Selasa, 18 Desember 2018

LAPORAN PENDAHULUAN HERNIA SCROTALIS


LAPORAN PENDAHULUAN
HERNIA SCROTALIS

A.    KONSEP PENYAKIT
1.      Pengertian
Hernia adalah merupakan protusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan. Pada hernia abdomen isi perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari lapisan muskulo apeneurotik dinding perut ( R. Sjamsuhidayat, 2004). Hernia adalah proporsi abdnormal organ jaringan atau bagian organ melalui stuktur yang secara normal berisi bagian ini. Hernia paling sering terjadi pada rongga abdomen sebagai akibat dari kelemahan muskular abdomen konginental atau didapat (Monika Ester, 2004). Hernia adalah menonjolnya suatu organ atau struktur organ dari tempatnya yang normal melalui sebuah defek kongenital atau yang didapat ( Barbara C Long, Hal 246).
Hernia Skrotalis adalah hernia yang keluar dari rongga peritonium melalui anulus inguinalis internus yang terletak lateral dari pembuluh epigastrika inferior kemudian hernia masuk dari anulus ke dalam kanalis dan jika panjang menonjol keluar dari anulus inguinalis eksternum dan sampai ke skrotum ( R. Sjamsuhidayat, 2004).
2.      Etiologi
Penyebab dari timbulnya hernia yaitu dapat berupa:
a.       Kongenital: kanalis inguinalis belum menutup.
b.      Kelemahan dinding abdomen dan peningkatan tekanan intraabdominal yang dapat terjadi karena:
c.       Kehamilan
d.      Obesitas
e.       Mengangkat beban berat
f.       Batuk
g.      Konstipasi
h.      BPH
3.       Patofisiologi
Secara patofisiologi peningkatan tekanan intra abdomen akan mendorong anulus inguinalis internus terdesak. Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali kongenital atau karena yang didapat faktor yang dipandang berperan kausal adalah adanya prosesus vaginalis yang terbuka, dan kelemahan otot dinding perut karena usia. Lebih banyak pada laki- laki dari pada perempuan. Berbagai faktor penyebab berperan pada pembentukan pintu masuk hernia pada Anulus Internus yang cukup besar sehingga dapat dilalui oleh kantong dan isi hernia melewati pintu yang sudah terbuka cukup lebar itu.
Tanda dan gejala klinis dapat ditentukan oleh keadaan isi hernia, pada hernia reponibel keluhan satu-satunya adalah benjolan dilipat paha yang muncul pada saat bediri, batuk, bersin atau mengejan dan menghilang setelah berbaring. Keluhan nyeri biasanya dirasakan di epigastium atau para umbilical berupa nyeri visceral karena regangan pada mesrentium sewaktu, satu segmen usus halus 21 masuk kedalam kantung hernia. Nyeri yang disertai mual atau muntah baru timbul kalau terjadi inkarsesari karena ileus atau strangulasi karena nekrosis ( R. Sjamsuhidayat,2004).
4.      Patway

