LAPORAN PENDAHULUAN
GANGGUAN MOBILITAS FISIK
A.
Konsep Gangguan Kebutuhan Dasar
1.
Definisi
a.
Mobilisasi
Mobilitas
adalah pergerakan yang memberikan kebebasan dan kemandirian bagi seseorang. Mobilisasi
adalah suatu kondisi dimana tubuh dapat melakukan keegiatan dengan bebas. Mobilisasi
adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas, mudah dan teratur yang
bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehat. Mobilisasi diperlukan untuk
meninngkatkan kesehatan, memperlambat proses penyakit khususnya penyakit degeneratif
dan untuk aktualisasi. Mobilisasi menyebabkan perbaikan sirkulasi, membuat
napas dalam dan menstimulasi kembali fungsi gastrointestinal normal, dorong
untuk menggerakkan kaki dan tungkai bawah sesegera mungkin, biasanya dalam
waktu 12 jam (Mubarak, 2008).
Mobilitas
atau mobilisasi merupakan kemampuan individu untuk bergerak secara bebas, mudah
dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas guna
mempertahankan kesehatannya. Mobilitas
fisik yaitu keadaan keika tseseorang mengalami atau bahkan beresiko mengalami
keterbatasan fisik dan bukan merupakan immobile (Doenges, M.E, 2000). Mobilitas
atau Mobilisasi adalah kemampuan individu untuk bergerak secara bebas, mudah,
dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas guna mempertahankan
kesehatannya.
b.
Imobilisasi
Imobilitas
didefinisikan secara luas sebagai tingkat aktivitas yang kurang dari mobilitas
optimal (Ansari, 2011). Imobilisasi
adalah suatu keadaan dimana penderita harus istirahat di tempat tidur,tidak
bergerak secara aktif akibat berbagai penyakit atau gangguan pada alat/organ
tubuh yang bersifat fisik atau mental. Dapat juga diartikan sebagai suatu
keadaan tidak bergerak/tirah baring yang terus-menerus
selama 5 hari atau lebih akibat perubahan fungsi fisiologis (Bimoariotejo,
2009).
Immobility
(imobilisasi) adalah keadaan tidak bergerak/ tirah baring (bed rest) selama 3
hari atau lebih. Suatu
keadaan keterbatasan kemampuan pergerakan fisik secara mandiri yang dialami
seseorang. Imobilisasi
adalah suatu kondisi yang relatif, dimana individu tidak saja kehilangan
kemampuan geraknya secara total, tetapi juga mengalami penurunan aktifitas dari
kebiasaan normalnya (Mubarak, 2008). Gangguan
mobilitas fisik (immobilisasi) didefinisikan oleh North American
Nursing Diagnosis Association (NANDA) sebagai suatu kedaaan dimana
individu yangmengalami atau beresiko mengalami keterbatsan gerakan fisik.
Individu yang mengalami atau beresiko mengalami keterbatasan gerakan fisik
antara lain : lansia, individu dengan penyakit yang mengalami penurunan
kesadaran lebih dari 3 hari atau lebih, individu yang kehilangan fungsi
anatomic akibat perubahan fisiologik (kehilangan fungsi motorik,klien dengan
stroke, klien penggunaa kursi roda), penggunaan alat eksternal (seperti gips atau
traksi), dan pembatasan gerakan volunteer (Potter, 2005).
Imobilisasi
merupakan ketidakmampuan seseorang untuk menggerakkan tubuhnya sendiri.
Imobilisasi dikatakan sebagai faktor resiko utama pada munculnya luka dekubitus
baik di rumah sakit maupun di komunitas. Kondisi ini dapat meningkatkan waktu
penekanan pada jaringan kulit, menurunkan sirkulasi dan selanjutnya
mengakibatkan luka dekubitus. Imobilisasi disamping mempengaruhi kulit secara
langsung, juga mempengaruhi beberapa organ tubuh. Misalnya pada system kardiovaskuler, gangguan
sirkulasi darah perifer, system respirasi, menurunkan pergerakan paru untuk
mengambil oksigen dari udara (ekspansi paru) dan berakibat pada menurunnya
asupan oksigen ke tubuh (Lindgren et
al, 2004)
2.
Etiologi
a.
Penyebab
Penyebab utama imobilisasi adalah adanya rasa nyeri,
lemah, kekakuan otot, ketidakseimbangan, dan masalah psikologis.
Osteoartritis merupakan penyebab utama kekakuan pada usia lanjut. Gangguan
fungsi kognitif berat seperti pada demensia dan gangguan fungsi mental seperti
pada depresi juga menyebabkan imobilisasi. Kekhawatiran keluarga yang
berlebihan dapat menyebabkan orangusia lanjut terus menerus berbaring di tempat
tidur baik di rumah maupun dirumah sakit (Setiati dan Roosheroe, 2007).
Penyebab secara umum:
·
Kelainan postur
·
Gangguan perkembangan otot
·
Kerusakan system saraf pusat
·
Trauma lanngsung pada system mukuloskeletal dan
neuromuscular
·
Kekakuan otot
Kondisi-kondisi yang menyebabkan immobilisasi antara
lain: (Restrick, 2005)
1)
Fall
2)
Fracture
3)
Stroke
4)
Postoperative bed rest
5)
Dementia and Depression
6)
Instability
7)
Hipnotic medicine
8)
Impairment of vision
9)
Polipharmacy
10) Fear of
fall
b.
Faktor-faktor yang mempengaruhi mobilisasi (Restrick, 2005)
1)
Gaya hidup
Gaya hidup sesorang sangat tergantung dari tingkat
pendidikannya. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan di ikuti oleh
perilaku yang dapat meningkatkan kesehatannya. Demikian halnya dengan
pengetahuan kesehatan tetang mobilitas seseorang akan senantiasa melakukan
mobilisasi dengan cara yang sehat misalnya; seorang ABRI akan berjalan dengan
gaya berbeda dengan seorang pramugari atau seorang pemambuk.
2)
Proses penyakit dan injuri
Adanya penyakit tertentu yang di derita seseorang akan
mempengaruhi mobilitasnya misalnya; seorang yang patah tulang akan kesulitan
untukobilisasi secara bebas. Demikian pula orang yang baru menjalani operasi.
Karena adanya nyeri mereka cenderung untuk bergerak lebih lamban. Ada kalanya
klien harus istirahat di tempat tidurkarena mederita penyakit tertentu
misallya; CVA yang berakibat kelumpuhan, typoid dan penyakit kardiovaskuler.
3)
Kebudayaan
Kebudayaan dapat mempengarumi poa dan sikap dalam
melakukan aktifitas misalnya; seorang anak desa yang biasa jalan kaki setiap
hari akan berebda mobilitasnya dengan anak kota yang biasa pakai mobil dalam
segala keperluannya. Wanita kraton akan berbeda mobilitasnya dibandingkan
dengan seorang wanita madura dan sebagainya.
4)
Tingkat energi
Setiap orang mobilisasi jelas memerlukan tenaga atau
energi, orang yang lagi sakit akan berbeda mobilitasnya di bandingkan dengan
orang sehat apalagi dengan seorang pelari.
5)
Usia dan status perkembangan
Seorang anak akan berbeda tingkat kemampuan
mobilitasny dibandingkan dengan seorang remaja. Anak yang selalu sakit dalam
masa pertumbuhannya akan berbeda pula tingkat kelincahannya dibandingkan dengan
anak yang sering sakit.
c. Faktor
resiko
Berbagai faktor fisik, psikologis, dan lingkungan
dapat menyebabkan imobilisasi pada usia lanjut, seperti pada tabel berikut:
|
Gangguan
muskuloskeletal
|
Artritis
Osteoporosis
Fraktur
(terutama panggul dan femur)
Problem
kaki (bunion, kalus)
Lain-lain
(misalnya penyakit paget)
|
|
Gangguan
neurologis
|
Stroke
parkinson
Penyakit
Lain-lain
(disfungsi serebelar, neuropati)
|
|
Penyakit
kardiovaskular
|
Gagal
jantung kongensif (berat)
Penyakit
jantung koroner (nyeri dada yang sering)
Penyakit
vaskular perifer (kardkasio yang sering)
|
|
Penyakit
paru
|
Penyakit
paru obstruksi kronis (berat)
|
|
Faktoe
sensorik
|
Gangguan
penglihatan
Takut
(instabilitas dan takut akan jatuh)
|
|
Penyebab
lingkungan
|
Imobilisasi
yang dipaksakan (di rumah sakit atau panti werdha)
Alat bantu
mobilitas yang tidak adekuat
|
|
Nyeri akut
atau kronik
|
|
|
Lain-lain
|
Dekondisi
(setelah tirah baring lama metastasis luas pada keganasan)
Malnutrisi
Penyakit
sistemik berat (misalnya metastasis luas pada keganasan)
Depresi
Efek
samping obat (misalnya kekuatan yang disebabkan obat antipsikotik)
|
3.
Patofisiologi
Mobilisasi
sangat dipengaruhi oleh sistem neuromuskular, meliputi sistem otot, skeletal,
sendi, ligament, tendon, kartilago, dan saraf. Otot Skeletal mengatur gerakan
tulang karena adanya kemampuan otot berkontraksi dan relaksasi yang bekerja
sebagai sistem pengungkit. Ada dua tipe kontraksi otot: isotonik dan isometrik.
Pada kontraksi isotonik, peningkatan tekanan otot menyebabkan otot memendek.
