Selasa, 18 Desember 2018

LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTUR METKARPAL


 LAPORAN PENDAHULUAN
FRAKTUR METKARPAL

1.    DEFINISI
Fraktur atau patah tulang adalah keadaan dimana hubungan atau kesatuan jaringan tulang terputus. Tulang mempunyai daya lentur (elastisitas) dengan kekuatan yang memadai, apabila trauma melebihi dari daya lentur tersebut maka terjadi fraktur (patah tulang). Definisi lain fraktur sebagaimana dikemukakan oleh para ahli adalah sebagai berikut:
ü Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, 2000).
ü Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya (Smeltzer & Bare, 2001).
ü Fraktur tulang adalah patah pada tulang (Corwin, 2009).
2.    ETIOLOGI
Menurut Smeltzer dan Bare (2001), fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorpsinya. Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya remuk, gerakan puntir mendadak, dan bahkan kontraksi otot ekstrem. Meskipun tulang patah, jaringan sekitarnya juga akan berpengaruh mengakibatkan edema jaringan lunak, perdarahan ke otot dan sendi, dislokasi sendi, rupture tendon, kerusakan saraf, dan kerusakan pembuluh darah.
Menurut Corwin (2009), penyebab fraktur tulang paling sering adalah trauma, terutama pada anak-anak dan dewasa muda. Beberapa fraktur dapat terjadi setelah trauma minimal atau tekanan ringan apabila tulang lemah (fraktur patologis) fraktur patologis sering terjadi pada lansia yang mengalami osteoporosis, atau indivisu yang mengalmai tumor tulang, infeksi, atau penyakit lain. Fraktur stress atau fraktur keletihan dapat terjadi pada tulang normal akibat stress tingkat rendah yang berkepanjangan atau berulang, biasanya menyertai peningkatan yang cepat tingkat latihan atlet atau permulaan aktivitas fisik yang baru (Corwin, 2009).
Patah tulang biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang, dan jaringan lunak di sekitar tulang yang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap. Penyebab terjadinya fraktur adalah trauma, stres kronis dan berulang maupun pelunakan tulang yang abnormal.
3.    PATOFISIOLOGI
Sabiston menyatakan bahwa pola fraktur ditentukan dalam tingkat tertentu oleh sifat tenaga yang diberikan. Hal lain yang menentukan adalah sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu sendiri dan jaringan lunak disekitar tulang (Price dan Wilson, 2000). Ketiga hal tersebut dapat mentukan apakah fraktur yang terjadi lengkap artinya mengenai seluruh penampang tulang atau sebagian saja. Menurut Underwood (2002) sifat dan arah garis fraktur juga tergantung dari usia penderita dan jenis tulang yang terkena fraktur. Faktor-faktor ini bukan hanya dapat menentukan sifat dan arah garis fraktur saja karena usia penderita, jenis tulang yang fraktur serta pola tempat cedera mempengaruhi juga dalam kecepatan prose penyembuhan.
      Pola terjadinya fraktur pada tulang sangat berperan dalam menentukan klasifikasinya. Klasifikasi fraktur menurut FKUI (2000) dideskripsikan sebagai berikut:
a.       Komplit atau tidak komplit.
1)      Fraktur komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang.
2)      Fraktur tidak komplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang, seperti:
·         Hairline fracture  (patah retak rambut).
·         Buckle fracture atau torus fracture, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang spongiosa dibawahnya, biasanya pada distal radius anak-anak.
·         Greenstick fracture, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang anak.
b.      Bentuk garis patah dan hubunganya dengan mekanisme trauma.
·         Garis patah melintang      :           trauma angulasi atau langsung.
·         Garis patah oblik  :           trauma angulasi.
·         Garis patah spiral :           trauma rotasi.
·         Fraktur kompresi  :           trauma aksial fleksi pada tulang spongiosa.
·         Fraktur avulsi       :           trauma tarikan / traksi otot pada insersinya di tulang, misalnya fraktur patella.
c.       Jumlah garis patah.
  • Fraktur kominutif        :           garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan.
  • Fraktur segmental       :           garis patah lebih dari satu tetapi tidak berhubungan. Bila dua garis patah disebut pula fraktur bifokal.
  • Faktur multipel            :           garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang berlainan tempatnya misalnya fraktur femur, fraktur kruris dan fraktur tulang belakang.
d.      Bergeser atau tidak bergeser.
1)      Fraktur undisplaced (tidak bergeser), garis patah komplit tapi kedua fragmen tidak bergeser, periosteum masih utuh.
2)      Fraktur displaced (bergeser), terjadi pergeseran fragmen-fragmen frakt ur yang juga disebut lokasi fragmen, terbagi menjadi:
  • Dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu dan overlapping).
  • Dislokasi ad axim (pegeseran membentuk sudut).
  • Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauhi).
e.       Komplikasi atau tanpa komplikasi. Komplikasi dapat berupa komplikasi dini atau lambat, lokal atau sistemik, oleh trauma atau akibat pergerakan.
f.       Terbuka atau tertutup.
1)      Fraktur tertutup (closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar.
2)      Fraktur terbuka (open atau compound), bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan di kulit. Fraktur terbuka terbagi atas tiga derajat, yaitu 
Derajat I.
  • Luka kurang dari 1 cm.
  • Kerusakan jaringan lunak sedikit, tak ada tanda luka remuk 
  • Fraktur sederhana, tranversal, oblik atau kominutif ringan.
  • Kontaminasi ringan.
Derajat II.
  • Laserasi lebih dari 1 cm.
  • Kerusakan jaringan lunak tidak luas, flap atau avulsi.
  • Fraktur kominutif sedang.
  • Kontaminasi sedang.
Derajat III.
Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot, dan neurovaskuler serta kontaminasi derajat tinggi. Fraktur derajat III terbagi atas:
  • Jaringan lunak yang menutupi fraktur adekuat, meskipun terdapat laserasi luas, flap atau avulsi atau fraktur segmental / sangat kominutif yang disebabkan oleh trauma berenergi tinggi tanpa melihat besarnya ukuran luka.
  • Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau kontaminasi.
  • Luka pada pembuluh arteri atau saraf perifer yang harus diperbaiki tanpa melihat kerusakan jaringan lunak.

PATHAY















Sumber : Price dan Wilson, 2000.

4.    MEKANISME FRAKTUR
1)   Trauma (benturan)
Ada dua trauma/ benturan yang dapat mengakibatkan fraktur, yaitu:
a.    Benturan langsung
b.   Benturan tidak langsung
c.    Gaya Puntir
2)   Tekanan/stres yang terus menerus dan berlangsung lama
Tekanan kronis berulang dalam jangka waktu lama akan mengakibatkan fraktur (patah tulang) yang kebanyakan pada tulang tibia, fibula (tulang-tulang pada betis) atau metatarsal pada olahragawan, militer maupun penari. Contoh: Seorang yang senang baris berbaris dan menghentak-hentakkan kakinya, maka mungkin terjadi patah tulang di daerah tertentu.
3)   Adanya keadaan yang tidak normal pada tulang dan usia
Kelemahan tulang yang abnormal karena adanya proses patologis seperti tumor maka dengan energi kekerasan yang minimal akan mengakibatkan fraktur yang pada orang normal belum dapat menimbulkan fraktur.
5.    JENIS-JENIS FRAKTUR
Untuk lebih sistematisnya, fraktur dapat dibagi sebagai berikut:
1)   Lokasi
Fraktur dapat terjadi di  berbagai tempat pada tulang seperti pada diafisis, metafisis, epifisis, atau intraartikuler. Jika fraktur didapatkan bersamaan dengan dislokasi sendi, maka dinamakan fraktur dislokasi.
2)   Luas
Terbagi menjadi fraktur lengkap dan tidak lengkap.
a.       Fraktur komplet: fraktur yang mengenai tulang secara keseluruhan dan biasanya mengalami pergeseran.
b.      Fraktur inkomplet: fraktur yang mengenai tulang secara parsial atau sebagian dari garis tengah tulang, seperti:
o   Hair line fraktur (garis fraktur hampir tidak tampak sehingga tidak ada perubahan bentuk tulang/patah retak rambut)
o   Buckle fraktur / torus fraktur (bila terjadi satu lipatan, satu korteks dengan komprea tulang spongiosa dibawahnya)
o   Greenstick fraktur (mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang anak) (Smeltzer & Bare, 2001; Corwin, 2009).
Fraktur tidak lengkap contohnya adalah retak.
c.       Konfigurasi
Dilihat dari garis frakturnya, dapat dibagi menjadi transversal (mendatar), oblik (miring), atau spiral (berpilin). Jika terdapat lebih dari satu garis fraktur, maka dinamakan kominutif.
d.      Hubungan antar bagian yang fraktur.
Antar bagian yang fraktur dapat masih berhubungan (undisplaced) atau terpisah jauh (displaced).
e.       Hubungan antara fraktur dengan jaringan sekitar.
Fraktur dapat dibagi menjadi fraktur terbuka (jika terdapat hubungan antara tulang dengan dunia luar) atau fraktur tertutup (jika tidak terdapat hubungan antara fraktur dengan dunia luar.
Fraktur terbuka digradasi menjadi:
ü  Grade I: luka bersih kurang dari 1 cm panjangnya.
ü  Grade II: luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif.
ü  Grade III: sangat terkontaminasi dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif (Smeltzer & Bare, 2001)
f.       Komplikasi
Fraktur dapat terjadi dengan disertai komplikasi, seperti gangguan saraf, otot,sendi, dll atau tanpa komplikasi.
g.      Berdasarkan Pergeseran
Terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang juga disebut lokasi fragmen, terbagi menjadi pergeseran searah sumbu dan overlapping, pergeseran membentuk sudut, dan pergeseran di mana kedua fragmen saling menjauhi. Fraktur tidak bergeser: garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak bergeser, periosteumnya masih utuh (Mansjoer, 2000; Smeltzer & Bare, 2001).
Bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma
·      Garis patah melintang (transversal)       : Trauma angulasi atau langsung        
·      Garis patah oblique        : Trauma angulasi, garis patah miring
·      Garis patah spiral           : Trauma notasi,garis patah melingkari tulang
·      Fraktur kompresi            : Trauma aksial fleksi pada tulang spongiosa
·      Fraktur avulse    : Trauma tarikan, fraktur patella

6.    GEJALA
Nyeri biasanya merupakan gejala yang sangat nyata. Nyeri bisa sangat hebat dan biasanya makin lama makin memburuk, apalagi jika tulang yang terkena digerakkan. Menyentuh daerah di sekitar patah tulang juga bisa menimbulkan nyeri. Alat gerak tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga penderita tidak dapat menggerakkan lengannya, berdiri diatas satu tungkai atau menggenggam dengan tangannya. Darah bisa merembes dari tulang yang patah (kadang dalam jumlah yang cukup banyak) dan masuk kedalam jaringan di sekitarnya atau keluar dari luka akibat cedera.
Adanya fraktur dapat ditandai dengan adanya:
a.       Pembengkakan. Kecuali frakturnya terjadi jauh didalam seperti pada tulang leher atau tulang paha.
b.      Perubahan bentuk, dapat terjadi angulasi (terbentuk sudut), rotasi (terputar), atau pemendekan.
c.       Terdapat rasa nyeri yang sangat pada daerah fraktur.
Menurut Smeltzer dan Bare (2001), manifestasi klinis fraktur antara lain:
a.       Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi.
b.      Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tak dapat digunakan dan cenderung bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa) bukannya tetap rigid seperti normalnya. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai menyebabkan deformitas (terlihat maupun teraba) ekstremitas yang bias diketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas normal.
c.       Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya kerena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur.
d.      Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan yang lainnya.
e.       Pembengkakan dan perubahan warna local pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur.
7.    PEMERIKSAAN PENUNJANG
Foto rontgen biasanya bisa menunjukkan adanya patah tulang.  Hal yang perlu diingat dalam pemeriksaan roentgen adalah hasilnya harus meliputi dua sendi, dua sisi, dan dua tulang (kanan dan kiri). Kadang perlu dilakukan CT scan atau MRI untuk bisa melihat dengan lebih jelas daerah yang mengalami kerusakan. Jika tulang mulai membaik, foto rontgen juga digunakan untuk memantau penyembuhan.
8.    PENATALAKSANAAN
Tujuan dari pengobatan adalah untuk menempatkan ujung-ujung dari patah tulang supaya satu sama lain saling berdekatan dan untuk menjaga agar mereka tetap menempel sebagaimana mestinya.  Proses penyembuhan memerlukan waktu minimal 4 minggu, tetapi pada usia lanjut biasanya memerlukan waktu yang lebih lama.
Setelah sembuh, tulang biasanya kuat dan kembali berfungsi.
Pada beberapa patah tulang, dilakukan pembidaian untuk membatasi pergerakan. Dengan pengobatan ini biasanya patah tulang selangka (terutama pada anak-anak), tulang bahu, tulang iga, jari kaki dan jari tangan, akan sembuh sempurna.
Patah tulang lainnya harus benar-benar tidak boleh digerakkan (imobilisasi).
Imobilisasi bisa dilakukan melalui:
1)      Pembidaian: benda keras yang ditempatkan di daerah sekeliling tulang.
2)      Pemasangan gips: merupakan bahan kuat yang dibungkuskan di sekitar tulang yang patah.
3)      Penarikan (traksi): menggunakan beban untuk menahan sebuah anggota gerak pada tempatnya. Sekarang sudah jarang digunakan, tetapi dulu pernah menjadi pengobatan utama untuk patah tulang pinggul.
4)      Fiksasi internal: dilakukan pembedahan untuk menempatkan piringan atau batang logam pada pecahan-pecahan tulang. Merupakan pengobatan terbaik untuk patah tulang pinggul dan patah tulang disertai komplikasi. Imobilisasi lengan atau tungkai menyebabkan otot menjadi lemah dan menciut. Karena itu sebagian besar penderita perlu menjalani terapi fisik. Terapi dimulai pada saat imobilisasi dilakukan dan dilanjutkan sampai pembidaian, gips atau traksi telah dilepaskan. Pada patah tulang tertentu (terutama patah tulang pinggul), untuk mencapai penyembuhan total, penderita perlu menjalani terapi fisik selama 6-8 minggu atau kadang lebih lama lagi.

Empat tujuan utama dari penanganan fraktur adalah:
1)      Untuk menghilangkan rasa nyeri
Nyeri yang timbul pada fraktur bukan karena frakturnya sendiri, namun karena terluka jaringan disekitar tulang yang patah tersebut. Untuk mengurangi nyeri tersebut, dapat diberikan obat penghilang rasa nyeri dan juga dengan tehnik imobilisasi (tidak menggerakkan daerah yang fraktur). Tehnik imobilisasi dapat dicapai dengan cara pemasangan bidai atau gips.
2)      Untuk menghasilkan dan mempertahankan posisi yang ideal dari fraktur.
Bidai dan gips tidak dapat mempertahankan posisi dalam waktu yang lama. Untuk itu diperlukan lagi tehnik yang lebih mantap seperti pemasangan traksi kontinyu, fiksasi eksternal, atau fiksasi internal tergantung dari jenis frakturnya sendiri.
3)      Agar terjadi penyatuan tulang kembali.
Biasanya tulang yang patah akan mulai menyatu dalam waktu 4 minggu dan akan menyatu dengan sempurna dalam waktu 6 bulan. Namun terkadang terdapat gangguan dalam penyatuan tulang, sehingga dibutuhkan graft tulang.
4)      Untuk mengembalikan fungsi seperti semula.
Imobilisasi yang lama dapat mengakibatkan mengecilnya otot dan kakunya sendi. Maka dari itu diperlukan upaya mobilisasi secepat mungkin.

Menurut Smeltzer dan Bare (2001), prinsip-prinsip tindakan terhadap fraktur:
1.    Recognisi/pengenalan
Pengenalan mengenai diagnosis pada tempat kejadian kecelakaan dan kemudian di RS Riwayat kecelakaan, parah tidaknya, jenis kekuatan yang berperan, menentukan kemungkinan tulang yang patah dan pemeriksaan yang spesifik untuk frakture.
2.    Reduksi (Setting Tulang)
Berarti mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasi anatomis.
Dapat dibedakan menjadi :
a.    Reduksi tertutup
Dilakukan dengan mengembalikan fragmen tulang ke posisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan) dengan manipulasi traksi manual (ex: gibs).
b.    Traksi
Digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi beratnya traksii disesuaikan dengan spasme otot yang terjadi.
c.    Reduksi terbuka
Dengan pendekatan bedah, fragmen tulang direduksi.  Alat fikasi interna dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat paku atau batangan logam digunakan sampai penyembuhan tulang terjadi.
3.    Imobilisasi Fraktur
Sebuah direduksi, fragmen tulang harus diimobilisasi (dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran dapat dilakukan dengan metode fiksasi eksterna dan interna.
a.    Metode fixasu eksterna : pembalutan, gibs, bidai, traksi, kontinu (dengan plester felt pada kulit), pin fiksator eksterna.
b.    Metode fikasi interna : inplant logam
4.    Restorasi (Pemulihan Fungsi) dan Rehabilitasi
Segala upaya diarahkan pada penyembuhan tulang dan otot.
Dapat dilakukan dengan:
a.    Latihan isometrik dan setting otot: untuk meminimalkan atropi disease dan meningkatkan peredaran darah.
b.    Fiksasi interna memungkinkan mobilisasi lebih awal
c.    Partisipasi dalam aktivitas hidup sehari-hari untuk memperbaiki kemandirian fungsi dan harga diri.
d.   Periode ini dimudahkan dengan bantuan fisioterapi.

9.    PENYEMBUHAN
Secara rinci proses penyembuhan fraktur dapat dibagi dalam beberapa tahap sebagai berikut:
1)      Fase hematoma
Tiap fraktur biasanya disertai putusnya pembuluh darah sehingga terdapat penimbunan darah di sekitar fraktur. Pembuluh darah robek dan membentuk hematoma disekitar daerah fraktur. Hematoma ini disertai dengan pembengkakan jaringan lunak. Sel-sel darah membentuk fibrin guna melindungi tulang yang rusak dan sebagai tempat tumbuhnya kapiler baru dan fibroblast.Pada ujung tulang yang patah terjadi iskemia sampai beberapa milimeter dari garis patahan yang mengakibatkan matinya osteosit pada daerah fraktur tersebut. Stadium ini berlangsung 24 – 48 jam.
2)      Fase proliferative
Pada stadium ini terjadi proliferasi dan differensiasi sel-sel periosteal dan endoosteal menjadi fibro kartilago yang berasal dari periosteum,`endosteum,dan bone marrow yang telah mengalami trauma. Kemudian, hematoma akan terdesak oleh proliferasi ini dan diabsorbsi oleh tubuh. Sel-sel yang mengalami proliferasi ini terus masuk ke dalam lapisan yang lebih dalam dan di sanalah osteoblast beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis. Bersamaan dengan aktivitas sel-sel sub periosteal maka terjadi aktifitas sel-sel dari kanalis medularis dari lapisan endosteum dan dari bone marrow masing-masing fragmen. Proses dari periosteum dan kanalis medularis dari masing-masing fragmen bertemu dalam satu preses yang sama, proses terus berlangsung kedalam dan keluar dari tulang tersebut sehingga menjembatani permukaan fraktur satu sama lain. Pada saat ini mungkin tampak di beberapa tempat pulau-pulau kartilago, yang mungkin banyak sekali,walaupun adanya kartilago ini tidak mutlak dalam penyembuhan tulang. Dalam beberapa hari terbentuklah tulang baru yang menggabungkan kedua fragmen tulang yang patah. Pada fase ini sudah terjadi pengendapan kalsium. Fase ini berlangsung selama 8 jam setelah fraktur sampai selesai, tergantung frakturnya.
3)      Fase pembentukan callus
Pada fase ini terbentuk fibrous callus dan disini tulang menjadi osteoporotik akibat resorbsi kalsium untuk penyembuhan. Sel–sel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan osteogenik mulai membentuk tulang dan juga kartilago. Populasi sel ini dipengaruhi oleh kegiatan osteoblast dan osteoklast yang mulai berfungsi dengan mengabsorbsi sel-sel tulang yang mati. Sel-sel osteoblas mengeluarkan matriks intra selluler yang terdiri dari kolagen dan polisakarida, yang segera bersatu dengan garam-garam kalsium, membentuk tulang immature atau young callus. Massa sel yang tebal dengan tulang yang imatur dan kartilago, membentuk kallus atau bebat pada permukaan endosteal dan periosteal makapada akhir stadium akan terdapat dua macam callus yaitu didalam disebut internal callus dan diluar disebut external callus. Sementara tulang yang imatur (anyaman tulang ) menjadi lebih padat sehingga gerakan pada tempat fraktur berkurang pada 4 minggu setelah fraktur menyatu.
4)      Fase konsolidasi
Pada fase ini callus yang terbentuk mengalami maturisasi lebih lanjut oleh aktivitas osteoblas, callus menjadi tulang yang lebih dewasa (mature) dengan pembentukan lamela-lamela. Pada setadium ini sebenarnya proses penyembuhan sudah lengkap. Pada fase ini terjadi pergantian fibrous callus menjadi primary callus. Fase ini terjadi sesudah empat minggu, namun pada umur-umur lebih mudah lebih cepat. Secara berangsur-angsur primary bone callus diresorbsi dan diganti dengan second bone callus yang sudah mirip dengan jaringan tulang yang normal. Ini adalah proses yang lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk membawa beban yang normal.
5)      Fase remodeling
Pada fase ini secondary bone callus sudah ditimbuni dengan kalsium yang banyak dan tulang sudah terbentuk dengan baik, serta terjadi pembentukan kembali dari medula tulang. Apabila union sudah lengkap, tulang baru yang terbentuk pada umumnya berlebihan, mengelilingi daerah fraktur di luar maupun di dalam kanal, sehingga dapat membentuk kanal medularis. Dengan mengikuti stress/tekanan dan tarik mekanis, misalnya gerakan, kontraksi otot dan sebagainya, maka callus yang sudah mature secara pelan-pelan terhisap kembali dengan kecepatan yang konstan sehingga terbentuk tulang yang sesuai dengan aslinya.

Penyembuhan fraktur berkisar antara 3 minggu sampai 4 bulan. Perkiraan penyembuhan fraktur pada orang dewasa berdasarkan lokalisasi fraktur adalah sebagai berikut:
a.       Falang/metacarpal/metatarsal/kosta: 3-6 minggu
b.      Distal radius: 6 minggu
c.       Diafisis ulna dan radius: 12 minggu
d.      Humerus: 10-12 minggu
e.       Klavikula: 6 minggu
f.       Panggul: 10-12 minggu
g.      Femur: 12-16 minggu
h.      Kondilus femur atau tibia: 8-10 minggu
i.        Tibia/fibula: 12-16 minggu
j.        Vertebra: 12 minggu

10.              Diagnosa
a.    Nyeri akut bd spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, cedera jaringan lunak, pemasangan traksi, stress/ansietas.
b.    Gangguan integritas kulit bd fraktur terbuka, pemasangan traksi (pen, kawat, sekrup)
c.    Gangguan mobilitas fisik bd kerusakan rangka neuromuskuler, nyeri, terapi restriktif (imobilisasi)
d.   Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan bd kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi, keterbatasan kognitif, kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada
e.    Risiko infeksi bd ketidakadekuatan pertahanan primer (kerusakan kulit, trauma jaringan lunak, prosedur invasif/traksi tulang)
f.     Risti ketidakefektifan perfusi jaringan perifer bd penurunan aliran darah (cedera vaskuler, edema, pembentukan trombus)

11.    INTERVENSI
No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan/ kriteria
Intervensi
1.

I.        Nyeri akut bd spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, cedera jaringan lunak, pemasangan traksi, stress/ansietas.


Tujuan:
Nyeri berkurang, dan dapat diatasi.

Kriteria :
·         Klien tidak mengeluh nyeri.
·         Pembengkakan hilang atau berkurang.
·         Otot relaksasi.


·         Kaji keadaan nyeri yang meliputi : lokasi, intensitas, lamanya, skala nyeri  1 - 10.
·         Batasi pergerakan pada daerah fraktur, klien harus bed rest.
·         Tinggikan dan sokong ekstremitas yang mengalami fraktur.
·         Observasi perubahan tanda vital.
·         Berikan alternatif perubahan posisi secara periodik.
·         Ajarkan pasien tehnik relaksasi nafas dalam dan tehnik distraksi untuk mengurangi rasa sakit pada skala nyeri  <  5.
·         Berikan penjelasan terhadap klien setiap prosedur yang akan dilakukan.
·         Kerja sama dengan Tim Medis : Pemberian obat analgetika.
2.

II.     Gangguan integritas kulit bd fraktur terbuka, pemasangan traksi (pen, kawat, sekrup)


Tujuan  :
Menjaga integritas kulit tetap baik

Kriteria hasil:
·         Tidak ada tanda kerusakan integritas kulit klien
·         Klien mengatakan ketidaknyamanan akibat kerusakan integritas kulit berkurang
·         Penyembuhan luka terjadi dengan baik
·         Pertahankan tempat tidur yang nyaman dan aman (kering, bersih, alat tenun kencang, bantalan bawah siku, tumit).
·         Masase kulit terutama daerah penonjolan tulang dan area distal bebat/gips.
·         Lindungi kulit dan gips pada daerah perianal
·         Observasi keadaan kulit, penekanan gips/bebat terhadap kulit, insersi pen/traksi, proses penyembuhan luka.
3.

III.  Gangguan mobilitas fisik bd kerusakan rangka neuromuskuler, nyeri, terapi restriktif (imobilisasi)


Data penunjang :
·         Klien terpasang gips / traksi.

Tujuan  :
Aktifitas sehari-hari tetap terpenuhi.

Kriteria :
·         Klien dapat melakukan aktifitas sehari-hari, sesuai dengan pembatasan gerak oleh gips seperti makan, minum, b.a.b, b.a.k dan mandi.

·         Jelaskan aktifitas-aktifitas apa yang dapat dikerjakan sendiri oleh klien dan apa yang perlu dibantu oleh perawat.
·         Bantu untuk pemenuhan ke-butuhan sehari-hari yang tidak dapat dilakukan klien.
·         Ajarkan dan anjurkan untuk la-tihan aktif pada kaki yang cedera dan yang normal, je-laskan bahwa latihan dapat mencegah terjadinya kom-plikasi, meningkatkan ke-sembuhan.
·         Ajarkan tehnik relaksasi.
4.
Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan bd kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi, keterbatasan kognitif, kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada.

Data penunjang :
·         Klien menyatakan belum memahami tentang aktifitas yang boleh/tidak boleh dilakukan.
·         Klien kurang kooperatif dalam program mobilisasi.


Tujuan  :
Pengetahuan klien
tentang mobilisasi dan perawatan di Rumah meningkat.

Kriteria hasil:
·         Klien menyatakan telah memahami tentang mo-bilisasi dan cara pera-watan dirumah.
·         Klien dapat mengulangi kembali secara seder-hana tentang hal-hal yang telah dijelaskan.
·         Klien dapat mendemon-strasikan kembali latihan mobilisasi yang telah diajarkan.
·         Klien kooperatif dalam program mobilisasi.
·         Berikan penjelasan tentang latihan yang harus dilakukan.
·         Demonstrasikan cara latihan mobilisasi aktif.
·         Anjurkan klien untuk me-lakukan mobilisasi aktif dengan menggerakkan persendian pada bagian bawah dari daerah yang fraktur.
·         Diskusikan dengan klien ten-tang gejala & tanda abnormal yang timbul selama perawatan dan dianjurkan klien melapor kepada perawat, gejala yang diobservasi : rasa sakit, perasaan dingin, adanya bau tidak enak dari daerah luka dan perubahan sensasi.
·         Diskusikan tentang pentingnya klien kontrol secara teratur ke Poliklinik sesuai perjanjian.
·         Jelaskan rehabilitasi yang boleh dilakaukan di rumah sesuai kemampuan klien.
      
5.

IV.  Risiko infeksi bd ketidakadekuatan pertahanan primer (kerusakan kulit, trauma jaringan lunak, prosedur invasif/traksi tulang)


Data penunjang  :
·         Adanya luka pada daerah fraktur.

Tujuan:
Tidak menunjukkan tanda infeksi pada luka

Kriteria :
·         Penyembuhan luka baik
·         Tidak ada tanda infeksi (inflamasi, pus, pembengkakan).
·         Bagian yang fraktur/luka dapat berfungsi seperti semula.

·         Observasi adanya tanda-tanda infeksi pada lokasi luka (kemerahan, pus, bengkak dan rasa sakit)
·         Observasi adanya peningkatan HR, anemia, delirium dan penurunan kesadaran berlanjut.
·         Observasi penampilan kulit ; pucat, kemerahan, adanya vesikel yang berisi cairan berwarna merah dan adanya gejala-gejala awal gas gangren.
·         Monitor  output urine.
·         Observasi keadaan luka, ganti balutan secara teratur dengan tehnik septik aseptik dan buang bekas ganti balutan dalam plastik yang diikat.
·         Lakukan perawatan pen steril dan perawatan luka sesuai protokol
·         Kerja sama dengan Tim kesehatan  :
à        Pemberian cairan parentral.
à        Observasi tindakan invasif
à        Pemberian antibiotika.
6.
Risti ketidakefektifan perfusi jaringan perifer

V.     bd penurunan aliran darah (cedera vaskuler, edema, pembentukan trombus)


Tujuan  :
 Perfusi perifer dapat dipertahankan.

Kriteria  :
·         HR. 60 - 100 x per menit.
·         Kulit hangat sensori normal.
·         Sistolik 100 - 140 mmHg.
·         RR. 16 - 24 x per menit.
·         Urine out put 30 - 50 cc per jam.
·         Pengisian kapiler >2 detik.

·         Observasi ada/tidak kualitas nadi perifer dan bandingkan dengan pulses normal.
·         Kaji adanya gangguan pe-rubahan motorik/sensorik.
·         Pertahankan posisi daerah yang fraktur lebih tinggi kecuali bila ada kontra indikasi untuk meningkatkan aliran vena dan menghilangkan udema.
·         Observasi adanya tanda iskemia daerah tungkai seperti, pe-nurunan suhu, dingin dan pe-ningkatan rasa sakit.
·         Dorong klien untuk secara rutin melakukan latihan menggerakkan jari/sendi distal cedera.
·         Observasi tanda vital, catat dan laporkan bila ada gejala sia-nosis, dingin pada kulit dan gejala perubahan status mental.
·         Kerja sama dengan Tim kesehatan :
a. Pemeriksaan laboratorium ;   Hb, Ht
b. Pemberian cairan parentral, tranfusi darah bila perlu.
c. Pemberian obat.
d. Persiapan operasi bila perlu.




Daftar Pustaka

Price, Sylvia A. dan Wilson, Lorraine M. W. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, vol. 2, ed 6. Jakarta: EGC
Smeltzer, Suzanne C. dan Bare, Brenda G. 2001. Keperawatan Medikal-Bedah Brunner and Suddart, vol 2, Ed 8. Jakarta: EGC
Carpenito (2000), Diagnosa Keperawatan-Aplikasi pada Praktik Klinis. Edisi 6. Jakarta: EGC.
Corwin, E. J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Edisi Revisi 3. Jakarta: EGC.
Doenges. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta:EGC
Mansjoer, A., Triyanti, K., Savitri, R., Wardhani, W. I., Setiowulan, W., Tiara, A. D., Hamsah, A., Patmini, E., Armilasari, E.,Yunihastuti, E., Madona, F., Wahyudi, I., Kartini, Harimurti, K., Nurbaiti, Suprohaita, Usyinara, & Azwani, W. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jakarta: Media Aesculapius FK UI. pp:372-374.
Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Jakarta: EGC.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar