Selasa, 18 Desember 2018

LAPORAN PENDAHULUAN ARTHRITIS GOUT


ARTHRITIS GOUT

A.    Pengertian
Gout adalah penyakit metebolik yang ditandai dengan penumpukan asam urat yang nyeri pada tulang sendi, sangat sering ditemukan pada kaki bagian atas, pergelangan dan kaki bagian tengah. (Merkie, Carrie. 2005).
Gout merupakan penyakit  metabolic yang ditandai oleh penumpukan asam urat yang menyebabkan nyeri pada sendi. (Moreau, David. 2005).
Gout merupakan kelompok keadaan heterogenous yang berhubungan dengan defek genetic  pada metabolism purin atau hiperuricemia. (Brunner & Suddarth. 2001).
Artritis pirai (gout) merupakan suatu sindrom klinik sebagai deposit kristal asam urat di daerah persendian yang menyebabkan terjadinya serangan inflamasi akut.
Jadi, Gout atau  sering disebut “asam urat” adalah suatu penyakit metabolik dimana tubuh tidak dapat mengontrol asam urat sehingga terjadi penumpukan asam urat yang menyebabkan rasa nyeri pada tulang dan sendi.

B.     Etiologi
Penyebab utama terjadinya gout adalah karena adanya deposit / penimbunan kristal asam urat dalam sendi. Penimbunan asam urat sering terjadi pada penyakit dengan metabolisme asam urat abnormal dan Kelainan metabolik dalam pembentukan purin dan ekskresi asam urat yang kurang dari ginjal.
Beberapa factor lain yang mendukung, seperti :
1.        Faktor genetik seperti gangguan metabolisme purin yang menyebabkan asam urat berlebihan (hiperuricemia), retensi asam urat, atau keduanya.
2.        Penyebab sekunder yaitu akibat obesitas, diabetes mellitus, hipertensi, gangguan ginjal yang akan menyebabkan :
a.       Pemecahan asam yang dapat menyebabkan hiperuricemia.
b.      Karena penggunaan obat-obatan yang menurunkan ekskresi asam urat seperti : aspirin, diuretic, levodopa, diazoksid, asam nikotinat, aseta zolamid dan etambutol.

C.    Pathofisiologi
Adanya gangguan metabolisme purin dalam tubuh, intake bahan yang mengandung asam urat tinggi, dan sistem ekskresi asam urat yang tidak adekuat akan menghasilkan akumulasi asam urat yang berlebihan di dalam plasma darah (Hiperurecemia), sehingga mengakibatkan kristal asam urat menumpuk dalam tubuh. Penimbunan ini menimbulkan iritasi lokal dan menimbulkan respon inflamasi.
Hiperurecemia merupakan hasil :
1.        Meningkatnya produksi asam urat akibat metabolisme purine abnormal.
2.        Menurunnya ekskresi asam urat.
3.        Kombinasi keduanya.
Saat asam urat menjadi bertumpuk dalam darah dan cairan tubuh lain, maka asam urat tersebut akan mengkristal dan akan membentuk garam-garam urat yang akan berakumulasi atau menumpuk di jaringan konectiv diseluruh tubuh, penumpukan ini disebut tofi. Adanya kristal akan memicu respon inflamasi akut dan netrofil melepaskan lisosomnya. Lisosom tidak hanya merusak jaringan, tapi juga menyebabkan inflamasi.
Pada penyakit gout akut tidak ada gejala-gejala yang timbul. Serum urat maningkat tapi tidak akan menimbulkan gejala. Lama kelamaan penyakit ini akan menyebabkan hipertensi karena adanya penumpukan asam urat pada ginjal.
Serangan akut pertama biasanya sangat sakit dan cepat memuncak. Serangan ini meliputi hanya satu tulang sendi. Serangan pertama ini sangat nyeri yang menyebabkan tulang sendi menjadi lunak dan terasa panas, merah. Tulang sendi metatarsophalangeal biasanya yang paling pertama terinflamasi, kemudian mata kaki, tumit, lutut, dan tulang sendi pinggang. Kadang-kadang gejalanya disertai dengan demam ringan. Biasanya berlangsung cepat tetapi cenderung berulang dan dengan interval yang tidak teratur.
Periode intercritical adalah periode dimana tidak ada gejala selama serangan gout.  Kebanyakan pasien mengalami serangan kedua pada bulan ke-6 sampai 2 tahun setelah serangan pertama. Serangan berikutnya disebut dengan polyarticular yang tanpa kecuali menyerang tulang sendi kaki maupun lengan yang biasanya disertai dengan demam. Tahap akhir serangan gout atau gout kronik ditandai dengan polyarthritis yang berlangsung sakit dengan tofi yang besar pada kartilago, membrane synovial, tendon dan jaringan halus. Tofi terbentuk di jari, tangan, lutut, kaki, ulnar, helices pada telinga, tendon achiles dan organ internal seperti ginjal. Kulit luar mengalami ulcerasi dan mengeluarkan pengapuran, eksudat yang terdiri dari Kristal asam urat.









Pathway





D.    Manifestasi Klinis
1.      Nyeri  tulang sendi
2.      Kemerahan dan bengkak pada tulang sendi
3.      Tofi pada ibu jari, mata kaki dan pinna telinga
4.      Peningkatan suhu tubuh.
Gangguan akut :
1.      Nyeri hebat
2.      Bengkak dan berlangsung cepat pada sendi yang terserang
3.      Sakit kepala
4.      Demam.
Gangguan kronis :
1.      Serangan akut
2.      Hiperurisemia yang tidak diobati
3.      Terdapat nyeri dan pegal
4.      Pembengkakan sendi membentuk noduler yang disebut tofi (penumpukan monosodium urat dalam jaringan)

E.     Penatalaksanaan Medik
Tujuan untuk mengakhiri serangan akut secepat mungkin, mencegah serangan berulang, dan pencegahan komplikasi.
1.        Pengobatan serangan akut dengan Colchicine 0,6 mg (pemberian oral), Colchicine 1,0-3,0 mg (dalam NaCl intravena), phenilbutazone, Indomethacin.
2.        Sendi diistirahatkan (imobilisasi pasien)
3.        Kompres dingin
4.        Diet rendah purin
5.        Terapi farmakologi (Analgesic  dan antipiretik)
6.        Colchicines (oral/IV) tiap 8 jam sekali untuk mencegah fagositosis dari Kristal asam urat oleh netrofil sampai nyeri berkurang.
7.        Nonsteroid, obat-obatan anti inflamasi (NSAID) untuk nyeri dan inflamasi.
8.        Allopurinol untuk menekan atau mengontrol tingkat asam urat dan untuk mencegah serangan.
9.        Uricosuric (Probenecid dan Sulfinpyrazone) untuk meningkatkan ekskresi asam urat dan menghambat akumulasi asam urat (jumlahnya dibatasi pada pasien dengan gagal ginjal).
10.    Terapi pencegahan dengan meningkatkan ekskresi asam urat menggunakan probenezid 0,5 g/hari atau sulfinpyrazone (Anturane) pada pasien yang tidak tahan terhadap benemid atau menurunkan pembentukan asam urat dengan Allopurinol 100 mg 2 kali/hari.
F.     Komplikasi
1.        Erosi, deformitas dan ketidakmampuan aktivitas karena inflamasi kronis dan tofi yang menyebabkan degenerasi sendi.
2.        Hipertensi dan albuminuria.
3.        Kerusakan tubuler ginjal yang menyebabkan gagal ginjal kronik.
G.    Pemeriksaan Penunjang
1.        Laju sedimentasi eritrosit (LSE) meningkat, yang menunjukkan inflamasi
2.        SDP meningkat (leukositosis)
3.        Ditemukan kadar asam urat yang tinggi di dalam darah
4.        Pada pemeriksaan terhadap contoh cairan sendi di bawah mikroskop khusus akan tampak kristal urat yang berbentuk seperti jamur
5.        Pemeriksaan sinar X dari daerah yang terkena untuk menunjukkan masa tefoseus dan destruksi tulang dan perubahan sendi
H.    Pencegahan
1.        Pembatasan purin : Hindari makanan yang mengandung purin yaitu : Jeroan (jantung, hati, lidah ginjal, usus), Sarden, Kerang, Ikan herring, Kacang-kacangan, Bayam, Udang, Daun melinjo.
2.        Kalori sesuai kebutuhan : Jumlah asupan kalori harus benar disesuaikan dengan kebutuhan tubuh berdasarkan pada tinggi dan berat badan. Penderita gangguan asam urat yang kelebihan berat badan, berat badannya harus diturunkan dengan tetap memperhatikan jumlah konsumsi kalori. Asupan kalori yang terlalu sedikit juga bisa meningkatkan kadar asam urat karena adanya badan keton yang akan mengurangi pengeluaran asam urat melalui urine.
3.        Tinggi karbohidrat : Karbohidrat kompleks seperti nasi, singkong, roti dan ubi sangat baik dikonsumsi oleh penderita gangguan asam urat karena akan meningkatkan pengeluaran asam urat melalui urine.
4.        Rendah protein : Protein terutama yang berasal dari hewan dapat meningkatkan kadar asam urat dalam darah. Sumber makanan yang mengandung protein hewani dalam jumlah yang tinggi, misalnya hati, ginjal, otak, paru dan limpa.
5.        Rendah lemak : Lemak dapat menghambat ekskresi asam urat melalui urin. Makanan yang digoreng, bersantan, serta margarine dan mentega sebaiknya dihindari. Konsumsi lemak sebaiknya sebanyak 15 persen dari total kalori.
6.        Tinggi cairan : Selain dari minuman, cairan bisa diperoleh melalui buah-buahan segar yang mengandung banyak air. Buah-buahan yang disarankan adalah semangka, melon, blewah, nanas, belimbing manis, dan jambu air. Selain buah-buahan tersebut, buah-buahan yang lain juga boleh dikonsumsi karena buah-buahan sangat sedikit mengandung purin. Buah-buahan yang sebaiknya dihindari adalah alpukat dan durian, karena keduanya mempunyai kandungan lemak yang tinggi.
7.        Tanpa alkohol : Berdasarkan penelitian diketahui bahwa kadar asam urat mereka yang mengonsumsi alkohol lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi alkohol. Hal ini adalah karena alkohol akan meningkatkan asam laktat plasma. Asam laktat ini akan menghambat pengeluaran asam urat dari tubuh


BAB II
Konsep Keperawatan

A.    Pengkajian
1.        Identitas
Nama, umur (sekitar 50 tahunan), alamat, agama, jenis kelamin (biasanya 95% penderita gout adalah pria), dll
2.        Keluhan Utama
Pada umumnya klien merasakan nyeri yang luar biasa pada sendi ibu jari kaki (sendi lain)
3.        Riwayat Penyakit Sekarang
P (Provokatif) : Kaji penyebab nyeri
Q (Quality / qualitas) : Kaji seberapa sering nyeri yang dirasakan klien
R (Region) : Kaji bagian persendian yang terasa nyeri (biasanya pada pangkal ibu jari)
S (Saverity) :`Apakah mengganggu aktivitas motorik ?
T (Time) :        Kaji kapan keluhan nyeri dirasakan ? (Biasanya terjadi pada malam hari)
4.        Riwayat Penyakit Dahulu
Tanyakan pada klien apakah menderita penyakit ginjal ?
5.        Riwayat Penyakit Keluarga
Tanyakan apakah pernah ada anggota keluarga klien yang menderita penyakit yang sama seperti yang diderita klien sekarang ini.
6.        Pengkajian Psikososial dan Spiritual
a.       Psikologi : Biasanya klien mengalami peningkatan stress
b.      Sosial : Cenderung menarik diri dari lingkungan
c.       Spiritual : Kaji apa agama pasien, bagaimana pasien menjalankan ibadah menurut agamanya

7.        Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari
a.       Kebutuhan nutrisi
1)      Makan : Kaji frekuensi, jenis, komposisi (pantangan makanan kaya protein)
2)      Minum : Kaji frekuensi, jenis (pantangan alkohol)
b.      Kebutuhan eliminasi
1)      BAK        : kaji frekuensi, jumlah, warna, bau
2)      BAB         : kaji frekuensi, jumlah, warna, bau
c.       Kebutuhan aktivitas
Biasanya klien kurang / tidak dapat melaksanakan aktivitas sehari-hari secara mandiri akibat nyeri dan pembengkakan

B.     Pemeriksaan Fisik
1.        Keadaan umum :
a.       Tingkat kesadaran
b.      GCS
c.       TTV
2.        Peningkatan penginderaan
a.       Sistem integument. Kulit tampak merah atau keunguan, kencang, licin, serta teraba hangat
b.      Mata   : Kaji penglihatan, bentuk, visus, warna sklera, gerakan bola mata
c.       Hidung : Kaji bentuk hidung, terdapat gangguan penciuman atau tidak
d.      Telinga : Kaji pendengaran, terdapat gangguan pendengaran atau tidak, biasanya terdapat tofi pada telinga
3.        Sistem kardiovaskuler
Inspeksi    : Apakah ada pembesaran vena jugularis
Palpasi      : Kaji frekuensi nadi (takhikardi)
Auskultasi : Apakah suara jantung normal S1 + S2 tunggal / ada suara tambahan

4.        Sistem penceranaan
Inspeksi    : Kaji bentuk abdomen, ada tidaknya pembesaran pada abdomen
Palpasi      : Apakah ada nyeri tekan pada abdomen
Perkusi     : Apakah kembung / tidak
Auskultasi : Apakah ada peningkatan bising usus
5.        Sistem muskuluskeletal
Biasanya terjadi pembengkakan yang mendadak (pada ibu jari) dan nyeri yang luar biasa serta juga dapat terbentuk kristal di sendi-sendi perifer, deformitas (pembesaran sendi)
6.        Sistem perkemihan
Hampir 20% penderita gout memiliki batu ginjal
7.        Pemeriksaan diasnostik.
Gambaran radiologis pada stadium dini terlihat perubahan yang berarti dan mungkin terlihat osteoporosis yang ringan. Pada kasus lebih lanju, terlhat erosi tulang seperti lubang-lubang kecil (punch out).

C.    Diagnosa Keperawatan
1.        Nyeri sendi b. d peradangan sendi, penimbunan kristal pada membrane sinovia, tulang rawan artikular, erosi tulang rawan, prolifera sinovia dan pembentukan panus.
2.        Hambatan mobilisasi fisik b. d penurunaan rentang gerak, kelemahan otot, pada gerakan, dan kekakuan pada sendi kaki sekunder akibat erosi tulang rawan, proloferasi sinovia, dan pembentukan panus.
3.        Gangguan citra diri b. d perubahan bentuk  kaki dan terbenuknya tofus.
4.        Perubahan pola tidur b.d  nyeri





D.    Intervensi Keperawatan
Diagnosa
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
Dk. I : Nyeri sendi b. d peradangan sendi, penimbunan Kristal pada membrane sinovia, tulang rawan arikular, erosi tulang rawan, prolifera sinovia dan pembentukan panus.
Tujuan keperawatan : Nyeri berkurang, hilang, teratasi.
Kriteria hasil :
Ø Klien melaporkan penelusuran nyeri
Ø menunjukan perilaku yang lebiih rileks
Ø memperagakan keterampilan reduksi nyeri
Ø Skala nyeri 0 – 1 atau teratasi.
MANDIRI
Ø Kaji lokasi, intensitas,an tipe nyeri. Observasi kemajuan nyeri ke daerah yang baru. Kaji nyeri dengan skala0 – 4.
Ø Bantu klien dalam  mengidentifikasi factor pencetus.
Ø Jelaskan dan bantu klien terkait dengan tindakan pereda nyeri nonfamakologi dan non – invasif.
Ø Ajarkan relaksasi: teknik terkait ketegangan otot rangka yang dapat mengurangi intensitas nyeri.
Ø Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut.
Ø Tingkatkan pengetahuaan  tentang penyebab nyeri dan hubungan dengan berapa lama nyeri akan berlangsung.
Ø Hindarkan klien meminum alcohol, kafein, dan obat diuretik.
Ø Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian alopurinol

Ø Nyeri merupakan respon subjektif yangbdapat dikaji dengan menggunakan skala nyeri. Klien melaporkan nyeri biasanya di atas tingkat cedera.
Ø Nyeri dipengaruhi oleh kecemasan dan peradangan pada sendi.
Ø Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan farmakologilain menunjukan keefektifan dalam mengurangi nyeri.
Ø Akan melancarkan peredaran darah sehingga kebutuhan oksigen pada jaringan terpenuhi dan mengurangi nyeri.
Ø Mengalikan perhatian klien terhadap nyeri ke hal yang menyenangkan.
Ø pegetahuan tersebut membatu mengurangi nyeri dan dapat menbatumeningkatkan kepatuhan klien terhadap rencana terapeutik
Ø pemakaian alkohol, kafein, dan obat-obatan diuretik akan menambah peningkatan kadar asam urat dalam serum.
Ø Alopurinol menghambat biosentesis asam urat sehingga menurunkan kadar asam urat serum.
Hambatan mobilisasi fisik b. d penurunaan rentang gerak, kelemahan otot, pada gerakan, dan kekakuan pada sendi kaki sekunder akibat erosi tulang rawan, proloferasi sinovia, dan pembentukan panus.
Tujuan keperawatan  : klien mampu melaksanakan aktifitas fisik sesuai dengan kemampuannya.
Kreteria hasil :
Ø Klien ikut dalam program latihan
Ø Tidak mengalami kontraktur sendi
Ø Kekuatan otot bertambah
Ø Klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas dan mempertahankan koordinasi optimal.
Ø Kaji mobilitas yang ada dan observasi adanya peningkatan kerusakan.
Ø Ajarkan klien melakukan latihan gerak aktif pada ekstermitas yang tidak sakit.
Ø Bantu klien melakukan latihan ROM dan perawatan diri sesuai toleransi.
Ø Pantau kemajuan dan perkembangan kemamapuan klien dalam melakukan aktifitas
Ø Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien


Ø Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktifitas.
Ø Gerakan aktif memberi masa tonus, dan kekuatan otot, serta memperbaiki fungsi jantung dan pernafasan.
Ø Untuk mempertahankan fleksibilitas sendi sesuai kemampauan.
Ø Untuk mendeteksi perkembangan klien.
Ø Kemampuan mobilisasi ekstermitas dapat ditingkatkan dengan latihan fisik dari tim fisioterapi.
Gangguan citra diri b. d perubahan bentuk  kaki dan terbenuknya tofus.

Tujuan perawatan    : Citra diri klien meningkat
Kriteria hasil              :
Ø Klien mampu mengatakan atau mengkomunikasikan dengan  orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang terjadi
Ø Mampu menyatakan penerimaan  diri terhadap situasi
Ø Mengakui dan menggabungkan perubhan dalam konsep diri dengan cara yang akurat tanpa merasakan harga dirinya negatif.

Ø Kaji perubhan perspsi dan hubungannya  dengan derajat kletidak mampuan.
Ø Ingantkan kembali realitas bahwa masih dapat menggunakan sisi yang sakit dan belajar mengontrol sisi yang sehat.
Ø Bantu dan ajurkan perawatan yang baik dan memperbaiki kebiasaan.
Ø Anjurkan orang terdekat untuk mengizinkan klien melakukan sebanyak mungkin hal untuk dirinya.
Ø Bersama klien mencari alternatif koping yang positif.
Ø Dukung prilaku atau usaha peningkata minat atau partisipasi dalam aktifitas rehabilitasi.
Ø Kolaborasi denagn ahli neuropsikologi dan konseling bila da indikasi .

Ø Menetukan bantuan individual dalm menyusun rencana perawatan atau pemilihan intervensi
Ø Membantu klien melihat bahwa  peraat menerima kedua bagian dari seluruh tubuh dan mulai menerima situasi baru.
Ø Membantu meningkatkan perasaan harga diri dan mengontrol lebih dari satu area kehidupan.
Ø Menghidupkan kembali perasaan mandiri dn membatu perkemabangan harga diri serta memengaruhi proses rehabilitasi.
Ø Dukungan perawat kepada klien dapat meningkat kan rasa percaya diri klien.
Ø Klien dapat beradaptasi terhadap perubahan dan memahami peran individu dimasa mendatang.
Ø Dapat memfasilitasi perubahan peran yang penting untuk perkembangan perasaan.
Perubahan Pola Tidur b/d Nyeri.
Kriteria Hasil : Klien dapat memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur.

Ø Tentukan kebiasaan tidurnya dan perubahan saat tidur.
Ø Buat rutinitas tidur baru yang dimasukkan dalam pola lama dan lingkungan baru.
Ø Tingkatkan regimen kenyamanan waktu tidur, misalnya mandi hangat dan massage.
Ø Gunakan pagar tempat  tidur sesuai indikasi ; rendahkan tempat tidur jika memungkinkan.
Ø Kolaborasi dalam pemberian obat sedative, hipnotik sesuai dengan indikasi.
Ø Mengkaji pola tidurnya dan mengidentifikasi intervensi yang tepat.
Ø Bila rutinitas baru mengandung aspek sebanyak kebiasaan lama, stress dan ansietas yang berhubungan dapat berkurang
Ø Membantu menginduksi tidur
Ø Dapat merasakan takut jatuh karena perubahan ukuran dan tinggi tempat tidur, memberikan kenyamanan pagar tempat untuk membantu mengubah posisi.
Ø Tidur tanpa gangguan lebih menim- bulkan rasa segar, dan pasien mungkin tidak mampu untuk kembali ke tempat tidur bila terbangun.
Ø Di berikan untuk membantu pasien tidur atau istirahat.




DAFTAR PUSTAKA

Lukman, Ningsih, Nurna. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Jilid 1. Jakarta : Salemba Medika.

Muttaqin, Arif. 2008. Buku Aajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Muskuloskeletal. Cet.1. Jakarta : EGC.

Price, Sylvia.A. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Ed.6 ; Cet.1 ; Jil.II. Jakarta : EGC.

Setiadi. 2007. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Cet. 1. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Suratun. 2008. Asuhan Keperawatan Klein Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Cet. 1. Jakarta : EGC.

Syaifiddin. 2006. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan. Ed.3 ; Cet. 1. Jakarta : EGC.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar