LAPORAN PENDAHULUAN
CEDERA
KEPALA RINGAN (CKR)
A. Konsep Cedera Kepala Ringan (CKR)
1.
Definisi
Cedera kepala merupakan
salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia produktif
dan sebagian besar terjadi akibat kecelakaan lalu lintas (Mansjoer, 2007). Cedera
kepala adalah cedera kepala yang mengenai kulit kepala, tengkorak dan otak.
Dapat mengakibatkan suatu abrasi, kontusio atau avulsi serta kelainan
neurologis yang serius (Baughman, 2000).
Trauma
atau cedera kepala atau cedera otak adalah gangguan fungsi normal otak karena trauma baik trauma
tumpul maupun tajam (batticaca, 2008). Trauma kepala adalah suatu trauma yang
mengenai daerah kulit kepala, tulang tengkorak atau otak yang terjadi akibat
injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada kepala. (Suriadi &
Rita Yuliani, 2001).
Trauma atau cedera
kepala adalah di kenal sebagai cedera otak gangguan fungsi normal otak karena
trauma baik trauma tumpul maupun trauma tajam. Defisit neurologis terjadi
karena robeknya substansia alba, iskemia, dan pengaruh masa karena hemoragik,
serta edema serebral di sekitar jaringan otak. (Batticaca Fransisca, 2008, hal
96).
Cedera kepala ringan
merupakan bentuk trauma dimana terjadi pingsan (kurang dari 10 menit), gejala
lain mungkin pusing, noda-noda didepan mata dan linglung. Commotio serebri
tidak meninggalkan gejala sisa / menyebabkan kerusakan struktur otak (Mansjoer,
2007). Cedera
kepala ringan adalah hilangnya fungsi neurology atau menurunnya kesadaran tanpa
menyebabkan kerusakan lainnya (Smeltzer, 2001). Cidera kepala ringan adalah cedara otak karena
tekanan atau kejatuhan benda tumpul (Bedong, M.A, 2001).
2.
Etiologi
Kebanyakan cedera kepala
merupakan akibat salah satu dari kedua mekanisme dasar yaitu kontak bentur / guncangan lanjut. Cidera kontak bentuk terjadi bila
kepala membentur obyek yang relatif tidak bergerak seperti badan mobil atau
tanah dikenal dengan cidera perlambatan (decelerasi). Guncangan lanjut dikenal
dengan cidera percepatan (acelerasi), merupakan peristiwa guncangan kepala yang
hebat terjadi jika benda yang sedang bergerak membentur kepala yang diam
seperti trauma akibat pukulan benda tumpul / karena kena lemparan benda tumpul
(Mansjoer, 2007)
3.
Patofisiologi
Cedera kepala yang
diakibatkan oleh benturan yang mengakibatkan kerusakan sel otak, fraktur, luka
robek / lecet. Kerusakn sel otak
dapat mengakibatkan gangguan autoregulasi yang menyebankan aliran darah yang
menuju ke otak menurun dan asam laktat meningkat yang mengakibatkan oedem otak
mak terjadi perubahan perfusi jaringan, selain itu oedem otak dapat menyebabkan
peningkatan TIK yang dapat menyebabkan nyeri kepala dan kelemahan sehingga
terjadi kurang perawatan diri dan keterbatasan aktivtas / intoleran aktivitas.
Sedangkan fraktur / luka robek / lecet dapat menyebabkan kerusakan integritas
jaringan dan resiko infeksi pada luka robek tersebut
(Baughman, 2000).
Pathway


Sumber : Mansjoer 2007
4.
Manifestasi
Klinik
Gejala-gejala yang
sering muncul (Mansjoer, 2007)
:
a. Penurunan tingkat
kesadaran
b. Nyeri kepala
c. Muntah
d. Hemiparesis
e. Dilatasi pupil
f. Penurunan nadi
g. Peningkatan suhu
h. Kejang
i.
Komplikasi
j.
Hemiplegia
k. Oedema otak
5.
Pemeriksaan Penunjang
a. CT scan
b. MRI
c. Angiografi
d. EKG
e. Sinar - X
f. Pemeriksaan toksikologi
g. BAER (Brain Auditory
Evoked Tomography)
h. PET (Positron Emission
Tomography)
i.
Pungsi lumbal, CSS
j.
GDA (Gas Darah Arteri)
k. Kimia / elektrolit darah
l.
Kadar anti konvulsan darah
6.
Penatalaksanaan Medis (Nanda 2012)
a.
Pedoman resusitasi dan penilaian awal
b.
Menilai jalan nafas : bersihkan jalan nafas dari debris dan
muntahan
c.
Menilai sirkulasi : frekuensi denyut jantung, tekanan darah
d.
Obati kejang : kejang konvulsi dapat terjadi dan harus diobati
e.
Menilai tingkat keparahan (GCS)
f.
Pedoman penatalaksanaan
g.
Foto tulang belakang, kolar servikal
h.
Cairan IV (NaCl 0,9 % / NS / RL), pemeriksaan darak
i.
CT scan
j.
Pada pasien dengan GCS kurang, elevasi kepala 300,
hiperventilasi, manitol 20 % 1 gr/kg IV, pasang folley catheter, konsul bedah
saraf
k.
Penatalaksanaan khusus cedera kepala ringan
l.
Pasien umumnya dapat dipulangkan kerumah tanpa pemeriksaan CT scan
bila pemeriksaan neurologis dalam batas normal, foto servikal normal, adanya
orang yang bertanggung jawab
B. Asuhan Keperawatan
1.
Pengkajian
a. Anamnesa
1) Kapan cedera kepala
tersebut terjadi ?
2)
Adakah perdarahan yang hebat yang perlu ditangani segera ?
3)
Adakah terjadi fraktur pada tengkorak kepala ?
4)
Adakah terjadi penurunan kesadaran ?
5) Sudah berobat kemanakah
sebelum dibawa kerumah sakit ?
b. Pemeriksaan fisik
1) Aktifitas atau istirahat
Gejala : Merasa lemah, lelah, kaku, hilang
keseimbangan
Tanda : Perubahan kesadaran, letargi, hemiparese,
quadreplegia, ataksia, caraberjalan yang tidak tegap, masalah dalam
keseimbangan, cedera / trauma ortopedi, kehilangan tonus otot, otot spastik
2) Sirkulasi
Gejala : Perubahan tekanan darah / normal
(hipertensi), perubahan frekuensi jantung
3) Integritas ego
Gejala : Perubahan tingkah laku / kepribadian
Tanda : Cemas, mudah tersinggung, delirium, agitasi,
bingung, depresi/ impulsif
4) Eliminasi
Gejala : Inkontinensia kandung kemih / usus mengalami
gangguan fungsi
5) Makanan atau cairan
Gejala : Mual, muntah, dan mengalami perubahan selera
Tanda : Muntah (mungkin proyektil), gangguan menelan
(buntu, air liur keluar, disfagia)
6) Neuro sensori
Gejala : Kehilangan kesadaran sementara, amnesia
seputar kejadian, vertigo, sinkope, kehilangan pendengaran, perubahan dalam
penglihatan, gangguan pengucapan dan penciuman
Tanda : Perubahan kesadaran bisa sampai koma,
perubahan status mental, perubahan pupil, kehilangan penginderaan, sangat sensitif
terhadap sentuhan dan gerakan
7) Nyeri atau kenyamanan
Gejala : Sakit kepala dengan intensitas dan lokasi
yang berbeda
Tanda : Wajah menyeringai, respon menarik pada rangsangan nyeri yang hebat,
gelisah, tidak bisa istirahat, merintih
8) Pernapasan
Gejala : Perubahan pola nafas, nafas berbunyi,
stridor, ronchi, tersedak, mengi positif
9) Keamanan
Gejala : Trauma baru / trauma karena kecelakaan
Tanda : Fraktur / dislokasi, gangguan penglihatan,
kulit laserasi, abrasi, gangguan rentang gerak, tonus otot hilang, demam,
gangguan dalam regulasi tubuh
10) Interaksi sosial
Gejala :Afasia motorik / sensorik, bicara tanpa arti,
bicara berulang-ulang, disatria, anemia
2.
Diagnosa Keperawatan
a.
Gangguan rasa nyaman (nyeri kepala) berhubungan dengan peningkatan
TIK
b.
Kurang perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik sekunder
terhadap peningkatan TIK
c.
Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan pertahanan primer
3.
Perencanaan
Keperawatan (tujuan dan kriteria hasil menggunakan pendekatan NOC,
intervensi menggunakan pendekatan NIC)
RENCANA
KEPERAWATAN
|
|||
|
NO DX
|
DIANGOSA
KEPERAWATAN DAN KOLABORASI
|
TUJUAN
(NOC)
|
INTERVENSI
(NIC)
|
|
1
|
Gangguan rasa nyaman (nyeri kepala) berhubungan dengan
peningkatan TIK
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, Gangguan
rasa nyaman (nyeri kepala) berhubungan dengan peningkatan TIK dapat tertasi dengan criteria hasil :
-
|
- Observasi tanda-tanda
vital tiap 4 jam
- Ciptakan lingkungan
yang nyaman
- Anjurkan pasien untuk
bedrest
- Anjurkan pada pasien
untuk tidak memakai bantal untuk tidur
- Kolaborasi dengan
dokter dalam pemberian obat
|
|
2
|
Kurang perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik
sekunder terhadap peningkatan TIK
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, devisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik sekunder terhadap
peningkatan TIK dapat tertasi dengan criteria hasil :
-
Mengidentifikasi kemauan dalam aktivitas perawatan diri
- Menunjukkan kebersihan
optimal sesudah perawatan dengan dibantu
- Berpartisipasi secara
fisik / verbal dalam makan, berpakaian, toileting dan mandi
|
- Kaji faktor penyebab
atau penunjang
- Berikan gosokan
perlahan pada kulit saat mandi
- Bantu aktivitas
(mandi, toileting, berpakaian)
- Observasi kebersihan
tubuh pasien
|
|
3
|
Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan pertahanan primer
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, Resiko
infeksi berhubungan dengan kerusakan pertahanan primer dapat tertasi dengan
criteria hasil :
- Mendemonstrasikan
tehnik mencuci tangan yang tepat saat pulang
- Melaksanakan tindakan
pencegahan yang sesuai untuk mencegah infeksi
- Tidak mengeluh demam,
nyeri
|
- Observasi keadaan luka
- Pantau suhu tubuh tiap
4 jam
- Berishkan luka dengan
tehnik aseptik
- Kolaborasi dengan
dokter untuk memeriksakan kadar WBC
-
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotik
|
DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer,Arif dkk.2007. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 3.
Jakarta.EGC
Nanda, 2012, diagnose Keperawatan,Jakarta,EGC
Baughman, C. Diane &
Hackley John,2000, Keperawatan
Medikal bedah Buku Saku untuk Brunner dan Suddarth, Edisi 1, Alih bahasa :
Yasmin Asih, Editor Monica Ester, Jakarta : EGC
Bedong, M.A, 2001. Cedera
Jaringan Otak : Pengenalan dan Kemungkinan Penetalaksanaannya.
Jakarta : EGC
Suzanne, C. Smeltzer. (2001). Keperawatan medikal bedah, edisi 8.
Jakarta : EGC
Suriadi & Rita Yuliani. Asuhan Keperawatan Pada Anak, Edisi I. Jakarta: CV Sagung Seto;
2001.
Batticaca Fransisca B, 2008, Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan,
Jakarta : Salemba Medika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar