Selasa, 18 Desember 2018

LAPORAN PENDAHULUAN CEDERA KEPALA RINGAN (CKR)


 LAPORAN PENDAHULUAN
CEDERA KEPALA RINGAN (CKR)


A.    Konsep Cedera Kepala Ringan (CKR)
1.      Definisi
Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia produktif dan sebagian besar terjadi akibat kecelakaan lalu lintas (Mansjoer, 2007). Cedera kepala adalah cedera kepala yang mengenai kulit kepala, tengkorak dan otak. Dapat mengakibatkan suatu abrasi, kontusio atau avulsi serta kelainan neurologis yang serius (Baughman, 2000).
Trauma atau cedera kepala atau cedera otak adalah gangguan fungsi normal otak karena trauma baik trauma tumpul maupun tajam (batticaca, 2008). Trauma kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala, tulang tengkorak atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada kepala. (Suriadi & Rita Yuliani, 2001).
Trauma atau cedera kepala adalah di kenal sebagai cedera otak gangguan fungsi normal otak karena trauma baik trauma tumpul maupun trauma tajam. Defisit neurologis terjadi karena robeknya substansia alba, iskemia, dan pengaruh masa karena hemoragik, serta edema serebral di sekitar jaringan otak. (Batticaca Fransisca, 2008, hal 96).
Cedera kepala ringan merupakan bentuk trauma dimana terjadi pingsan (kurang dari 10 menit), gejala lain mungkin pusing, noda-noda didepan mata dan linglung. Commotio serebri tidak meninggalkan gejala sisa / menyebabkan kerusakan struktur otak (Mansjoer, 2007). Cedera kepala ringan adalah hilangnya fungsi neurology atau menurunnya kesadaran tanpa menyebabkan kerusakan lainnya (Smeltzer, 2001). Cidera kepala ringan adalah cedara otak karena tekanan atau kejatuhan benda tumpul (Bedong, M.A, 2001).
2.      Etiologi
Kebanyakan cedera kepala merupakan akibat salah satu dari kedua mekanisme dasar yaitu kontak bentur / guncangan lanjut. Cidera kontak bentuk terjadi bila kepala membentur obyek yang relatif tidak bergerak seperti badan mobil atau tanah dikenal dengan cidera perlambatan (decelerasi). Guncangan lanjut dikenal dengan cidera percepatan (acelerasi), merupakan peristiwa guncangan kepala yang hebat terjadi jika benda yang sedang bergerak membentur kepala yang diam seperti trauma akibat pukulan benda tumpul / karena kena lemparan benda tumpul (Mansjoer, 2007)
3.      Patofisiologi
Cedera kepala yang diakibatkan oleh benturan yang mengakibatkan kerusakan sel otak, fraktur, luka robek / lecet. Kerusakn sel otak dapat mengakibatkan gangguan autoregulasi yang menyebankan aliran darah yang menuju ke otak menurun dan asam laktat meningkat yang mengakibatkan oedem otak mak terjadi perubahan perfusi jaringan, selain itu oedem otak dapat menyebabkan peningkatan TIK yang dapat menyebabkan nyeri kepala dan kelemahan sehingga terjadi kurang perawatan diri dan keterbatasan aktivtas / intoleran aktivitas. Sedangkan fraktur / luka robek / lecet dapat menyebabkan kerusakan integritas jaringan dan resiko infeksi pada luka robek tersebut (Baughman, 2000).

Pathway
Description: G:\ckr.jpg
Sumber : Mansjoer 2007
4.      Manifestasi Klinik
Gejala-gejala yang sering muncul (Mansjoer, 2007) :
a.       Penurunan tingkat kesadaran
b.      Nyeri kepala
c.       Muntah
d.      Hemiparesis
e.       Dilatasi pupil
f.       Penurunan nadi
g.      Peningkatan suhu
h.      Kejang
i.        Komplikasi
j.        Hemiplegia
k.      Oedema otak
5.      Pemeriksaan Penunjang
a.       CT scan
b.      MRI
c.       Angiografi
d.      EKG
e.       Sinar - X
f.       Pemeriksaan toksikologi
g.      BAER (Brain Auditory Evoked Tomography)
h.      PET (Positron Emission Tomography)
i.        Pungsi lumbal, CSS
j.        GDA (Gas Darah Arteri)
k.      Kimia / elektrolit darah
l.        Kadar anti konvulsan darah

6.      Penatalaksanaan Medis (Nanda 2012)
a.       Pedoman resusitasi dan penilaian awal
b.      Menilai jalan nafas : bersihkan jalan nafas dari debris dan muntahan
c.       Menilai sirkulasi : frekuensi denyut jantung, tekanan darah
d.      Obati kejang : kejang konvulsi dapat terjadi dan harus diobati
e.       Menilai tingkat keparahan (GCS)
f.       Pedoman penatalaksanaan
g.      Foto tulang belakang, kolar servikal
h.      Cairan IV (NaCl 0,9 % / NS / RL), pemeriksaan darak
i.        CT scan
j.        Pada pasien dengan GCS kurang, elevasi kepala 300, hiperventilasi, manitol 20 % 1 gr/kg IV, pasang folley catheter, konsul bedah saraf
k.      Penatalaksanaan khusus cedera kepala ringan
l.        Pasien umumnya dapat dipulangkan kerumah tanpa pemeriksaan CT scan bila pemeriksaan neurologis dalam batas normal, foto servikal normal, adanya orang yang bertanggung jawab

B.     Asuhan Keperawatan
1.      Pengkajian
a.       Anamnesa
1)      Kapan cedera kepala tersebut terjadi ?
2)      Adakah perdarahan yang hebat yang perlu ditangani segera ?
3)      Adakah terjadi fraktur pada tengkorak kepala ?
4)      Adakah terjadi penurunan kesadaran ?
5)      Sudah berobat kemanakah sebelum dibawa kerumah sakit ?
b.      Pemeriksaan fisik
1)      Aktifitas atau istirahat
Gejala  : Merasa lemah, lelah, kaku, hilang keseimbangan
Tanda  : Perubahan kesadaran, letargi, hemiparese, quadreplegia, ataksia, caraberjalan yang tidak tegap, masalah dalam keseimbangan, cedera / trauma ortopedi, kehilangan tonus otot, otot spastik
2)      Sirkulasi
Gejala  : Perubahan tekanan darah / normal (hipertensi), perubahan frekuensi jantung
3)      Integritas ego
Gejala  : Perubahan tingkah laku / kepribadian
Tanda  : Cemas, mudah tersinggung, delirium, agitasi, bingung, depresi/ impulsif
4)      Eliminasi
Gejala  : Inkontinensia kandung kemih / usus mengalami gangguan fungsi
5)      Makanan atau cairan
Gejala  : Mual, muntah, dan mengalami perubahan selera
Tanda  : Muntah (mungkin proyektil), gangguan menelan (buntu, air liur keluar, disfagia)


6)      Neuro sensori
Gejala  : Kehilangan kesadaran sementara, amnesia seputar kejadian, vertigo, sinkope, kehilangan pendengaran, perubahan dalam penglihatan, gangguan pengucapan dan penciuman
Tanda  : Perubahan kesadaran bisa sampai koma, perubahan status mental, perubahan pupil, kehilangan penginderaan, sangat sensitif terhadap sentuhan dan gerakan
7)      Nyeri atau kenyamanan
Gejala  : Sakit kepala dengan intensitas dan lokasi yang berbeda
Tanda  : Wajah menyeringai, respon  menarik pada rangsangan nyeri yang hebat, gelisah, tidak bisa istirahat, merintih
8)      Pernapasan
Gejala  : Perubahan pola nafas, nafas berbunyi, stridor, ronchi, tersedak, mengi positif
9)      Keamanan
Gejala  : Trauma baru / trauma karena kecelakaan
Tanda  : Fraktur / dislokasi, gangguan penglihatan, kulit laserasi, abrasi, gangguan rentang gerak, tonus otot hilang, demam, gangguan dalam regulasi tubuh
10)  Interaksi sosial
Gejala  :Afasia motorik / sensorik, bicara tanpa arti, bicara berulang-ulang, disatria, anemia

2.      Diagnosa Keperawatan
a.       Gangguan rasa nyaman (nyeri kepala) berhubungan dengan peningkatan TIK
b.      Kurang perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik sekunder terhadap peningkatan TIK
c.       Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan pertahanan primer


3.      Perencanaan Keperawatan (tujuan dan kriteria hasil menggunakan pendekatan NOC, intervensi menggunakan pendekatan NIC)


RENCANA KEPERAWATAN
NO DX
DIANGOSA KEPERAWATAN DAN KOLABORASI
TUJUAN (NOC)
INTERVENSI (NIC)
1
Gangguan rasa nyaman (nyeri kepala) berhubungan dengan peningkatan TIK
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, Gangguan rasa nyaman (nyeri kepala) berhubungan dengan peningkatan TIK dapat tertasi dengan criteria hasil :
-        
-       Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam
-       Ciptakan lingkungan yang nyaman
-       Anjurkan pasien untuk bedrest
-       Anjurkan pada pasien untuk tidak memakai bantal untuk tidur
-       Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat
2
Kurang perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik sekunder terhadap peningkatan TIK
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, devisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik sekunder terhadap peningkatan TIK dapat tertasi dengan criteria hasil :
-       Mengidentifikasi kemauan dalam aktivitas perawatan diri
-       Menunjukkan kebersihan optimal sesudah perawatan dengan dibantu
-       Berpartisipasi secara fisik / verbal dalam makan, berpakaian, toileting dan mandi
-       Kaji faktor penyebab atau penunjang
-       Berikan gosokan perlahan pada kulit saat mandi
-       Bantu aktivitas (mandi, toileting, berpakaian)
-       Observasi kebersihan tubuh pasien
3
Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan pertahanan primer
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan pertahanan primer dapat tertasi dengan criteria hasil :
-       Mendemonstrasikan tehnik mencuci tangan yang tepat saat pulang
-       Melaksanakan tindakan pencegahan yang sesuai untuk mencegah infeksi
-       Tidak mengeluh demam, nyeri
-       Observasi keadaan luka
-       Pantau suhu tubuh tiap 4 jam
-       Berishkan luka dengan tehnik aseptik
-       Kolaborasi dengan dokter untuk memeriksakan kadar WBC
-       Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotik




DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer,Arif dkk.2007. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 3. Jakarta.EGC
Nanda, 2012, diagnose Keperawatan,Jakarta,EGC
Baughman, C. Diane & Hackley John,2000, Keperawatan Medikal bedah Buku Saku untuk Brunner dan Suddarth, Edisi 1, Alih bahasa : Yasmin Asih, Editor Monica Ester, Jakarta : EGC
Bedong, M.A, 2001. Cedera Jaringan Otak : Pengenalan dan Kemungkinan Penetalaksanaannya. Jakarta : EGC
Suzanne, C. Smeltzer. (2001). Keperawatan medikal bedah, edisi 8. Jakarta : EGC
Suriadi & Rita Yuliani. Asuhan Keperawatan Pada Anak, Edisi I. Jakarta: CV Sagung Seto; 2001.
Batticaca Fransisca B, 2008, Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan, Jakarta : Salemba Medika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar