BAB I
PENDAHULUAN
A.
Pengertian
Artritis
Reumatoid (AR) merupakan suatu penyakit yang tersebar luas serta melibatkan
semua kelompok ras dan etnik di dunia. Penyakit ini merupakan suatu penyakit
autoimun yang ditandai dengan terdapatnya sinovitis erosif simetrik yang
walaupun terutama mengenai jaringan persendian, seringkali juga melibatkan
organ tubuh lainnya Sebagian besar penderita menunjukkan gejala penyakit kronik
yang hilang timbul, yang jika tidak diobati akan menyebabkan terjadinya
kerusakan persendian dan deformitas sendi yang progresif yang menyebabkan
disabilitas bahkan kematian dini. Walaupun faktor genetik, hormon sex, infeksi
dan umur telah diketahui berpengaruh kuat dalam menentukan pola morbiditas
penyakit ini.hingga etiologi AR yang sebenarnya tetap belum dapat
diketahui dengan pasti
Klasifikasi
Rheumatoid Arthritis :
1.
Buffer (2010) mengklasifikasikan rheumatoid
arthritis menjadi 4 tipe, yaitu :
a.
Rheumatoid arthritis klasik pada tipe ini harus
terdapat 7 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus berlangsung terus
menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.
b.
Rheumatoid arthritis defisit pada tipe ini harus
terdapat 5 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus berlangsung terus
menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.
c.
Probable rheumatoid arthritis pada
tipe ini harus terdapat 3 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus
berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.
d.
Possible rheumatoid arthritis pada
tipe ini harus terdapat 2 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus
berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 3 bulan.
2.
Jika ditinjau dari stadium penyakit, terdapat
tiga stadium yaitu :
a.
Stadium sinovitis
Pada stadium ini terjadi perubahan dini pada
jaringan sinovial yang ditandai hiperemi, edema karena kongesti, nyeri pada
saat bergerak maupun istirahat, bengkak dan kekakuan.
b.
Stadium destruksi
Pada stadium ini selain terjadi kerusakan pada
jaringan sinovial terjadi juga pada jaringan sekitarnya yang ditandai adanya
kontraksi tendon.
c.
Stadium deformitas
Pada stadium ini terjadi perubahan secara
progresif dan berulang kali, deformitas dan gangguan fungsi secara menetap.
B.
Etiologi
Penyebab
Artritis Reumatoid masih belum diketahui. Faktor genetik dan beberapa faktor
lingkungan telah lama diduga berperan dalam timbulnya penyakit ini.Hal ini
terbukti dari terdapatnya hubungan antara produk kompleks histokompatibilitas
utama kelas II, khususnya HLA-DR4 dengan AR seropositif.Pengemban
HLA-DR4 memiliki resiko relatif 4:1 untuk menderita penyakit ini.
Kecenderungan
wanita untuk menderita AR dan sering dijumpainya remisi pada wanita yang sedang
hamil menimbulkan dugaan terdapatnya faktor keseimbangan hormonal sebagai salah
satu faktor yang berpengaruh pada penyakit ini.Walaupun demikian karena
pemberian hormon estrogen eksternal tidak pernah menghasilkan perbaikan
sebagaimana yang diharapkan, sehingga kini belum berhasil dipastikan bahwa
faktor hormonal memang merupakan penyebab penyakit ini.
Sejak
tahun 1930, infeksi telah diduga merupakan penyebab AR. Dugaan faktor infeksi
sebagai penyebab AR juga timbul karena umumnya onset penyakit ini terjadi
secara mendadak dan timbul dengan disertai oleh gambaran inflamasi yang mencolok.
Walaupun hingga kini belum berhasil dilakukan isolasi suatu mikroorganisme dari
jaringan sinovial, hal ini tidak menyingkirkan kemungkinan bahwa terdapat suatu
komponen peptidoglikan atau endotoksin mikroorganisme yang dapat mencetuskan
terjadinya AR. Agen infeksius yang diduga merupakan penyebab AR antara lain
adalah bakteri, mikoplasma atau virus.
Heat shock
protein (HSP) adalah sekelompok protein berukuran sedang (60 sampai 90 kDa)
yang dibentuk oleh sel seluruh spesies sebagai respons terhadap stress.Walaupun
telah diketahui terdapat hubungan antara HSP dan sel T pada pasien AR,
mekanisme ini belum diketahui dengan jelas.
Adapun
Faktor risiko yang akan meningkatkan risiko terkena nya artritis reumatoid
adalah;
1.
Jenis Kelamin.
Perempuan lebih mudah terkena AR daripada
laki-laki. Perbandingannya adalah 2-3:1.
2.
Umur.
Artritis reumatoid biasanya timbul antara umur
40 sampai 60 tahun. Namun penyakit ini juga dapat terjadi pada dewasa tua dan
anak-anak (artritis reumatoid juvenil)
3.
Riwayat Keluarga.
Apabila anggota keluarga anda ada yang menderita
penyakit artritis Reumatoid maka anda kemungkinan besar akan terkena juga.
4.
Merokok.
Merokok dapat meningkatkan risiko terkena
artritis reumatoid.
C.
Patofisiologi
Antigen
mengaktivasi CD4+ sel T yang menstimulasi monosit, makrofag dan syinovial
fibroblas untuk memproduksi interleukin-1, interleukin-6 dan TNF-α untuk
mensekresikan matrik metaloproteinase melalui hubungan antar sel dengan bantuan
CD69 dan CD11 melalui pelepasan mediator-mediator pelarut seperti interferon-γ
dan interleukin-17. Interleukin-1, interlukin-6 dan TNF-α merupakan kunci
terjadinya inflamasi pada rheumatoid arthritis.
Arktifasi
CD4+ sel T juga menstimulasi sel B melalui kontak sel secara langsung dan
ikatan dengan α1β2 integrin, CD40 ligan dan CD28 untuk
memproduksi immunoglobulin meliputi rheumatoid faktor. Sebenarnya fungsi dari
rhumetoid faktor ini dalam proses patogenesis reumatoid artritis tidaklah
diketahui secara pasti, tapi kemungkinan besar reumatoid faktor mengaktiflkan
berbagai komplemen melalui pembentukan immun kompleks.aktifasi CD4+ sel T juga
mengekspresikan osteoclastogenesis yang secara keseluruhan ini menyebabkan
gangguan sendi. Aktifasi makrofag, limfosit dan fibroblas juga menstimulasi
angiogenesis sehingga terjadi peningkatan vaskularisasi yang ditemukan pada
synovial penderita reumatoid artritis.
Pada
Reumatoid arthritis, reaksi autoimun (yang dijelaskan sebelumnya) terutama
terjadi dalam jaringan sinovial. Proses fagositosis menghasilkan enzim-enzim
dalam sendi. Enzim-enzim tersebut akan memecah kolagen sehingga terjadi edema,
proliferasi membran sinovial dan akhirnya pembentukan pannus. Pannus akan
menghancurkan tulang rawan dan menimbulkan erosi tulang. Akibatnya adalah
menghilangnya permukaan sendi yang akan mengganggu gerak sendi. Otot akan turut
terkena karena serabut otot akan mengalami perubahan degeneratif dengan
menghilangnya elastisitas otot dan kekuatan kontraksi otot (Smeltzer &
Bare, 2002).
Inflamasi
mula-mula mengenai sendi-sendi sinovial seperti edema, kongesti vaskular,
eksudat febrin dan infiltrasi selular. Peradangan yang berkelanjutan,
sinovial menjadi menebal, terutama pada sendi artikular kartilago dari
sendi. Pada persendian ini granulasi membentuk pannus, atau penutup yang
menutupi kartilago. Pannus masuk ke tulang sub chondria. Jaringan
granulasi menguat karena radang menimbulkan gangguan pada nutrisi kartilago
artikuer. Kartilago menjadi nekrosis.
Tingkat
erosi dari kartilago menentukan tingkat ketidakmampuan sendi. Bila
kerusakan kartilago sangat luas maka terjadi adhesi diantara permukaan sendi,
karena jaringan fibrosa atau tulang bersatu (ankilosis). Kerusakan
kartilago dan tulang menyebabkan tendon dan ligamen jadi lemah dan bisa
menimbulkan subluksasi atau dislokasi dari persendian. Invasi dari tulang
sub chondrial bisa menyebkan osteoporosis setempat.
Lamanya
Reumatoid arthritis berbeda pada setiap orang ditandai dengan adanya masa
serangan dan tidak adanya serangan. Sementara ada orang yang sembuh dari
serangan pertama dan selanjutnya tidak terserang lagi. Namun pada sebagian
kecil individu terjadi progresif yang cepat ditandai dengan kerusakan sendi
yang terus menerus dan terjadi vaskulitis yang difus (Long, 1996).
D.
Pathway


E.
Tanda dan gejala
Pasien-pasien
dengan RA akan menunjukan tanda dan gejala seperti :
1.
Nyeri persendian
2.
Bengkak (Rheumatoid nodule)
3.
Kekakuan pada sendi terutama setelah bangun
tidur pada pagi hari
4.
Terbatasnya pergerakan
5.
Sendi-sendi terasa panas
6.
Demam (pireksia)
7.
Anemia
8.
Berat badan menurun
9.
Kekuatan berkurang
10.
Tampak warna kemerahan di sekitar sendi
11.
Perubahan ukuran pada sendi dari ukuran normal
12.
Pasien tampak anemic
F.
Komplikasi
1.
Dapat menimbulkan perubahan pada jaringan lain
seperti adanya prosesgranulasi di bawah kulit yang disebut subcutan nodule.
2.
Pada otot dapat terjadi myosis, yaitu proses
granulasi jaringan otot.
3.
Pada pembuluh darah terjadi tromboemboli. Tromboemboli
adalah adanya sumbatan pada pembuluh darah yang disebabkan oleh adanya darah
yang membeku.
4.
Terjadi splenomegali. Slenomegali merupakan
pembesaran limfa, jika limfa membesar kemampuannya untuk menyebabkan
berkurangnya jumlah sel darah putih dan trombosit dalam sirkulasi menangkap dan
menyimpan sel-sel darah akan meningkat.
G.
Pemeriksaan Penunjang
1.
Sinar X dari sendi yang sakit : menunjukkan
pembengkakan pada jaringan lunak, erosi sendi, dan osteoporosis dari tulang
yang berdekatan (perubahan awal) berkembang menjadi formasi kista tulang,
memperkecil jarak sendi dan subluksasio. Perubahan osteoartristik yang terjadi
secara bersamaan.
2.
Scan radionuklida :mengidentifikasi peradangan
sinovium
3.
Artroskopi Langsung : Visualisasi dari area yang
menunjukkan irregularitas/ degenerasi tulang pada sendi
4.
Aspirasi cairan sinovial : mungkin menunjukkan
volume yang lebih besar dari normal: buram, berkabut, munculnya warna kuning (
respon inflamasi, produk-produk pembuangan degeneratif ); elevasi SDP dan
lekosit, penurunan viskositas dan komplemen ( C3 dan C4 ).
5.
Biopsi membran sinovial : menunjukkan perubahan
inflamasi dan perkembangan panas.
6.
Pemeriksaan cairan sendi melalui biopsi, FNA (Fine
Needle Aspiration) atau atroskopi; cairan sendi terlihat keruh karena
mengandung banyak leukosit dan kurang kental dibanding cairan sendi yang
normal.
Kriteria diagnostik Artritis Reumatoid adalah
terdapat poli- arthritis yang simetris yang mengenai sendi-sendi proksimal jari
tangan dan kaki serta menetap sekurang-kurangnya 6 minggu atau lebih bila
ditemukan nodul subkutan atau gambaran erosi peri-artikuler pada foto rontgen
H.
Penatalaksanaan
1.
Medis
Penatalaksanaan medik pada pasien RA diantaranya
:
a.
Termoterapi
b.
Gizi yaitu dengan memberikan gizi yang tepat
c.
Pemberian Obat-obatan :
1)
Anti Inflamasi non steroid (NSAID)
contoh:aspirin yang diberikan pada dosis yang telah ditentukan.
2)
Obat-obat untuk Reumatoid Artitis : Acetyl
salicylic acid, Cholyn salicylate (Analgetik, Antipyretik, Anty Inflamatory).
2.
Pembedahan menjadi pilihan apabila pemberian
obat-obatan tidak berhasil mencegah dan memperlambat kerusakan sendi.
Pembedahan dapat mengembalikan fungsi dari sendi anda yang telah rusak.
Prosedur yang dapat dilakukan adalah artroplasti, perbaikan tendon,
sinovektomi.
a.
Sinovektomi, untuk mencegah artritis pada sendi
tertentu, untuk mempertahankan fungsi sendi dan untuk mencegah timbulnya
kembali inflamasi.
b.
Arthrotomi, yaitu dengan membuka persendian.
c.
Arthrodesis, sering dilaksanakan pada lutut,
tumit dan pergelangan tangan.
d.
Arthroplasty, pembedahan dengan cara membuat
kembali dataran pada persendian.
3.
Keperawatan
a.
Pendidikan :
meliputi tentang pengertian, patofisiologi, penyebab, dan prognosis penyakit
ini
b.
Istirahat :
karena pada RA ini disertai rasa lelah yang hebat
c.
Latihan :
pada saat pasien tidak merasa lelah atau inflamasi berkurang, ini bertujuan
untuk mempertahankan fungsi sendi pasien.
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN
A.
Pengkajian
1.
Riwayat Kesehatan
a.
Adanya keluhan sakit dan kekakuan pada tangan,
atau pada tungkai.
b.
Perasaan tidak nyaman dalam beberapa
periode/waktu sebelum pasien mengetahui dan merasakan adanya perubahan pada
sendi.
2.
Pemeriksaan Fisik
a.
Inspeksi dan palpasi persendian untuk
masing-masing sisi (bilateral), amati warna kulit, ukuran, lembut tidaknya
kulit, dan pembengkakan.
b.
Lakukan pengukuran passive range of mation pada
sendi-sendi sinovial
c.
Catat bila ada deviasi (keterbatasan gerak
sendi)
d.
Catat bila ada krepitasi
e.
Catat bila terjadi nyeri saat sendi digerakkan
f.
Lakukan inspeksi dan palpasi otot-otot skelet
secara bilateral
g.
Catat bia ada atrofi, tonus yang berkurang
h.
Ukur kekuatan otot
i.
Kaji tingkat nyeri, derajat dan mulainya
j.
Kaji aktivitas/kegiatan sehari-hari
3.
Riwayat Psiko Sosial
Pasien dengan RA mungkin
merasakan adanya kecemasan yang cukup tinggi apalagi pad pasien yang mengalami
deformitas pada sendi-sendi karean ia merasakan adanya kelemahan-kelemahan pada
dirinya dan merasakan kegiatan sehari-hari menjadi berubah. Perawat dapat
melakukan pengkajian terhadap konsep diri klien khususnya aspek body image dan
harga diri klien.
B.
Diagnosa
Keperawatan
1.
Nyeri berhubungan dengan agen pencedera,
distensi jaringan oleh akumulasi cairan/ proses inflamasi, destruksi sendi.
2.
Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan
deformitas skeletal, nyeri, penurunan, kekuatan otot.
3.
Gangguan Citra Tubuh / Perubahan Penampilan
Peran berhubungan dengan perubahan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas
umum, peningkatan penggunaan energi, ketidakseimbangan mobilitas.
4.
Defisit perawatan diri berhubungan dengan
kerusakan musculoskeletal, penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu
bergerak, depresi.
5.
Resiko Infeksi berhubungan dengan trauma.
C.
Analisa
Data
|
No
|
Symptom
|
Etiologi
|
Problem
|
|
1.
|
Keluhan
nyeri, ketidaknyamanan, kelelahan, berfokus pada diri sendiri, Perilaku
distraksi/ respons autonomic
|
Distensi
jaringan akibat akumulasi cairan/proses inflamasi, destruksi sendi
|
Nyeri
|
|
2.
|
Keengganan
untuk mencoba bergerak/ ketidakmampuan untuk dengan sendiri bergerak dalam
lingkungan fisik.
|
deformitas
skeletal, nyeri, penurunan kekuatan otot
|
Gangguan
mobilitas fisik berhubungan dengan.
|
|
3.
|
Perubahan
fungsi dari bagian-bagian yang sakit.
|
deformitas
skeletal, nyeri, penurunan kekuatan otot
|
Gangguan
Citra Tubuh
|
|
4.
|
Ketidakmampuan
untuk mengatur kegiatan sehari-hari.
|
kerusakan
musculoskeletal, penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu bergerak,
depresi
|
Defisit
perawatan diri
|
|
5.
|
Sering
terjatuh Aktifitas menggunakan alat bantu.
Penurunan aktifitas motorik |
Hilangnya
kekuatan otot dan sendi, penurunan kekuatan, Penurunan fungsi
sensorik dan motorik.
|
Resiko
Infeksi
|
D.
Intervensi
keperawatan
|
DIAGNOSA KEPERAWATAN
|
TUJUAN
|
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
|
Nyeri berhubungan dengan agen pencedera, distensi jaringan oleh
akumulasi cairan/ proses inflamasi, destruksi sendi.
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
diharapkan tidak ada Keluhan nyeri, dengan kriteria :
Ø Menunjukkan
nyeri hilang/ terkontrol
Ø Terlihat
rileks, dapat tidur/beristirahat dan berpartisipasi dalam aktivitas sesuai
kemampuan.
·
Mengikuti program farmakologis yang diresepkan
·
Menggabungkan keterampilan relaksasi dan
aktivitas hiburan ke dalam program kontrol nyeri.
|
·
Kaji keluhan nyeri, catat lokasi dan
intensitas (skala 0-10). Catat faktor-faktor yang mempercepat dan tanda-tanda
rasa sakit non verbal
·
Berikan matras/ kasur keras, bantal kecil,.
Tinggikan linen tempat tidur sesuai kebutuhan
·
Tempatkan/ pantau penggunaan bantl, karung
pasir, gulungan trokhanter, bebat, brace.
·
Dorong untuk sering mengubah posisi,. Bantu
untuk bergerak di tempat tidur, sokong sendi yang sakit di atas dan bawah,
hindari gerakan yang menyentak.
·
Anjurkan pasien untuk mandi air hangat atau
mandi pancuran pada waktu bangun dan/atau pada waktu tidur. Sediakan waslap
hangat untuk mengompres sendi-sendi yang sakit beberapa kali sehari. Pantau
suhu air kompres, air mandi, dan sebagainya.
·
Berikan masase yang lembut
·
Ajarkan teknik non farmakologi (relaksasi,
distraksi, relaksasi progresif)
·
Kolaborasi: Berikan obat-obatan sesuai
petunjuk (mis:asetil salisilat)
·
Berikan kompres dingin jika dibutuhkan
|
·
Membantu dalam menentukan kebutuhan manajemen
nyeri dan keefektifan program
·
Matras yang lembut/ empuk, bantal yang besar
akan mencegah pemeliharaan kesejajaran tubuh yang tepat, menempatkan stress
pada sendi yang sakit. Peninggian linen tempat tidur menurunkan tekanan pada
sendi yang terinflamasi/nyeri
·
Mengistirahatkan sendi-sendi yang sakit dan
mempertahankan posisi netral. Penggunaan brace dapat menurunkan nyeri dan
dapat mengurangi kerusakan pada sendi
·
Mencegah terjadinya kelelahan umum dan
kekakuan sendi. Menstabilkan sendi, mengurangi gerakan/ rasa sakit pada sendi
·
Panas meningkatkan relaksasi otot, dan
mobilitas, menurunkan rasa sakit dan melepaskan kekakuan di pagi hari.
Sensitivitas pada panas dapat dihilangkan dan luka dermal dapat disembuhkan
·
Meningkatkan relaksasi/ mengurangi nyeri
·
Meningkatkan realaksasi, mengurangi tegangan
otot/ spasme, memudahkan untuk ikut serta dalam terapi
·
Sebagai anti inflamasi dan efek analgesik
ringan dalam mengurangi kekakuan dan meningkatkan mobilitas.
·
Rasa dingin dapat menghilangkan nyeri dan
bengkak selama periode akut
|
|
Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan deformitas skeletal,
nyeri, penurunan, kekuatan otot.
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
diharapkan mobilitas fisik baik dengan kriteria :
Ø Mempertahankan
fungsi posisi dengan tidak hadirnya/ pembatasan kontraktur.
Ø Mempertahankan
ataupun meningkatkan kekuatan dan fungsi dari dan/ atau kompensasi bagian
tubuh
Ø Mendemonstrasikan
tehnik/ perilaku yang memungkinkan melakukan aktivitas
|
·
Evaluasi/ lanjutkan pemantauan tingkat
inflamasi/ rasa sakit pada sendi
·
Pertahankan istirahat tirah baring/ duduk jika
diperlukan jadwal aktivitas untuk memberikan periode istirahat yang terus
menerus dan tidur malam hari yang tidak terganmggu.
·
Bantu dengan rentang gerak aktif/pasif,
demikiqan juga latihan resistif dan isometris jika memungkinkan
·
Ubah posisi dengan sering dengan jumlah
personel cukup. Demonstrasikan/ bantu tehnik pemindahan dan penggunaan
bantuan mobilitas, mis, trapeze
·
Posisikan dengan bantal, kantung pasir,
gulungan trokanter, bebat, brace
·
Gunakan bantal kecil/tipis di bawah leher.
·
Dorong pasien mempertahankan postur tegak dan
duduk tinggi, berdiri, dan berjalan
·
Berikan lingkungan yang aman, misalnya
menaikkan kursi, menggunakan pegangan tangga pada toilet, penggunaan kursi
roda.
·
Kolaborasi: konsul dengan fisoterapi.
·
Kolaborasi: Berikan matras busa/ pengubah
tekanan.
·
Kolaborasi: berikan obat-obatan sesuai
indikasi (steroid).
|
·
Tingkat aktivitas/ latihan tergantung dari
perkembangan/ resolusi dari peoses inflamasi
·
Istirahat sistemik dianjurkan selama
eksaserbasi akut dan seluruh fase penyakit yang penting untuk mencegah
kelelahan mempertahankan kekuatan
·
Mempertahankan/ meningkatkan fungsi sendi,
kekuatan otot dan stamina umum. Catatan : latihan tidak adekuat menimbulkan
kekakuan sendi, karenanya aktivitas yang berlebihan dapat merusak sendi
·
Menghilangkan tekanan pada jaringan dan
meningkatkan sirkulasi.
·
Mempermudah perawatan diri dan kemandirian
pasien. Tehnik pemindahan yang tepat dapat mencegah robekan abrasi kulit
·
Meningkatkan stabilitas ( mengurangi resiko
cidera ) dan memerptahankan posisi sendi yang diperlukan dan kesejajaran
tubuh, mengurangi kontraktor
·
Mencegah fleksi leher
·
Memaksimalkan fungsi sendi dan mempertahankan
mobilitas
·
Menghindari cidera akibat kecelakaan/ jatuh
·
Berguna dalam memformulasikan program latihan/
aktivitas yang berdasarkan pada kebutuhan individual dan dalam
mengidentifikasikan alat
·
Menurunkan tekanan pada jaringan yang mudah
pecah untuk mengurangi risiko imobilitas
·
Mungkin dibutuhkan untuk menekan sistem
inflamasi akut
|
|
Gangguan Citra Tubuh / Perubahan Penampilan Peran berhubungan
dengan perubahan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas umum, peningkatan
penggunaan energi, ketidakseimbangan mobilitas.
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
diharapkan gangguan citra tubuh berkurang dengan criteria:
Ø Mengungkapkan
peningkatan rasa percaya diri dalam kemampuan untuk menghadapi penyakit,
perubahan pada gaya hidup, dan kemungkinan keterbatasan
Ø Menyusun
rencana realistis untuk masa depan.
|
·
Dorong pengungkapan mengenai masalah tentang
proses penyakit, harapan masa depan.
·
Diskusikan arti dari kehilangan/ perubahan
pada pasien/orang terdekat. Memastikan bagaimana pandangaqn pribadi pasien
dalam memfungsikan gaya hidup sehari-hari, termasuk aspek-aspek seksual.
·
Diskusikan persepsi pasienmengenai bagaimana
orang terdekat menerima keterbatasan.
·
Akui dan terima perasaan berduka, bermusuhan,
ketergantungan.
·
Perhatikan perilaku menarik diri, penggunaan
menyangkal atau terlalu memperhatikan perubahan
·
Susun batasan pada perilaku mal adaptif. Bantu
pasien untuk mengidentifikasi perilaku positif yang dapat membantu koping
·
Ikut sertakan pasien dalam merencanakan
perawatan dan membuat jadwal aktivitas
·
Bantu dalam kebutuhan perawatan yang
diperlukan
·
Berikan bantuan positif bila perlu.
·
Kolaborasi: Rujuk pada konseling psikiatri,
mis: perawat spesialis psikiatri, psikolog.
·
Kolaborasi: Berikan obat-obatan sesuai
petunjuk, mis; anti ansietas dan obat-obatan peningkat alam perasaan.
|
·
Berikan kesempatan untuk mengidentifikasi rasa
takut/ kesalahan konsep dan menghadapinya secara langsung
·
Mengidentifikasi bagaimana penyakit
mempengaruhi persepsi diri dan interaksi dengan orang lain akan menentukan
kebutuhan terhadap intervensi/ konseling lebih lanjut
·
Isyarat verbal/non verbal orang terdekat dapat
mempunyai pengaruh mayor pada bagaimana pasien memandang dirinya sendiri
·
Nyeri konstan akan melelahkan, dan perasaan
marah dan bermusuhan umum terjadi
·
Dapat menunjukkan emosional ataupun metode
koping maladaptive, membutuhkan intervensi lebih lanjut
·
Membantu pasien untuk mempertahankan kontrol
diri, yang dapat meningkatkan perasaan harga diri
·
Meningkatkan perasaan harga diri, mendorong
kemandirian, dan mendorong berpartisipasi dalam terapi
·
Mempertahankan penampilan yang dapat
meningkatkan citra diri
·
Memungkinkan pasien untuk merasa senang
terhadap dirinya sendiri. Menguatkan perilaku positif. Meningkatkan rasa
percaya diri
·
Pasien/orang terdekat mungkin membutuhkan
dukungan selama berhadapan dengan proses jangka panjang/ ketidakmampuan
·
Mungkin dibutuhkan pada sat munculnya depresi
hebat sampai pasien mengembangkan kemapuan koping yang lebih efektif
|
|
Defisit perawatan diri berhubungan dengan kerusakan
musculoskeletal, penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu bergerak,
depresi.
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
diharapkan klien dapat mengatur kegiatan sehari-hari, dengan criteria hasil:
Ø Melaksanakan
aktivitas perawatan diri pada tingkat yang konsisten dengan kemampuan
individual
Ø Mendemonstrasikan
perubahan teknik/ gaya hidup untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri.
Ø Mengidentifikasi
sumber-sumber pribadi/ komunitas yang dapat memenuhi kebutuhan perawatan
diri.
|
·
Diskusikan tingkat fungsi umum (0-4) sebelum
timbul awitan/ eksaserbasi penyakit dan potensial perubahan yang sekarang
diantisipasi.
·
Pertahankan mobilitas, kontrol terhadap nyeri
dan program latihan.
·
Kaji hambatan terhadap partisipasi dalam
perawatan diri. Identifikasi /rencana untuk modifikasi lingkungan
·
Kolaborasi: Konsul dengan ahli terapi okupasi.
·
Kolaborasi: Atur evaluasi kesehatan di rumah
sebelum pemulangan dengan evaluasi setelahnya, mis: pelayanan perawatan
rumah, ahli nutrisi.
|
·
Mungkin dapat melanjutkan aktivitas umum
dengan melakukan adaptasi yang diperlukan pada keterbatasan saat ini
·
Mendukung kemandirian fisik/emosional
·
Menyiapkan untuk meningkatkan kemandirian,
yang akan meningkatkan harga diri
·
Berguna untuk menentukan alat bantu untuk
memenuhi kebutuhan individual. Mis; memasang kancing, menggunakan alat bantu
memakai sepatu, menggantungkan pegangan untuk mandi pancuran
·
Mengidentifikasi masalah-masalah yang mungkin
dihadapi karena tingkat kemampuan actual
·
Mungkin membutuhkan berbagai bantuan tambahan
untuk persiapan situasi di rumah
|
DAFTAR PUSTAKA
Anderson, Sylvia Price. Pathofisiologi: Konsep
Klinis proses-proses penyakit edisi 6 volume II. ECG. Jakarta : 2006
Herdman, Heather.2010. Diagnosis Keperawatan.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
Mansjoer, arif. Dkk.2009, kapita selekta kedokteran
. Jakarta. Media Aesculapius
Morhead, Sue. 2008. Nursing Outcomes
Classification (NOC). America : Mosby
Mc.Closkey Dochterman, Joanne. 2004. Nursing
Interventions Classification (NIC). America : Mosby
Tidak ada komentar:
Posting Komentar