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiE_cPOTSFWRVhQganZmJe5L4MegcUgik6YU2dSkCEeNhSSHAHX-lH_tdzwJ_9GBamYlRnEn5Z6tKaIWTdKkKj1vG2MfgF9SXqcQ8AJ6zI1yp3n6UWq6oJXLQEU0sMjggdUNcBF-w4tXzc/s1600/Pathway+Hernia+-Fikri+Nabiha-.png
5.      Manifestasi Klinik
a.       Benjolan pada regio iunginale, di atas ligamentum inguinal, yang mengecil bila pasien berbaring.
b.      Bila pasien mengejan atau batuk, mengangkat berat, maka benjolan hernia akan bertambah besar.
c.       Bila isinya terjepit akan menimbulkan perasaan sakit di tempat itu disertai perasaan mual.
d.      Bila terjadi hernia inguinalis strangulata perasaan sakit akan bertambah hebat serta sakit diatasnya menjadi merah dan panas.
e.      Pada laki-laki isi henia dapat mengisi skrotum ( Sjamsuhidayat, 2004; Arif Mansjoer, 2000).
6.      Penatalaksanaan Medis
Pada hernia inguinalis reponibilis dan ireponibilis tidak dapat dilakukan tindakan bedah efektif karena ditakutkan terjadi komplikasi. Sebaliknya bila telah terjadi proses stranglasi tindakan bedah harus dilakukan tindakan secepat mungkin sebelum terjadinya nekrosis usus.
7.      Pemeriksaan Penunjang
a.       Serum elektrolit meningkat.
b.      Leukosit : >10.000 – 18.000 /mm3
c.       Foto sinar X di daerah hernia.
8.      Komplikasi
a.       Terjadi pelekatan antara isi hernia dengan dinding kantong hernia, sehingga isi hernia tidak dapat dimasuki kembali, keadaan ini disebut hernia irrepponsibilis. Pada keadaan ini belum ada gangguan penyaluran isi usus. Isi hernia yang tersering menyebabkan keadaan irreponsibel adalah omentum, karena mudah melekat pada dinding hernia dan isinya dapat menjadi lebih besar karena infiltrasi lemak. Usus besar lebih sering menyebabkan irreponsibel dari pada usus halus.
b.     Terjadi tekanan terhadap cincin hernia akibat makin banyaknya usus yang masuk, keadaan ini menyebabkan gangguan aliran isi usus diikuti dengan gangguan vaskular ( proses strangulasi). Keadaan ini disebut hernia inguinalis strangulata. Pada keadaan strangulata akan timbul gejala ileus, yaitu perut kembung, muntah, dan obstipasi. Pada strangulasi nyeri yang timbul lebih hebat dan kontinyu, daerah benjolan menjadi merah dan pasien menjadi gelisah ( Arif Mansyoer, 2000).
B.     ASUHAN KEPERAWATAN
1.      Pengkajian
a.       Riwayat
b.      Pola Gordon
c.       Pemeriksaan Fisik
d.      Pemeriksaan Penunjang (Diagnostik/ Laboratorium)
2.      Diagnosa Keperawatan
a.       Gangguan rasa Nyaman: Nyeri berhubungan dengan adanya benjolan hernia dengan keluhan sakit pada benjolan hernia.
b.      Resiko infeksi berhubungan dengan peningkatan kerentanan terhadap luka ditandai dengan terdapat luka insisi.
c.       Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya nyeri yang hebat dengan aktivitas dan ke;emahan umum
d.      Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan, kekurangan cairan yang berlebih, muntah pra operasi.
e.       Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri, penyakit, stres psikologi perubahan lingkungan.
f.       Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus sekunder kurang mobilitas, efek- efek anestesi, manipulasi pembedahan, nyeri, efek-efek obat.
3.      Perencanaan Keperawatan
a.       Gangguan rasa Nyaman: Nyeri berhubungan dengan adanya benjolan hernia dengan keluhan sakit pada benjolan hernia.
Tujuan : Nyeri berkurang atau terkontrol.
Kriteria hasil : Tidak merasa sakit, postur tubuh rileks, tidak mengeluh, mampu tidur atau istirahat dengan tepat.
Intervensi :
1.      Kaji dan catat karakteristik nyeri, gunakan skala nyeri dengan pasien, rentangkan ketidaknyamanan dari 0-10, selidiki dan laporkan nyeri dengan tepat.
Rasional : Berguna dalam pengawasan keefektifan obat, kemajuan penyembuhan. Perubahan pada karaikteristik nyeri menunjukkan terjadinya abses atau peritonitis.
Memerlukan upaya evaluasi medik dan intervensi.
2.      Demonstrasikan penggunaan ketrampilan relaksasi seperti napas dalam.
3.      Rasional : Dengan memfokuskan kepada perhatian tertentu, menurunkan ketegangan otot, meningkatkan rasa memiliki dan kontrol atau menurunkan rasa kurang nyaman.
4.      Pertahankan istirahat dengan posisi semifowler.
Rasional : Gravitasi melokalisasi eksudat inflamasi dalam abdomen bawah atau pelvis, menghilangkan ketegangan abdomen yang bertambah dengan terlentang.
5.      Dorong ambulasi dini.
Rasional : Meningkatkan normalisasi fungsi organ.
6.      Beri analgetik sesuai indikasi.
Rasional : Menghilangkan nyeri mempermudah kerjasama dengan intervensi lain (Doengoes, 2000).
b.      Resiko infeksi berhubungan dengan peningkatan kerentanan terhadap luka, peningkatan kerentanan tubuh terhadap bakteri sekunder pembedahan (Doengoes, 2000).
Tujuan : Tidak terjadi infeksi, mengungkapkan pemahaman tentang situasi atau faktor resiko dan aturan pengobatan individual.
Kriteria hasil : Tidak ada tanda-tanda infeksi, klien akan menunjukkan penyembuhan dengan bukti tepi luka utuh, menyatu atau jaringan granulasi.
Intervensi :
1.      Pantau terhadap tanda dan gejala infeksi luka. Peningkatan pembengkakan dan kemerahan, pemisahan luka, peningkatan atau drainase, purulen, peningkatan suhu tubuh
Rasional : Respon jaringan terhadap infiltrasi patogen dengan peningkatan darah dan aliran limfe dimanifestasikan dengan edema, kemerahan dan peningkatan drainase penurunan epitelisasi ditandai dengan pemisahan luka, patogen yang bersikulasi merangsang hipotalamus untuk menaikan suhu tubuh.
2.      Pantau penyembuhan luka Rasional : Luka bedah dengan tepi disatukan oleh jahitan biasanya sembuh dengan proses primer jaringan granulasi tak tampak dan jaringan pembentukan parut minimal.
3.      Lakukan langkah untuk mencegah infeksi: cuci tangan sebelum dan sesudah mengganti balutan, gunakan sarung tangan sampai luka tetutup
Rasional : Tindakan ini membantu mencegah masuknya mikro organisme kedalam luka.
4.      Ganti balutan atau perban sesuai aturan dengan menggunakan teknik aseptik
Rasional : Perban atau balutan yang lembab merupakan media kultur untuk pertumbuhan bakteri, dengan mengikuti teknik aseptik akan mengurangi resiko kontaminasi bakteri.
5.      Beritahu dokter jika luka tampak merah dan bernanah, pemisahan ujung luka, luka sangat lembek, jumlah leuklosit diatas normal, ambil contoh luka untuk tes kultur dan sensitifitas.
Rasional : Keadaan tersebut mengidentifikasi infeksi luka kultur mambantu mengidentifikasi milkroorganisme yang menyebabkan infeksi sehingga ditentukan terapi antibiotik yang tepat. Laboratorium tentang sensitifitas akan mengidentifikasi antibiotik yang efektif melawan organisme tersebut.
6.      Berikan antipiretik jika terdapat demam
Rasional : Antipiterik memperbaiki mekanisme termostatik dalam otak untuk mengatasi demam.
7.      Beri perawatan perineal dua kali sehari sesuai prosedur ketika kateter foley mulai dipasang, setelah kateter di lepas laporkan masalah berkemih (terbakar, sakit, keluar sedikit dorongan, sering dengan jumlah yang sedikit).
Rasional : Membersihakan bagian genital membantu mengurangi jumlah bakteri yang lewat. Kerusakan saluran kencing dan infeksi adalah masalah utama yang berhubungan dengan kateter menetap dalam kandung kemih.
c.       Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya nyeri yang hebat dengan aktivitas ditandai dengan laporan verbal kelemahan, kelemahan, keletihan disepnea karena kerja, takitnea, takhikardi sebagai respon terhadap aktifitas, terjadinya atau memburuknya pucat atau sianosis.
Tujuan : Kelemahan fisik dapat teratasi
Kriteria hasil : Melaporkan atau menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktifitas yang dapat diukur dengan tidak adanya disepnea, kelemahan berlebihan dan tanda vital dalam batas normal.
Intervensi :
1.      Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas, catat laporandipsnea,peningkatan kelemahan atau kelemahan dan perubahan tanda vital selama dan setelah aktifitas.
Rasional : Menetapkan kemampuan atau kebutuhan pasien dengan memudahkan pilihan intervensi.
2.      Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi. Dorong penggunaan manajemen stress dan pengalihan yang tepat.
Rasional : menuntunkan stres dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat.
3.      Menjelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktifitas dan istirahat.
Rasional : Tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan metabolik, menghemat energi untuk penyembuhan. Pembatasan aktifitas ditentukan dengan respon individual pasien terhadap aktifitas dan perbaikan kegagalan pernafasan.
4.      Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat dan tidur.
Rasional : Pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi, tidur di kursi atau menunduk ke depan meja atau bantal.
5.      Bantuan aktifitas perawatan diri yang diperlukan. Berikan kemajuan peningkatan aktifitas selama fase penyembuhan.
Rasional : Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen. (Doenges, 2000).
d.      Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan, kekurangan cairan yang berlebih, muntah pra operasi, pembatasan pemasukan cairan secara oral. (Doengoes, 2000).
Tujuan : Mengembalikan keseimbangan cairan.
Kriteria hasil : Mempertahankan keseimbangan cairan dibuktikan oleh tidak adanya perdarahan, berat badan dan tanda vital stabil, turgor kulit baik, membran mukosa lembab.
Intervensi:
1.      Monitor pemasukan dan pengeluaran cairan
Rasional : Indikator dehidrasi organ dan pedoman untuk penggantian cairan.
2.      Monitor tanda- tanda vital
Rasional : Tanda-tanda vital awal hemoragi yang menyebabkan syok hipovolemik.
3.      Kaji tanda-tanda kekurangan volume cairan
Rasional : Indikator keadekuatan sirkulasi perifer
4.      Berikan cairan parentral sesuai indikasi.
Rasional : Mengganti cairan yang keluar.
5.      Cek pemeriksaan Hb dan Ht
Rasional : Indikator hidrasi sirkulasi
e.       Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri, penyakit, stress psikologi, perubahan lingkungan, rutinitas fasilitas (Carpenito, 2001).
Tujuan : Istirahat dan tidur kembali optimal
Kriteria hasil: Melaporkan keesimbangan optimal dan istirahat dan aktivitas.
Intervensi:
1.      Kaji pola tidur biasanya dan yang terjadi
Rasional : Mengkaji perlunya dan mengidentifikasi intervensi yang tepat.
2.      Dorong beberapa aktivtas fisik ringan selama siang hari dan berhenti beraktifitas beberapa saat sebelum tidur.
Rasional : aktivitas siang hari dapat membantu pasien menggunakan energy dan siap untul tidur malam hari. Namun kelanjutan aktivitas yang dekat dengan waktu tidur dapat bertindak sebagai stimulan, yang memperlambat tidur
3.      Berikan posisi yang nyaman, bantu mengubah posisi
Rasional : Pengubahan posisi mengubah area tekanan dan meningkatkan istirahat
4.      Tingkatkan kenyamanan waktu tidur.
Rasional : Meningkatkan efek relaksasi
f.       Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus sekunder kurang mobilitas, efek – efek anestesi, manipulasi pembedahan, nyeri, efek-efek obat (Doengoes, 2000)
Tujuan : Klien kembali eliminasi dengan normal
Kriteria hasil : menetapkan, mempertahankan eliminasi yang normal
Intervensi :
1.      Pastikan pola defekasi yang biasa dan bantu menggunakannya
Rasional: Tentukan luasnya masalah dan indikasi kebutuhan tipe intervensi yang sesuai
2.      Mulai program latihan, istirahat dan diit individu dan latihan ulang usus
Rasional: Kehilangan tonus muskuler akan mengurangi peristaltik dan dapat merusak kontrol spihingter rectal.
3.      Berikan diit dengan kadar serat tinggi
Rasional: Meningkatkan konsentrasi feses, meningkatkan pengeluaran feses
4.      Kurangi/ batasi makanan seperti produk susu
Rasional: Ini diketahui sebagai penyebab konstipasi
5.      Dorong peningkatan masukan cairan
Rasional: Tingkatkan konsistensi feses normal.


Daftar Pustaka

Sjamsuhidajat, R & Wim, de Jong (ed). 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta. Media Aesculapius
Doenges, E. M, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan (Terjemahan), Edisi 3, Jakarta: EGC.
Carpenito, L. J. (2001). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Terjemahan oleh Monica Ester. Jakarta: EGC.
Long, B. C. (1996). Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Keperawatan). Bandung: Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran.
Ester, M. 2002, Keperawatan Medikal Bedah, EGC. Jakarta


Tidak ada komentar:

Posting Komentar