Kontraksi isometrik menyebabkan peningkatan tekanan otot atau kerja otot tetapi
tidak ada pemendekan atau gerakan aktif dari otot, misalnya, menganjurkan klien
untuk latihan kuadrisep. Gerakan volunter adalah kombinasi dari kontraksi
isotonik dan isometrik. Meskipun kontraksi isometrik tidak menyebabkan otot
memendek, namun pemakaian energi meningkat. Perawat harus mengenal adanya
peningkatan energi (peningkatan kecepatan pernafasan, fluktuasi irama jantung,
tekanan darah) karena latihan isometrik. Hal ini menjadi kontra indikasi pada
klien yang sakit (infark miokard atau penyakit obstruksi paru kronik). Postur
dan Gerakan Otot merefleksikan kepribadian dan suasana hati seseorang dan
tergantung pada ukuran skeletal dan perkembangan otot skeletal. Koordinasi dan
pengaturan dari kelompok otot tergantung dari tonus otot dan aktifitas dari
otot yang berlawanan, sinergis, dan otot yang melawan gravitasi. Tonus otot
adalah suatu keadaan tegangan otot yang seimbang (Potter,
2005).
Ketegangan
dapat dipertahankan dengan adanya kontraksi dan relaksasi yang bergantian
melalui kerja otot. Tonus otot mempertahankan posisi fungsional tubuh dan
mendukung kembalinya aliran darah ke jantung.
Immobilisasi
menyebabkan aktifitas dan tonus otot menjadi berkurang. Skeletal adalah rangka
pendukung tubuh dan terdiri dari empat tipe tulang: panjang, pendek, pipih, dan
ireguler (tidak beraturan). Sistem skeletal berfungsi dalam pergerakan,
melindungi organ vital, membantu mengatur keseimbangan kalsium, berperan dalam
pembentukan sel darah merah (Potter,
2005).
Sendi adalah
hubungan di antara tulang, diklasifikasikan menjadi: (Potter, 2005)
·
Sendi sinostotik mengikat tulang dengan tulang
mendukung kekuatan dan stabilitas. Tidak ada pergerakan pada tipe sendi ini.
Contoh: sakrum, pada sendi vertebra.
·
Sendi kartilaginous/sinkondrodial, memiliki sedikit
pergerakan, tetapi elastis dan menggunakan kartilago untuk menyatukan
permukaannya. Sendi kartilago terdapat pada tulang yang mengalami penekanan
yang konstan, seperti sendi, kostosternal antara sternum dan iga.
·
Sendi fribrosa/sindesmodial, adalah sendi di mana
kedua permukaan tulang disatukan dengan ligamen atau membran. Serat atau
ligamennya fleksibel dan dapat diregangkan, dapat bergerak dengan jumlah yang
terbatas. Contoh: sepasang tulang pada kaki bawah (tibia dan fibula) .
·
Sendi sinovial atau sendi yang sebenarnya adalah sendi
yang dapat digerakkan secara bebas dimana permukaan tulang yang berdekatan
dilapisi oleh kartilago artikular dan dihubungkan oleh ligamen oleh membran
sinovial. Contoh: sendi putar seperti sendi pangkal paha (hip) dan sendi engsel
seperti sendi interfalang pada jari.
·
Ligamen adalah ikatan jaringan fibrosa yang berwarna
putih, mengkilat, fleksibel mengikat sendi menjadi satu sama lain dan
menghubungkan tulang dan kartilago. Ligamen itu elastis dan membantu
fleksibilitas sendi dan memiliki fungsi protektif. Misalnya, ligamen antara
vertebra, ligamen non elastis, dan ligamentum flavum mencegah kerusakan spinal
kord (tulang belakang) saat punggung bergerak.
·
Tendon adalah jaringan ikat fibrosa berwarna putih,
mengkilat, yang menghubungkan otot dengan tulang. Tendon itu kuat, fleksibel,
dan tidak elastis, serta mempunyai panjang dan ketebalan yang bervariasi,
misalnya tendon akhiles/kalkaneus.
·
Kartilago adalah jaringan penghubung pendukung yang
tidak mempunyai vaskuler, terutama berada disendi dan toraks, trakhea, laring,
hidung, dan telinga. Bayi mempunyai sejumlah besar kartilago temporer.
Kartilago permanen tidak mengalami osifikasi kecuali pada usia lanjut dan
penyakit, seperti osteoarthritis.
·
Sistem saraf mengatur pergerakan dan postur tubuh.
Area motorik volunteer utama, berada di konteks serebral, yaitu di girus
prasentral atau jalur motorik.
·
Propriosepsi adalah sensasi yang dicapai melalui
stimulasi dari bagian tubuh tertentu dan aktifitas otot. Proprioseptor
memonitor aktifitas otot dan posisi tubuh secara berkesinambungan. Misalnya
proprioseptor pada telapak kaki berkontribusi untuk memberi postur yang benar
ketika berdiri atau berjalan. Saat berdiri, ada penekanan pada telapak kaki
secara terus menerus. Proprioseptor memonitor tekanan, melanjutkan informasi
ini sampai memutuskan untuk mengubah posisi.
4. Manifestasi
Klinik
a.
Dampak fisiologis dari imobilitas, antara lain:
|
EFEK
|
HASIL
|
|
·
Penurunan konsumsi oksigen maksimum
·
Penurunan fungsi ventrikel kiri
·
Penurunan volume sekuncup
·
Perlambatan fungsi usus
·
Pengurangan miksi
·
Gangguan tidur
|
·
Intoleransi ortostatik
·
Peningkatan denyut jantung, sinkop
·
Penurunan kapasitas kebugaran
·
Konstipasi
·
Penurunan evakuasi kandung kemih
·
Bermimpi pada siang hari, halusinasi
|
b.
Efek Imobilisasi pada Berbagai Sistem Organ
|
ORGAN / SISTEM
|
PERUBAHAN YANG TERJADI AKIBAT IMOBILISASI
|
|
Muskuloskeletal
|
Osteoporosis, penurunan massa tulang, hilangnya
kekuatan otot, penurunan area potong lintang otot, kontraktor, degenerasi
rawan sendi, ankilosis, peningkatan tekanan intraartikular, berkurangnya
volume sendi
|
|
Kardiopulmonal
dan pembuluh darah
|
Peningkatan denyut nadi istirahat, penurunan perfusi
miokard, intoleran terhadap ortostatik, penurunan ambilan oksigen maksimal
(VO2 max), deconditioning jantung, penurunan volume plasma, perubahan uji
fungsi paru, atelektasis paru, pneumonia, peningkatan stasis vena, peningkatan
agresi trombosit, dan hiperkoagulasi
|
|
Integumen
|
Peningkatan risiko ulkus dekubitus dan laserasi
kulit
|
|
Metabolik
dan endokrin
|
Keseimbangan nitrogen negatif, hiperkalsiuria,
natriuresis dan deplesi natrium, resistensi insulin (intoleransi glukosa),
hiperlipidemia, serta penurunan absorpsi dan metabolisme vitamin/mineral
|
5.
Pemeriksaan Penunjang
·
Sinar –X tulang menggambarkan kepadatan tulang,
tekstur, dan perubahan hubungan tulang.
·
CT scan (Computed Tomography) menunjukkan rincian
bidang tertentu tulang yang terkena dan dapat memperlihatkan tumor jaringan
lunak atau cidera ligament atau tendon. Digunakan untuk mengidentifikasi lokasi
dan panjangnya patah tulang didaerah yang sulit dievaluasi.
·
MRI (Magnetik Resonance Imaging) adalah tehnik pencitraan khusus,
noninvasive, yang menggunakan medan magnet, gelombang radio, dan
computer untuk memperlihatkan abnormalitas (mis: tumor atau penyempitan jalur
jaringan lunak melalui tulang. Dll.
·
Pemeriksaan Laboratorium:
·
Hb ↓pada trauma, Ca↓ pada imobilisasi lama, Alkali
Fospat ↑, kreatinin dan SGOT ↑ pada kerusakan otot.
6.
Penatalaksanaan Medis
a.
Terapi
1)
Penatalaksana Umum
a)
Kerjasama tim medis interdisiplin dengan partisipasi
pasien, keluarga, dan pramuwerdha.
b)
Edukasi pada pasien dan keluarga mengenai bahaya tirah
baring lama, pentingnya latihan bertahap dan ambulasi dini, serta mencegah
ketergantungan pasien dengan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari sendiri,
semampu pasien.
c)
Dilakukan pengkajian geriatri paripurna, perumusan
target fungsional, dan pembuatan rencana terapi yang mencakup pula perkiraan
waktu yang diperlukan untuk mencapai target terapi.
d)
Temu dan kenali tatalaksana infeksi, malnutrisi,
anemia, gangguan cairan dan elektrolit yang mungkin terjadi pada kasus
imobilisasi, serta penyakit/ kondisi penyetara lainnya.
e)
Evaluasi seluruh obat-obatan yang dikonsumsi;
obat-obatan yang dapat menyebabkan kelemahan atau kelelahan harus diturunkan
dosisnya atau dihentkan bila memungkinkan.
f)
Berikan nutrisi yang adekuat, asupan cairan dan
makanan yang mengandung serat, serta suplementasi vitamin dan mineral.
g)
Program latihan dan remobilisasi dimulai ketika
kestabilan kondisi medis terjadi meliputi latihan mobilitas di tempat tidur,
latihan gerak sendi (pasif, aktif, dan aktif dengan bantuan), latihan penguat
otot-otot (isotonik, isometrik, isokinetik), latihan koordinasi/ keseimbangan,
dan ambulasi terbatas.
h)
Bila diperlukan, sediakan dan ajarkan cara penggunaan
alat-alat bantu berdiri dan ambulasi.
i)
Manajemen miksi dan defekasi, termasuk penggunaan
komod atau toilet.
2)
Tatalaksana Khusus
a)
Tatalaksana faktor risiko imobilisasi
b)
Tatalaksana komplikasi akibat imobilisasi.
c)
Pada keadaan-keadaan khusus, konsultasikan kondisi
medik kepada dokter spesialis yang kompeten.
d)
Lakukan remobilisasi segera dan bertahap pada
pasien–pasien yang mengalami sakit atau dirawat di rumah sakit dan panti werdha
untuk mobilitas yang adekuat bagi usia lanjut yang mengalami disabilitas
permanen.
b.
Penatalaksanaan lain yaitu:
1)
Pengaturan Posisi Tubuh sesuai Kebutuhan Pasien
Pengaturan posisi dalam mengatasi masalah kebutuhan
mobilitas, digunakan untuk meningkatkan kekuatan, ketahanan otot, dan
fleksibilitas sendi. Posisi-posisi tersebut, yaitu :
a)
Posisi fowler (setengah duduk)
b)
Posisi litotomi
c)
Posisi dorsal recumbent
d)
Posisi supinasi (terlentang)
e)
Posisi pronasi (tengkurap)
f)
Posisi lateral (miring)
g)
Posisi sim
h)
Posisi trendelenbeg (kepala lebih rendah dari kaki)
2)
Ambulasi dini
Cara ini adalah salah satu tindakan yang dapat
meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot serta meningkatkan fungsi
kardiovaskular.. Tindakan ini bisa dilakukan dengan cara melatih posisi duduk
di tempat tidur, turun dari tempat tidur, bergerak ke kursi roda, dan
lain-lain.
3)
Melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri juga
dilakukan untuk melatih kekuatan, ketahanan, kemampuan sendi agar mudah bergerak,
serta meningkatkan fungsi kardiovaskular.
4)
Latihan isotonik dan isometrik
Latihan ini juga dapat dilakukan untuk melatih
kekuatan dan ketahanan otot dengan cara mengangkat beban ringan, lalu beban
yang berat. Latihan isotonik (dynamic exercise) dapat dilakukan dengan rentang
gerak (ROM) secara aktif, sedangkan latihan isometrik (static exercise) dapat
dilakukan dengan meningkatkan curah jantung dan denyut nadi.
5)
Latihan ROM Pasif dan Aktif
Latihan ini baik ROM aktif maupun pasif merupakan
tindakan pelatihan untuk mengurangi kekakuan pada sendi dan kelemahan otot. Latihan-latihan ROM meliputi :
·
Fleksi dan ekstensi pergelangan tangan
·
Fleksi dan ekstensi siku
·
Pronasi dan supinasi lengan bawah
·
Pronasi fleksi bahu
·
Abduksi dan adduksi
·
Rotasi bahu
·
Fleksi dan ekstensi jari-jari
·
Infersi dan efersi kaki
·
Fleksi dan ekstensi pergelangan kaki
·
Fleksi dan ekstensi lutut
·
Rotasi pangkal paha
·
Abduksi dan adduksi pangkal paha
6)
Latihan Napas Dalam dan Batuk Efektif
Latihan ini dilakukan untuk meningkatkan fungsi respirasi
sebagai dampak terjadinya imobilitas.
7)
Melakukan Postural Drainase
Postural drainase merupakan cara klasik untuk
mengeluarkan sekret dari paru dengan menggunakan gaya berat (gravitasi) dari
sekret itu sendiri. Postural drainase dilakukan untuk mencegah terkumpulnya
sekret dalam saluran napas tetapi juga mempercepat pengeluaran sekret sehingga
tidak terjadi atelektasis, sehingga dapat meningkatkan fungsi respirasi. Pada
penderita dengan produksi sputum yang banyak, postural drainase lebih efektif bila
diikuti dengan perkusi dan vibrasi dada.
8)
Melakukan komunikasi terapeutik
Cara ini dilakukan untuk memperbaiki gangguan
psikologis yaitu dengan cara berbagi perasaan dengan pasien, membantu pasien
untuk mengekspresikan kecemasannya, memberikan dukungan moril, dan lain-lain.
B.
Asuhan Keperawatan
1.
Pengkajian
a.
Aspek biologis
1)
Usia.
Faktor usia berpengaruh terhadap kemampuan melakukan
aktifitas, terkait dengan kekuatan muskuloskeletal. Hal yang perlu dikaji
diantaranya adalah postur tubuh yang sesuai dengan tahap pekembangan individu.
2)
Riwayat keperawatan.
Hal yang perlu dikaji diantaranya adalah riwayat
adanya gangguan pada sistem muskuloskeletal, ketergantungan terhadap orang lain
dalam melakukan aktivitas, jenis latihan atau olahraga yang sering dilakukan
klien dan lain-lain.
3)
Pemeriksaan fisik, meliputi rentang gerak, kekuatan
otot, sikap tubuh, dan dampak imobilisasi terhadap sistem tubuh.
a)
Aspek psikologis
Aspek psikologis yang perlu dikaji di antaranya adalah
bagaimana respons psikologis klien terhadap masalah gangguan aktivitas yang
dialaminya, mekanisme koping yang digunakan klien dalam menghadapi gangguan
aktivitas dan lain-lain.
b)
Aspek sosial kultural
Pengkajian pada aspek sosial kultural ini dilakukan
untuk mengidentifikasi dampak yang terjadi akibat gangguan aktifitas yang
dialami klien terhadap kehidupan sosialnya, misalnya bagaimana pengaruhnya
terhadap pekerjaan, peran diri baik dirumah, kantor maupun sosial dan lain-lain
c)
Aspek spiritual
Hal yang perlu dikaji pada aspek ini adalah bagaimana
keyakinan dan nilai yang dianut klien dengan kondisi kesehatan yang dialaminya
sekarang, seperti apakah klien menunjukan keputusasaannya? Bagaimana
pelaksanaan ibadah klien dengan keterbatasan kemampuan fisiknya? Dan lain-lain
(Asmadi, 2008).
d)
Kemunduran musculoskeletal
Indikator primer dari keparahan imobilitas pada system
musculoskeletal adalah penurunan tonus, kekuatan, ukuran, dan ketahanan otot;
rentang gerak sendi; dan kekuatan skeletal. Pengkajian fungsi secara periodik
dapat digunakan untuk memantau perubahan dan keefektifan intervensi.
e)
Kemunduran kardiovaskuler
Tanda dan gejala kardivaskuler tidak memberikan bukti
langsung atau meyaknkan tentang perkembangan komplikasi imobilitas. Hanya
sedikit petunjuk diagnostic yang dapat diandalkan pada pembentukan trombosis. Tanda-tanda
tromboflebitis meliputi eritema, edema, nyeri tekan dan tanda homans positif.
Intoleransi ortostatik dapat menunjukkan suatu gerakan untuk berdiri tegak
seperti gejala peningkatan denyut jantung, penurunan tekanan darah, pucat,
tremor tangan, berkeringat, kesulitandalam mengikuti perintah dan sinkop
f)
Kemunduran Respirasi
Indikasi kemunduran respirasi dibuktikan dari tanda
dan gejala atelektasis dan pneumonia. Tanda-tanda awal meliputi peningkatan
temperature dan denyut jantung. Perubahan-perubahan dalam pergerakan dada,
perkusi, bunyi napas, dan gas arteri mengindikasikan adanaya perluasan dan
beratnya kondisi yang terjadi.
g)
Perubahan-perubahan integument
Indikator cedera iskemia terhadap jaringan yang
pertama adalah reaksi inflamasi. Perubahan awal terlihat pada permukaan kulit
sebagai daerah eritema yang tidak teratur dan didefinisikan sangat buruk di
atas tonjolan tulang yang tidak hilang dalam waktu 3 menit setelah tekanan
dihilangkan
h)
Perubahan-perubahan fungsi urinaria
Bukti dari perubahan-perubahan fungsi urinaria
termasuk tanda-tanda fisik berupa berkemih sedikit dan sering, distensi abdomen
bagian bawah, dan batas kandung kemih yang dapat diraba. Gejala-gejala
kesulitan miksi termasuk pernyataan ketidakmampuan untuk berkemih dan tekanan atau
nyeri pada abdomen bagian bawah
i)
Perubahan-perubahan Gastrointestinal
Sensasi subjektif dari konstipasi termasuk rasa tidak
nyaman pada abdomen bagian bawah, rasa penuh, tekanan. Pengosonganh rectum yang
tidak sempurna, anoreksia, mual gelisah, depresi mental, iritabilitas,
kelemahan, dan sakit kepala.
j)
Faktor-faktor lingkungan
Lingkungan tempat tinggal klien memberikan bukti untuk
intervensi. Di dalam rumah, kamar mandi tanpa pegangan, karpet yang lepas,
penerangan yang tidak adekuat, tangga yang tinggi, lantai licin, dan tempat
duduk toilet yang rendah dapat menurunkan mobilitas klien. Hambatan-hambatan
institusional terhadap mobilitas termasuk jalan koridor yang terhalang, tempat
tidudan posisi yang tinggi, dan cairan pada lantai. Identifikasi dan penghilangan
hambatan-hambatan yang potensial dapat meningkatakan mobilitas
2.
Diagnosa Keperawatan
c.
Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan sensori persepsi
d.
Nyeri akut berhubungan
dengan agen cedera fisik
e.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum
f.
Defisit perawatan diri berhubungan dengan kerusakan neurovaskuler
3. Perencanaan
Keperawatan (tujuan dan kriteria hasil
menggunakan pendekatan NOC, intervensi menggunakan pendekatan NIC)
RENCANA
KEPERAWATAN
|
|||
|
NO DX
|
DIANGOSA
KEPERAWATAN DAN KOLABORASI
|
TUJUAN
(NOC)
|
INTERVENSI
(NIC)
|
|
1
|
Gangguan
mobilitas fisik berhubungan dengan Kerusakan sensori persepsi.
|
Setelah
dilakukan asuhan keperawatan selama ...x 24 jam klien menunjukkan:
§ Mampu mandiri total
§ Membutuhkan alat bantu
§ Membutuhkan bantuan orang lain
§ Membutuhkan bantuan orang lain dan alat
§ Tergantung total
Dalam hal :
§ Penampilan posisi tubuh yang benar
§ Pergerakan sendi dan otot
§ Melakukan perpindahan/ ambulasi : miring kanan-kiri, berjalan, kursi roda
|
Latihan Kekuatan
§ Ajarkan
dan berikan dorongan pada klien untuk melakukan program latihan secara rutin
Latihan untuk ambulasi
§ Ajarkan
teknik Ambulasi & perpindahan yang aman kepada klien dan keluarga.
§ Sediakan
alat bantu untuk klien seperti kruk, kursi roda, dan walker
§ Beri
penguatan positif untuk berlatih mandiri dalam batasan yang aman.
Latihan mobilisasi dengan kursi roda
§ Ajarkan
pada klien & keluarga tentang cara
pemakaian kursi roda & cara berpindah dari kursi roda ke tempat tidur
atau sebaliknya.
§ Dorong
klien melakukan latihan untuk memperkuat anggota tubuh
§ Ajarkan
pada klien/ keluarga tentang cara penggunaan kursi roda
Latihan Keseimbangan
§ Ajarkan
pada klien & keluarga untuk dapat
mengatur posisi secara mandiri dan menjaga keseimbangan selama latihan
ataupun dalam aktivitas sehari hari.
Perbaikan Posisi Tubuh yang Benar
§ Ajarkan
pada klien/ keluarga untuk mem
perhatikan postur tubuh yg benar untuk menghindari kelelahan, keram &
cedera.
§ Kolaborasi
ke ahli terapi fisik untuk program latihan.
|
|
2
|
Nyeri akut berhubungan dengan cedera fisik
|
Setelah dilakukan Asuhan keperawatan selama …. x 24
jam:
v Pain
Level,
v Pain
control,
v Comfort
level
Kriteria Hasil :
§ Mampu
mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi
untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
§ Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
§ Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
§ Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
§ Tanda
vital dalam rentang normal
|
Pain Management
§ Lakukan
pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
§ Observasi
reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
§ Gunakan
teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
§ Evaluasi
pengalaman nyeri masa lampau
§ Evaluasi
bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri
masa lampau
§ Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
§ Kurangi
faktor presipitasi nyeri
§ Ajarkan
tentang teknik non farmakologi
§ Evaluasi
keefektifan kontrol nyeri
§ Tingkatkan
istirahat
§ Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak
berhasil
§ Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri
|
|
3
|
Intoleransi aktivitas berhubungan denganKelemahan
umum
|
Setelah dilakukan Asuhan keperawatan selama …. x 24
jam :
§ Klien
mampu mengidentifikasi aktifitas dan situasi yang menimbulkan kecemasan
yang berkonstribusi pada intoleransi aktifitas.
§ Klien
mampu berpartisipasi dalam aktifitas fisik tanpa disertai peningkatan TD, N,
RR dan perubahan ECG
§ Klien
mengungkapkan secara verbal, pemahaman tentang kebutuhan oksigen, pengobatan
dan atau alat yang dapat meningkatkan toleransi terhadap aktifitas.
§ Klien
mampu berpartisipasi dalam perawatan diri tanpa bantuan atau dengan bantuan
minimal tanpa menunjukkan kelelahan
|
Managemen Energi
§ Tentukan
penyebab keletihan: :nyeri, aktifitas, perawatan , pengobatan
§ Kaji
respon emosi, sosial dan spiritual terhadap aktifitas.
§ Evaluasi motivasi dan keinginan klien untuk meningkatkan aktifitas.
§ Monitor respon kardiorespirasi terhadap aktifitas : takikardi, disritmia,
dispnea, diaforesis, pucat.
§ Monitor
asupan nutrisi untuk memastikan ke adekuatan sumber energi.
§ Monitor
respon terhadap pemberian oksigen : nadi, irama jantung, frekuensi Respirasi
terhadap aktifitas perawatan diri.
§ Letakkan
benda-benda yang sering digunakan pada tempat yang mudah dijangkau
§ Kelola
energi pada klien dengan pemenuhan kebutuhan makanan, cairan, kenyamanan /
digendong untuk mencegah tangisan yang menurunkan energi.
§ Kaji pola istirahat klien dan adanya faktor yang menyebabkan kelelahan.
Terapi
Aktivitas
§ Bantu klien melakukan ambulasi yang dapat ditoleransi.
§ Rencanakan jadwal antara aktifitas dan istirahat.
§ Bantu dengan aktifitas fisik teratur : misal: ambulasi, berubah posisi,
perawatan personal, sesuai kebutuhan.
§ Minimalkan
anxietas dan stress, dan berikan istirahat yang adekuat
§ Kolaborasi
dengan medis untuk pemberian terapi, sesuai indikasi
|
|
4
|
Defisit perawatan diri berhubungan
dengan Kerusakan neurovaskuler
|
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama... x24
jm
Klien mampu :
§ Melakukan
ADL mandiri : mandi, hygiene mulut ,kuku, penis/vulva, rambut, berpakaian,
toileting, makan-minum, ambulasi
§ Mandi
sendiri atau dengan bantuan tanpa kecemasan
§ Terbebas
dari bau badan dan mempertahankan kulit utuh
§ Mempertahankan
kebersihan area perineal dan anus
§ Berpakaian
dan melepaskan pakaian sendiri
§ Melakukan
keramas, bersisir, bercukur, membersihkan kuku, berdandan
§ Makan dan
minum sendiri, meminta bantuan bila perlu
§ Mengosongkan
kandung kemih dan bowel
|
Bantuan Perawatan Diri: Mandi, higiene mulut,
penil/vulva, rambut, kulit
§ Kaji kebersihan kulit, kuku, rambut, gigi, mulut, perineal, anus
§ Bantu klien untuk mandi, tawarkan pemakaian lotion, perawatan kuku,
rambut, gigi dan mulut, perineal dan anus, sesuai kondisi
§ Anjurkan
klien dan keluarga untuk melakukan oral
hygiene sesudah makan dan bila perlu
§ Kolaborasi dgn Tim Medis / dokter gigi bila ada lesi, iritasi, kekeringan
mukosa mulut, dan gangguan integritas kulit.
Bantuan perawatan diri : berpakaian
§ Kaji dan dukung kemampuan klien untuk berpakaian
sendiri
§ Ganti
pakaian klien setelah personal hygiene, dan pakaikan pada ektremitas yang
sakit/ terbatas terlebih dahulu, Gunakan pakaian yang longgar
§ Berikan
terapi untuk mengurangi nyeri sebelum melakukan aktivitas berpakaian sesuai
indikasi
Bantuan perawatan diri : Makan-minum
§ Kaji
kemampuan klien untuk makan : mengunyah dan menelan makanan
§ Fasilitasi alat bantu yg mudah digunakan klien
§ Dampingi dan dorong keluarga untuk membantu klien saat makan
Bantuan
Perawatan Diri: Toileting
§ Kaji kemampuan toileting: defisit sensorik
(inkontinensia), kognitif (menahan untuk toileting), fisik
(kelemahan fungsi/ aktivitas)
§ Ciptakan lingkungan yang aman(tersedia pegangan dinding/ bel), nyaman dan
jaga privasi selama toileting
§ Sediakan alat bantu (pispot, urinal) di tempat yang mudah dijangkau
§ Ajarkan pada klien dan keluarga untuk melakukan toileting secara teratur
|
DAFTAR PUSTAKA
Asmadi.
2008. Konsep dan aplikasi kebutuhan dasar klien. Jakarta : Salemba
Medika.
Perry &
Potter. 2006. Buku ajar fundal mental keperawatan konsep, proses dan
praktik. Edisi 4. Jakarta : EGC.
Tarwoto
& Wartonah, 2003. Kebutuhan dasar manusia & proses keperawatan.
Jakarta : Salemba Medika.
Wilkinson,
Judith M. 2007. Buku saku diagnosa keperawatan dengan intervensi NIC dan
kriteria hasil NOC. Jakarta : EGC.
Kushariyadi.
2010. Askep pada Klien Lanjut Usia. Jakarta: Salemba Medika
Mc Closkey,
C.J., et all. 2012. Nursing
Interventions Classification (NIC) Second Edition. New Jersey: Upper Saddle
River
Santosa,
Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta:
Prima Medika
Aziz AA,
2016. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta. salemba medika
Mubarak,
2018 Buku Ajar
Keperawatan Dasar. Jakarta salemba medika
Doenges M E,
2000 Rencana Asuhab
Keperawatan & Pedoman Untuk Perencanaan Dan –Pendokumentasian Perawatan
Pasien. Edisi iii. Alih bahasa: I made kriasa : EGC
jakarta
Potter, P.A, Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep,
dan Praktik. Edisi 4. Volume 2. Alih bahasa: Renata komalasari dkk. Jakarta:
EGC
Setiati et
all, 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I.jakarta: Interna Publishing
Tidak ada komentar:
Posting Komentar