuaan mengubah dinamika
keluarga, ada perubahan posisi dari dominan menjadi dependen pada orang usia
lanjut. Tujuan terapi terhadap keluarga pasien yang depresi adalah untuk
meredakan perasaan frustasi dan putus asa, mengubah dan memperbaiki sikap /
struktur dalam keluarga yang menghambat proses penyembuhan pasien.
d) Penanganan
Ansietas (Relaksasi)
Teknik yang
umum dipergunakan adalah program relaksasi progresif baik secara langsung
dengan instruktur (psikolog atau terapis okupasional) atau melalui tape
recorder.Teknik ini dapat dilakukan dalam praktek umum sehari-hari. Untuk
menguasai teknik ini diperlukan kursus singkat terapi relaksasi.
Dukungan Keluarga dalam Kaitannya dengan Depresi Pada
Lansia
Keluarga
memainkan suatu peranan yang signifikan dalam kehidupan pada hampir semua orang
lanjut usia (lansia). Ketika keluarga tidak menjadi bagian kehidupan seseorang
yang telah lansia, umumnya menyebabkan orang tersebut tidak mempunyai tempat
tinggal, atau ada masalah-masalah yang telah berlangsung lama dan keterasingan.
Sebaliknya, kepercayaan yang umum, ketika orang lansia akan membutuhkan bantuan
keluarga menyediakan sekurang-kurangnya 80% dukungan / bantuan. Dibandingkan
dengan "kenyamanan di hari tua", keluarga saat ini menyediakan
kepedulian yang lebih luas selama periode waktu yang lama (Schmall, Pratt,
1993).
Walaupun
anak yang telah dewasa adalah suatu sumber utama yang memberi bantuan terhadap
orangtua yang lansia, beberapa trend demografi dan sosial mempunyai akibat /
impak yang signifikan pada kemampuan anggota keluarga dalam menyediakan
dukungan. Hal ini tidak berarti bahwa keluarga bertanggung jawab atas timbulnya
depresi pada seseorang namun sudah jelas bahwa banyak masalah depresi berkisar
di seputar kesulitan dalam cara anggota keluarga saling berkomunikasi dan
saling berhubungan.
G. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
DENGAN GANGGUAN ALAM PERASAAN
c.
Pengkajian
1)
Faktor Predisposisi
a)
Faktor Genetik
Mengemukakan transmisi gangguan alam
perasaan diteruskan melalui garis keturunan.Frekuensi gangguan alam perasaan
pada kembar monozigote dari dizigote.
b)
Teori Agresi Berbalik pada Diri Sendiri
Mengemukakan bahwa depresi
diakibatkan dari perasaan marah yang dialihkan pada diri sendiri.Diawali dengan
proses kehilangan terjadi ambivalensi terhadap objek yang hilang tidak mampu
mengekspresikan kemarahan marah pada diri sendiri.
c)
Teori Kehilangan
Berhubungan dengan faktor
perkembangan : misalnya kehilangn orang tua pada masa anak, perpisahan yang
bersifat traumatis dengan orang yang sangat dicintai. Individu tidak berdaya
mengatsi kehilangan.
d)
Teori Kepribadian
Mengemukakan bahwa tipe kepribadian
tertentu menyebabkan seseorang mengalami depresi atau mania.
e)
Teori Kognitif
Mengemukakan bahwa depresi merupakan
masalah kognitif yang dipengaruhi oleh penilaian negative terhadap diri sendiri,
lingkungan dan masa depan.
f)
Teori Belajar Ketidakberdayaan
Mengemukakan bahwa depresi dilmulai
dari kehilangan kendali diri, lalu menjdi pasif dan tidak mampu menghadapi
masalah. Kemidian individu timbul dengan keyakinan akan ketidakmampuam
mengendalikan kehidupan sehingga ia tidak berupaya mengembangkan respon yang
adaptif.
g)
Model Prilaku
Mengemukakan bahwa depresi terjadi
karena kurangnya pujian positif selama berinteraksi dengan lingkungan.
h)
Model Biologis
Mengemukakan bahwa depresi terjadi
prubahan kimiawi, yaitu defisiensi katekolamin, tidak berfungsi endokrin dan
hipersekresi kortisol.
2)
Faktor Presipitasi
Stresor
yang dapat menyebabkan gangguan alam perasaan meliputi faktor biologis,
psikologis, dan social budaya.Faktor biologis meliputi perubahan fisiologis
yang disebabkan oleh obat-obatan atau berbagai penyakit fisik seperti infeksi,
neoplasma dan ketidakseimbangan metabolisme.Faktor psikologis meliputi
kehilangan kasih sayang, termasuk kehilangan cinta, seseorang dan kehilangan
harga diri.Faktor social budaya meliputi kehilangan peran, perceraian,
kehilangan pekerjaan.
3)
Perilaku dan Mekanisme Koping
Perilaku yang berhubungan dengan
depresi bervariasi.Pada keadaan depresi kesedihan dan kelambanan dapat menonjol
atau dapat terjadi agitasi.Mekanisme koping yang digunakan pada reaksi
kehilangan yang memanjang adalah denial dan supresi, hal ini untuk menghindari
tekanan yang hebat.
Gangguan
alam perasaan: depresi
- Data
subyektif:
Tidak
mampu mengutarakan pendapat dan malas berbicara.Sering mengemukakan keluhan
somatik.Merasa dirinya sudah tidak berguna lagi, tidak berarti, tidak ada
tujuan hidup, merasa putus asa dan cenderung bunuh diri.
- Data
obyektif:
Gerakan
tubuh yang terhambat, tubuh yang melengkung dan bila duduk dengan sikap yang
merosot, ekspresi wajah murung, gaya jalan yang lambat dengan langkah yang
diseret.Kadang-kadang dapat terjadi stupor. Pasien tampak malas, lelah, tidak
ada nafsu makan, sukar tidur dan sering menangis.Proses berpikir terlambat,
seolah-olah pikirannya kosong, konsentrasi terganggu, tidak mempunyai minat,
tidak dapat berpikir, tidak mempunyai daya khayal Pada pasien psikosa depresif
terdapat perasaan bersalah yang mendalam, tidak masuk akal (irasional), waham
Data Obyektifsa, depersonalisasi dan halusinasi.
Kadang-kadang pasien suka menunjukkan sikap bermusuhan (hostility), mudah tersinggung (irritable) dan tidak suka diganggu.
Kadang-kadang pasien suka menunjukkan sikap bermusuhan (hostility), mudah tersinggung (irritable) dan tidak suka diganggu.
3. Koping maladaptif
v Data
Subyektif : menyatakan putus asa dan tak berdaya, tidak bahagia, tak ada
harapan.
v Data
Obyektif : nampak sedih, mudah marah, gelisah, tidak dapat mengontrol impuls.
H. DIAGNOSA
KEPERAWATAN
- Resiko
mencederai diri berhubungan dengan depresi
- Gangguan
alam perasaan: depresi berhubungan dengan koping maladaptif.
I. RENCANA
TINDAKAN KEPERAWATAN
- Tujuan
umum: Klien tidak mencederai diri.
- Tujuan
khusus
a.
Klien dapat membina hubungan saling
percaya
Tindakan:
1.
Perkenalkan diri dengan klien
2.
Lakukan interaksi dengan pasien
sesering mungkin dengan sikap empat
3.
Dengarkan pemyataan pasien dengan
sikap sabar empati dan lebih banyak memakai bahasa non verbal. Misalnya:
memberikan sentuhan, anggukan
4.
Perhatikan pembicaraan pasien serta
beri respons sesuai dengan keinginanny
5.
Bicara dengan nada suara yang
rendah, jelas, singkat, sederhana dan mudah dimengerti
6.
Terima pasien apa adanya tanpa
membandingkan dengan orang lain.
b. Klien dapat
menggunakan koping adaptif
1.
Beri Data Obyektifrongan untuk
mengungkapkan perasaannya dan mengatakan bahwa perawat memahami apa yang
dirasakan pasien.
2.
Tanyakan kepada pasien cara yang
biasa dilakukan mengatasi perasaan sedih/menyakitkan
3.
Diskusikan dengan pasien manfaat
dari koping yang biasa digunakan
4.
Bersama pasien mencari berbagai
alternatif koping.
5.
Beri Data Obyektifrongan kepada
pasien untuk memilih koping yang paling tepat dan dapat diterima
6.
Beri Data Obyektifrongan kepada
pasien untuk mencoba koping yang telah dipilih
7.
Anjurkan pasien untuk mencoba
alternatif lain dalam menyelesaikan masalah.
3.
Klien terlindung dari perilaku
mencederai diri
1.
Pantau dengan seksama resiko bunuh
diri/melukai diri sendiri.
2.
Jauhkan dan simpan alat-alat yang
dapat digunakan olch pasien untuk mencederai dirinya/orang lain, ditempat yang
aman dan terkunci.
3.
Jauhkan bahan alat yang membahayakan
pasien.
4.
Awasi dan tempatkan pasien di ruang
yang mudah dipantau oleh peramat/petugas.
- Klien
dapat meningkatkan harga diri
1.
Bantu untuk memahami bahwa klien
dapat mengatasi keputusasaannya.
2.
Kaji dan kerahkan sumber-sumber
internal individu.
3.
Bantu mengidentifikasi sumber-sumber
harapan (misal: hubungan antar sesama, keyakinan, hal-hal untuk diselesaikan).
- Klien
dapat menggunakan dukungan sosial
1.
Kaji dan manfaatkan sumber-sumber
ekstemal individu (orang-orang terdekat, tim pelayanan kesehatan, kelompok
pendukung, agama yang dianut).
2.
Kaji sistem pendukung keyakinan
(nilai, pengalaman masa lalu, aktivitas keagamaan, kepercayaan agama).
3.
Lakukan rujukan sesuai indikasi
(misal : konseling pemuka agama).
- Klien
dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat
1.
Diskusikan tentang obat (nama, Data
Obyektifsis, frekuensi, efek dan efek samping minum obat).
2.
Bantu menggunakan obat dengan
prinsip 5 benar (benar pasien, obat, Data Obyektifsis, cara, waktu).
3.
Anjurkan membicarakan efek dan efek
samping yang dirasakan.
4.
Beri reinforcement positif bila
menggunakan obat dengan benar.
DAFTAR PUSTAKA
Maramis,
W. F. 1900. Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.
Dalami,
E. dkk. 2009. Askep Klien Dengan Gangguan Jiwa. Jakarta: CV. Trans Info
Media.
Kaplan,
H. I. dkk. 1997. Sinopsis Psikiatri. Jakarta: Binarupa Aksara.
Hawari, D. 2001.
Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa Skizofrenia. Jakarta: EGC
Keliat, B.A. 1998. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa.Jakarta : EGC
Keliat, B.A. 1998. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa.Jakarta : EGC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar